Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Kepergian-nya#Part 2


__ADS_3

"Ci-Cioo.. hiks.. Cio tega ninggalin Acha.. Cio ninggalin kita.. hiks hikss.." isakannya kembali terdengar.


Deggg


Seakan jantung mereka berempat berhenti berdetak. Tak percaya dengan apa yang baru saja Acha ucapkan.


"Ka-kamu sekarang ada dimana??" ucap Rega gemetar. Sedangkan Papa Edwin, Alvin, dan Vina masih terdiam syok.


"Se-sekarang A-Acha ada di Ru-mah Sakit J, hiks hikss.. Cioo.." jawabnya terisak.


"Acha tenang dulu,, jangan nangis. Kakak sama Papa langsung otw sekarang juga. Kamu tunggu ya," Rega pun mengakhiri telponnya, dan langsung menoleh ke Papa nya. Pandangannya kosong, matanya berkaca-kaca, namun enggan untuk ditumpahkannya.


Sedangkan Vina sudah menangis dari tadi, Alvin pun mencoba menenangkan saudari kembarnya itu.


"Ayo, Pa!" ujar Rega menyadarkan Papa nya.


"Ki-kita ikut ya, Kak?!" pinta Alvin dan Vina.


"Nggak usah, kalian di rumah aja, ya? Nanti kakak pasti pulang, bareng Kak Acha sama Kak Cio.. Oke??" bujuk Rega menenangkan adiknya.


"Kak Cio nggak akan kenapa-napa, kan, Kak?? Kak Cio pasti baik-baik aja kan Kak?" ujar Vina disela tangisannya.


Mulut Rega gemetar, tak bisa menjawab adiknya itu. Perasaan nya saat ini mengatakan hal buruk telah terjadi. Namun cepat-cepat ia membuang semua pikiran itu. Ia menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Kita doain aja, ya? Semoga Kak Cio nggak papa, hm?" ujar Rega positif thinking.


"Kalo gitu kakak sama Papa berangkat dulu, ya..kasihan Kak Acha sama Kak Cio pasti udah nunggu kita," lanjutnya dan segera mengajak Papa Edwin menuju mobilnya.


"Biar Rega yang nyetir, Pa," Rega pun langsung menuju ke bangku kemudi. Sedangkan Papa Edwin duduk di sebelahnya. Rega tahu saat ini Papa nya sedang sangat syok. Ia pun juga begitu. Tapi ia mencoba untuk tabah, demi menguatkan keluarganya juga.


Rega melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di Rumah Sakit J. Mereka segera turun dari mobil.


Rumah sakit saat ini sangat ramai, banyak ambulance yang datang dan pergi membawa para korban kecelakaan beruntun tadi.


Tampak Acha yang telah menunggu mereka di depan pintu masuk rumah sakit dengan masih memakai seragamnya. Wajahnya tampak sembab, tangannya berlumuran darah, bahkan seragamnya yang putih juga tampak banyak noda darah.


Acha yang melihat kedatangan Rega dan Papa nya langsung berlari memeluk Papa nya.


"Cio.. Cio, Pa..." tangisnya kembali pecah.


"Gimana, Cio?? Cio nggak papa, kan, Cha??" Papa Edwin langsung memegang kedua pundak Acha, menatap Acha penuh harap.


Acha tak menjawab, tangisannya malah semakin menjadi-jadi. Kakinya kembali lemas, kini ia terduduk.

__ADS_1


"Farasya Rena Raharja! Jawab Papa!!" teriak Papa Edwin memegang pundak Acha makin erat.


Acha menggeleng dalam tangisnya. "Ci-Cio.. udah per-gii.. hiks.. hikss.."


Seketika kaki Papa Edwin lemas, ia terduduk di hadapan Acha. Pikirannya kalut, tak mampu berpikir lagi. Sedangkan Rega yang mendengar ucapan Acha tak percaya, tubuhnya gemetar.


"Jangan bohong, Cha!! Mung-mungkin itu buk-bukan Cio!!" Rega tergagap tak percaya.


"Dimana dia sekarang?? Kamu mungkin tadi salah liat! Ayo kita pastiin dulu!!" seru Rega dan segera membantu Papa Edwin dan Acha berdiri.


Dengan masih terus terisak, Acha menuntun mereka berdua menuju ke sebuah ruang jenazah.


Sesampainya, mereka bertiga terdiam di depan pintu. "Huufftt.." Rega menghembuskan napasnya perlahan. Dengan tangan gemetar, Rega membuka pintu ruangan tersebut.


Mata mereka bertiga tertuju pada sosok yang terbaring di atas sebuah brankar, dengan kain putih menutup seluruh tubuhnya.


Jantung ketiganya berdegup kencang. Acha masih di depan pintu, semakin menangis. Sedangkan Rega dan Papa Edwin langsung berjalan mendekati brankar tersebut.


Tangan Papa Edwin tergerak maju. Perlahan kain putih itu ditarik, menampakkan sosok dibalik kain itu.


Jederrr..


Kaki Papa Edwin lemas bagai tak memiliki tulang, seketika beliau langsung ambruk. Tangan dan kakinya gemetar hebat.


Rega yang melihat adiknya terbaring tak bernyawa, seketika tak mampu menahan air matanya lagi. Ia langsung memeluk tubuh pucat Cio. Menangisi adik yang sangat ia sayangi itu.


Acha yang mendengar tangisan itu pun kembali lemas, dirinya terduduk di lantai dengan bersandar pada pintu ruang tersebut. "Cioo.. Cio.." racau Acha.


"Cio.."


Suara tangisan memenuhi ruangan tersebut. Bahkan Papa Edwin pun tak mampu untuk menahan air matanya agar tidak keluar.


.


.


Lima belas menit sudah mereka menangisi tubuh tak bernyawa Cio. Tiba-tiba terdengar pintu ruang tersebut diketuk.


Tok tok tok


Acha yang masih terisak di depan pintu pun membukakan pintu tersebut. Tampaklah dua orang berseragam polisi, seumuran dengan Papa Edwin.


"Benar dengan keluarga saudara Falencio Reno Raharja?" tanya salah seorang polisi tersebut.

__ADS_1


Mendengar nama Cio dipanggil, sontak Papa Edwin dan Rega pun menoleh dan mendekat ke kedua polisi tersebut.


"Ya benar," jawab Papa Edwin dengan suara seraknya.


"Maaf mengganggu. Kami datang kesini untuk menyerahkan beberapa barang milik saudara Falencio yang tertinggal di TKP." ucap polisi tadi sembari memberikan sebuah kardus yang agak besar.


Dengan tangan gemetar, Acha menerima kardus tersebut. Perlahan ia membukanya. Ditatapnya isi kardus tersebut, yang tak lain adalah tas, HP, dan sepatu yang hanya sebelah.


Wajah Cio kembali terbayang di pikiran Acha. Acha mengambil tas milik Cio, memeluknya erat, dan kembali menangis.


"Saat ini pihak kepolisian tengah menyelidiki penyebab terjadinya kecelakaan maut sore tadi. Dan kami turut berduka atas meninggalnya putra bapak, semoga bapak dan keluarga diberikan ketabahan untuk menerima kenyataan ini." ucap polisi itu tulus.


"Terima kasih, Pak," balas Papa Edwin.


"Kalau begitu kami permisi," kedua polisi itu pun pergi dari ruangan tersebut.


Tak lama, seorang perawat pun datang. "Permisi, Pak, apakah jenazah akan di antar ke rumah duka sekarang??" tanya perawat itu, yang tak lain adalah perawat yang menenangkan Acha tadi.


"Iya, Sus," jawab Papa Edwin dan Rega.


"Baik, kalau begitu kami akan menyiapkan ambulance terlebih dahulu," perawat itu pun meninggalkan ruangan.


--Kediaman Raharja--


Alvin melirik jam dinding, menunjukkan pukul 5.13 sore. "Kok mereka lama banget, ya??" gumamnya. Ia saat ini tengah menemani Vina di ruang tamu menunggu kepulangan Papa dan ketiga kakak mereka.


Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Alvin dan Vina pun langsung berlari keluar. Tampak mobil Papa mereka yang telah terparkir.


"Loh Kak Cio mana, Pa??" tanya Alvin dan Vina saat melihat mereka hanya bertiga, tanpa adanya Cio.


Selang beberapa detik, ambulance pun tiba di rumah mereka. Alvin dan Vina tak mengerti. Mereka pun menatap Papa dan kakak mereka penuh tanya.


Tiba-tiba Rega dan Acha memeluk mereka berdua sambil menangis. Membuat mereka tambah bingung. Mereka pun menatap ambulance tersebut.


Dua petugas rumah sakit keluar dari ambulance, membuka pintu belakang dan mengangkat sebuah keranda keluar ambulance.


Mata Alvin dan Vina melotot saking terkejutnya. Tubuh mereka berdua bergetar hebat. "Kak Cioo!!!" teriak mereka berdua hendak berlari mendekat, namun tubuh mereka dipeluk erat oleh Rega dan Acha.


"Kak Cio!! Hiks.. hiks!!" tangis mereka dalam pelukan Rega dan Acha.


...…***…...


Jangan lupa buat like, komen, saran, n klik favorit yahh.. maaf kalo masih ada typo atau kata yg kurang tepat..

__ADS_1


Sayonara..


__ADS_2