Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Hukuman Buat Pemalas


__ADS_3

"Makasih Acha, udah bantu ngerjain PR nya,, ulululuu.. jadi tambah cayang dech!!" ujar Karin mencubit pipi Acha gemas.


"Iya,, tapi nggak usah gini juga kalii.. sakit Kar!" Acha cemberut, memegangi kedua pipinya yang habis dicubit oleh Karin.


"Hehehe.. sorry, Cha.. Kebiasaan.." Karin terkekeh tanpa dosa.


"Btw, itu mereka mau sampe kapan kejar-kejaran??" ucap Acha memandangi Darren, Zain, dan Gibran yang masih merebutkan ranselnya Acha.


"Darren!! Berhenti lo!! Serahin nggak ranselnya Acha!!" teriak Zain mengejar Darren.


"Woi, gue duluan juga yang bilang ke Acha!" protes Gibran yang juga mengejar Darren.


"Bodo amat!! Udah kalian ngalah aja deh ama gue! Nggak capek apa ngejar-ngejar gue!!" seru Darren masih berlari.


Namun Zain dan Gibran tak gentar, mereka tetap kukuh mengejar Darren. Eh bukan! Mereka itu mengejar buku nya Acha yang dibawa sama Darren.


"Woi!! Udah mau masuk tau!! Kalian malah kejar-kejaran mulu! Nih, gue contekin punya gue!" seru Karin menawarkan. Namun tawarannya tersebut tak dihiraukan oleh ketiganya. Mereka masih saja asik kejar-kejaran.


Teng.. teng.. tengg..


Seketika semua murid langsung kembali ke tempat duduk masing-masing. Kecuali si trio tadi. Mereka masih saja kejar-kejaran.


"Wle.. Nggak bisa ngejar kan lo?!! Hahayy!!" tawa Darren mengejek, membuat Zain dan Gibran geram, makin gencar mengejarnya.


Dukk!!


Dukk!!


Zain dan Gibran terjatuh karena menabrak Darren yang tiba-tiba ngerem mendadak.


"Aduh aduh!!" seru Zain dan Gibran kompak terjatuh.


"Sialan lo, pake ngerem mendadak segala!!" umpat Gibran pada Darren. Namun Darren masih berdiri mematung. Zain dan Gibran pun mendongak, "Mampus gue!" gumam Zain menundukkan kepalanya.


"Berdiri kalian!!" tegas Bu Rina yang ternyata baru masuk.


Zain dan Gibran langsung berdiri tegak, sejajar dengan Darren. Mereka bertiga kini menundukkan kepala mereka.


"Kalian tahu, kesalahan kalian apa?!" tanya Bu Rina menginterogasi.


"Tahu, Bu," jawab mereka bertiga kompak, menganggukkan kepala.


"Bagus kalo kalian tahu! Sekarang masih saya maafkan! Tapi kalau besok kalain ulangi lagi, saya pastikan kalian bakal dihukum! Sekarang kalian duduk!" titah Bu Rina.

__ADS_1


Mereka bertiga pun kembali ke bangku mereka. Sebelum itu, Darren mengembalikan tas ransel Acha.


"Baik, anak-anak! Saya tidak mau kalau sampai kejadian seperti ini terulang lagi! Terlebih di jam pelajaran saya! Jangan sampai bel sudah berbunyi tapi kalian masih aja kelayapan! Paham?!" tegas Bu Rina memperingatkan.


"Paham, Bu.." balas semua murid di dalam kelas.


"Oke, kalau gitu, sekarang kalian kumpulkan PR pertemuan kemarin ke depan satu-persatu!" Bu Rina pun memanggil siswa-siswi sesuai urutan nomer absen untuk mengumpulkan PR nya.


"Anastasya!"


"Amira!"


"Aldi!"


"Bagas!"


"Cika!"


"Darren!" Dahi Bu Rina berkerut menatap Darren yang maju tanpa membawa buku PR nya.


"Mana PR mu?!" tanya Bu Rina.


"Emm.. ketinggalan, Bu." bohong Darren menundukkan kepalanya.


"Ketinggalan atau belum mengerjakan?!" tebak Bu Rina.


"Ha he ha he! Siapa lagi yang belum mengerjakan PR?! Cepat maju ke depan!" geram Bu Rina.


Zain dan Gibran pun langsung maju ke depan. Bu Rina yang melihat mereka bertiga langsung berdecak kesal.


"Ckckck! Kalian lagi?! Terlebih kamu Gibran! Kamu itu ketua kelas, harusnya kasih contoh yang benar pada teman-temanmu! Bukannya malah contoh nggak benar kayak gini!" cibir Bu Rina.


Mereka bertiga hanya bisa menundukkan kepala, mendengarkan ceramah plus omelan dari Bu Rina. Setelah puas mengomeli tiga muridnya itu, Bu Rina pun tak lupa memberi hukuman pada mereka bertiga.


"Sekarang kalian bertiga berdiri di lapangan bendera! Hormat pada bendera! Tunggu sampai jam pelajaran saya selesai!" titah Bu Rina.


"Inilah hukuman buat kalian yang pemalas!" sambung Bu Rina memperingati.


Tanpa membantah, Darren, Zain, dan Gibran pun segera keluar dari kelas. Hendak melaksanakan hukuman tersebut. Pelajaran pun kembali dilanjutkan oleh Bu Rina.


...----------------...


Sementara diluar kelas, Darren, Zain, dan Gibran sedang menuju ke lapangan bendera.

__ADS_1


"Gara-gara lo, gue jadi kena hukuman kan!" tunjuk Gibran pada Zain.


"He! Gue?! Gara-gara si Darren ini mah!!" ujar Zain menatap kesal Darren.


Mereka berdua menatap kesal pada Darren. Darren yang terus diperhatikan pun merasa kesal juga.


"Iye.. sorry sorry.. Sebagai tanda permintaan maaf, gue traktir mau nggak lo pada??" bujuk Darren.


"Traktir?! Oke gue maafin lo! Yuk, kantin!" Zain langsung melupakan rasa kesalnya. Wajahnya kembali happy.


"Wait! Kalian bilang apa?! Kalian lupa kalo kita lagi dihukum sama Bu Rina?? Bu Rina lhoo.." ucap Gibran heran dengan mereka berdua bernyali tinggi itu.


"Mana ada kita lupa. Tadi kan Bu Rina bilangnya apa? Cuma berdiri hormat di lapangan kan? Kan nggak ada aturan waktunya berapa jam, cuma sampai jam pelajarannya Bu Rina habis! Ya nggak Zain!?" beo Darren menaikkan salah satu alisnya pada Zain.


"Pinter! Jadi nanti kita tinggal ke lapangan pas jam pelajarannya Bu Rina mau habis..!" timpal Zain. "Lo yakin nggak mau ikut?? Lo yakin mau di jemur? Lo nggak sayang gitu ama muka kesayangan lo kalo nanti kepanasan??" sambung Zain mempengaruhi Gibran.


Gibran tampak berpikir. "Iya juga ya.. Bisa percuma gue skincare-an selama ini. Em.. Okelah gue ikut!".


"Nah, gitu dong!" Zain merangkul kedua temannya itu.


Mereka bertiga pun menuju ke kantin, melupakan hukuman dari Bu Rina tadi.


...ΩΩΩΩΩ...


Teng.. teng.. tengg...


Bu Rina melangkahkan kakinya menuju ke lapangan bendera. Mengecek ketiga murid yang tadi ia hukum. Tampak ketiga muridnya itu yang sedang berdiri hormat pada bendera Merah Putih.


"Saya kira kalian bakal kabur dari hukuman saya! Baguslah kalau kalian sadar sama kesalahan kalian. Oke, kalian boleh istirahat sekarang! Dan untuk PR kalian, ibu tambah, kerjakan buku paket halaman 20 sampai 30! Kalo sampai tidak kalian kerjakan, maka nilai raport kalian akan merah!" usai mengatakan hal tersebut, Bu Rina pun meninggalkan mereka yang masih ternganga.


"Sial!! Malah makin banyak PR nya!!" kesal Gibran menggerutu.


"Halah.. gampang itu mah! Nanti tinggal suruh Acha ajarin kita,, clear kan?!" ucap Zain santai.


"Iya juga, ya.. Pinter juga lo!" ujar Gibran setuju.


"Pinter pala lo!!" Darren memukul kepala Zain dan Gibran bergantian. "Ya kalo Acha mau.. Kalo enggak??" ujarnya meninggalkan Zain dan Gibran.


"Pasti mau lah!! Kan ada lo!!.." balas Zain menggoda Darren. Mereka berdua pun menyusul Darren menuju ke kantin.


...…***…...


Haloo.. readerss.. Maaf ya baru up.. Maaf juga kalo ada typo ataupun ceritanya yang masih datar🙏🙏

__ADS_1


Makasih buat kalian yang selalu dukung author.. Jangan lupa buat like, komen n saran, juga klik favorit yah.. Oh ya, jangan lupa untuk mampir ke cerpen aku yang judulnya 'Hatters but Lovers'😉 jangan lupa juga untuk like, komen... 😃


Thank you and See you..


__ADS_2