
Rey pun segera menghentikan motornya di depan rumah Acha.
Acha langsung turun dari motor Rey. Ia pun melepaskan helm yang ia pakai dan mengembalikannya pada Rey.
Saat sedang memberikan helm itu kepada Rey, tak sengaja tangan mereka bersentuhan. 'Tangan Kak Rey kok dingin banget,' batin Acha terkejut.
Keduanya sama-sama diam. 'Suruh masuk nggak ya?? Kasian Kak Rey pasti kedinginan banget. Tapi kalo masuk entar..' pikir Acha bingung sendiri.
Sedangkan Rey, dirinya juga bingung harus bicara apa. 'Lama-lama kok jadi dingin juga ya,' batin Rey mulai kedinginan. Bagaimana tidak, seluruh tubuhnya bahkan tas beserta isinya saat ini sudah basah kuyup karena diguyur hujan.
"Kok belum masuk, Cha?" tanya Papa Edwin yang tiba-tiba muncul dari garasi. Rupanya Papa Edwin baru saja pulang dari kantornya.
Acha yang tiba-tiba mendengar suara seseorang, sontak langsung terkejut. Ia pun langsung menoleh ke sumber suara.
"Eh, iya, Pa. Ini baru aja sampe, hehe!" jawab Acha dengan tawa kikuk nya.
"Lho, ini teman kamu nggak diajak masuk dulu??" ujar Papa Edwin bertanya, sembari menatap Rey dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
"Enggak usah, Om. Ini baru mau langsung pulang aja, takut hujannya tambah deras." tolak Rey.
"Halah! Kasian lho, Cha. Nanti kalo teman kamu sakit gimana? Kan dia kehujanan gara-gara nganterin kamu pulang.." ujar Papa Edwin, mendesak Acha.
Acha semakin bingung harus berbuat apa, terlebih Papa nya sendiri malah memaksa agar Rey mampir. Acha kembali memperhatikan Rey.
"Kak masuk dulu aja, nanti kalo hujannya udah reda baru pulang," saran Acha akhirnya menyuruh Rey untuk masuk.
"Ayoo.. masuk dulu.." Papa Edwin mendorong pundak Rey, memaksa Rey agar mau masuk.
Rey yang didorong pun, akhirnya pasrah saja dan mengikuti Acha yang sudah berjalan di depannya.
"Ayo duduk dulu!" perintah Papa Edwin pada Rey agar duduk di sofa. Namun Rey menggeleng cepat.
"Nggak usah, Om. Nanti sofa nya basah lagi. Saya berdiri aja, nggak papa kok, Om." tolak Rey sopan.
"Terus kenapa kalo sofa nya basah? Ini kan sofa saya, jadi kalo masalah basah apa enggak, itu urusan saya dong! Kamu kan tinggal duduk, apa susahnya coba? Lagian kalo basah nanti juga masih bisa kering. Santai, saya nggak akan suruh kamu buat keringin sofa nya kok! Dan sebagai tuan rumah, sekarang saya nyuruh kamu buat duduk!" omel Papa Edwin panjang kali lebar.
Rey merasa bingung dengan semua kata-kata yang Papa nya Acha lontarkan. Ia pun menatap penuh tanya pada Acha yang sedang duduk di samping Papa nya itu.
"Duduk aja, Kak!" ucap Acha mengerti dengan arti dari tatapan Rey padanya tadi.
Akhirnya Rey pun memilih untuk duduk, daripada nanti malah kena khotbah dari Papa nya Acha lagi, begitulah yang dipikirkan oleh Rey.
"Cha, kamu bikinin susu jahe buat temen kamu ini, kasian dingin pasti!" perintah Papa Edwin dan langsung diangguki oleh Acha.
__ADS_1
Acha pun langsung beranjak hendak ke dapur, namun tiba-tiba Papa Edwin memanggilnya lagi.
"Eh, Cha!" Papa Edwin memanggil Acha.
"Iya, kenapa, Pa?" tanya Acha kesal, berbalik lagi menatap Papa nya.
"Susu jahenya dua gelas ya.." pesan Papa Edwin sambil meringis.
"Eh, satu gelas aja udah cukup kok, Om!" sela Rey menengahi pembicaraan bapak anak itu.
"Emang siapa bilang itu buat kamu..yang setunya itu buat saya kok!!" balas Papa Edwin dengan nada mencibir.
"Kirain buat saya, hehe!" ucap Rey salting.
"Udah?? Nggak ada lagi kan?? Kalo gitu Acha ke dapur dulu!" ucapnya melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
"Ehh.. Cha! Cha!" teriak Papa Edwin lagi, memanggil Acha.
"Apa lagi sih, Pa?!" balas Acha yang mulai geram dengan tingkah jail Papa nya itu.
"Kamu jadi cewek kok nggak peka banget sih,Cha?!" ujar Papa Edwin, membuat Acha bingung, pusing tujuh keliling.
"Ha?? Kok jadi nggak peka gimana sih, Pa??" balas Acha kebingungan.
Acha dan Rey melongo. Acha saja yang sudah bersama dengan papa nya selama 16 tahun terkejut melihat tingkah papa nya itu, apalagi Rey!
'Kok Papa jadi cerewet banget gini, sih?!' pikir Acha masih melongo.
'Papa nya Acha ternyata cerewet banget, ya.. Tapi perhatian juga..' batin Rey merasa agak terharu.
Acha menghela napasnya panjang, memijat pelipisnya dengan jemarinya. "Terus maunya Papa gimana? Hm??" tanya Acha mencoba tetap sabar.
"Sana, kamu anter dia ke kamar kakak kamu! Suruh dia buat mandi sekalian biar nggak demam. Gantinya ambilin baju kakak kamu! Kan muat buat dia!" perintah Papa Edwin tanpa jeda.
Acha kembali menghela napasnya. "Nggih, Rama.." balas Acha sembari menyatukan kedua telapak tangannya didepan dahinya.
Rey menatap Papa Edwin. Papa Edwin memberinya isyarat agar mengikuti Acha. Rey mengangguk mengerti, dan mengikuti Acha yang kini tengah manaiki anak tangga.
Sampailah mereka berdua di depan pintu kamar yang bertuliskan 'Kamar Rega'. Saat Acha hendak membuka pintu, tiba-tiba Rey mencegahnya.
"Jangan, Cha!!" cegah Rey langsung menarik tangan Acha dari gagang pintu.
Sedangkan Acha langsung kebingungan melihat tingkah Rey.
__ADS_1
"Kamu nggak baca, itu tulisannya DILARANG MASUK TANPA IZIN! BERANI MASUK MAKA BERANI DOSA! KALO DOSA BAKAL MASUK NERAKA!," ucap Rey membaca tulisan yang terpampang di pintu kamar tersebut.
"Pfftt.. Hahaha!!!" tawa Acha seketika menggelegar. "Terus kenapa? Kakak nggak berani masuk, gitu??" ledek Acha, menahan tawanya.
Rey terdiam, karena malu tentunya. Acha pun langsung membuka pintu kamar milik kakaknya itu. Mereka berdua pun memasuki kamar Rega.
Acha langsung menuju ke sebuah almari besar yang ada di sudut kamar. Ia tampak mencari-cari sesuatu. Tak lama kemudian, ia pun mengeluarkan sebuah handuk yang masih terbungkus plastik, juga sebuah sweater warna abu-abu dan celana training panjang.
"Nih, kakak pake aja. Handuknya masih baru kok, kalo sweater sama celananya ini udah jarang di pake sama Kak Rega. Jadi nggak bakal dicariin!" Acha memberikan handuk, sweater, dan celana itu pada Rey. Rey pun langsung menerimanya.
"Oh iya, kamar mandinya yang itu!" Acha menunjuk sebuah pintu yang ada di dekat meja belajar. Rey mengikuti arah telunjuk Acha, dan langsung mengangguk mengerti.
"Ya, udah kalo gitu Acha tunggu di ruang tamu!" ujar Acha langsung melenggang keluar dari kamar tersebut.
Rey pun segera membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Setelah itu, ia pun memakai pakaian yang diberikan oleh Acha tadi.
Acha kini tengah di dapur, membuatkan susu jahe untuk Rey dan Papa Edwin. Untuk dirinya sendiri, ia lebih memilih susu hangat.
Setelah jadi, ia pun segera menuju ke ruang tamu. Tampak disana sudah ada Rey yang sedang mengobrol dengan Papa Edwin, juga Alvin dan Vina yang baru bergabung.
Acha segera meletakkan cangkir berisi susu jahe di depan Rey dan Papa Edwin.
"Makasih!" ujar Rey dan Papa Edwin bersamaan.
Rey menatap Acha. Acha yang ditatap tentunya merasa bingung. "Kenapa??" tanya Acha.
"Kamu nggak ganti baju? Bukannya tadi baju kamu sama jaketnya juga basah??" balas Rey bertanya.
Papa Edwin, Alvin, dan Vina sontak menatap Acha yang masih menggunakan jaket milik Rey itu.
Vina yang duduk di samping Acha pun langsung menyentuh jaket yang dipakai Acha. "Kering kok!" ujarnya.
"Astaga!! Acha lupa!! Sampai-sampai bajunya sekarang udah hampir kering!!" heboh Acha dan langsung berlari menuju ke kamarnya.
Mereka berempat pun tertawa ria melihat kekonyolan Acha.
Hangat,
Itulah yang dirasakan Rey saat ini. Kehangatan keluarga yang selama ini ia rindukan. Meskipun tanpa kehadiran seorang mama, keluarga Acha masih bisa saling memberikan kehangatan.
...…***…...
Haloow,, readers kusayangg!! welcome back di kisah nya Acha! Maaf yah kalo masih ada typo atau kurang" nya.. Jangan lupa slalu dukung author biar semangat up, dengan cara like, komen n saran, juga klik favorit supaya tau update terbaru.. Makasihhh🤠🤠
__ADS_1
Sayonaraaa.. 🥰