
*Pembelajaran sudah dimulai sejak dua hari lalu. Lebih tepatnya sekarang adalah hari Kamis.*
"Acha berangkat dulu ya.., dahh!" seru Acha melambaikan tangannya pada Papa Edwin dan si kembar Alvin dan Vina.
"Hati-hati ya..Rega jangan ngebut!" seru Papa Edwin mengingatkan.
Acha dan Rega pun segera masuk ke dalam mobil milik dan berangkat menuju sekolah Acha. Perjalanan mereka kali ini lancar karena tak ada kemacetan. Merupakan suatu keajaiban karena sangat jarang jalanan tidak macet. Sekitar 15 menit, mereka telah sampai di IHS.
"Acha masuk dulu, makasih kakak ganteng!!" seru Acha dengan ceria. "Ih tumben?? Kesambet apa kamu, Cha?!" ujar Rega bingung. Namun acha tak menjawab dan langsung memasuki gerbang sekolahnya.
Mobil Rega pun segera melaju meninggalkan SMA tersebut, menuju ke kampusnya.
...----***----...
I am free..
Let it go, let it go..
I'm one with the wind and sky
Let it go, let it go
You'll never see me cry..
Sepanjang jalan menuju ke kelasnya Acha terus bersenandung ria. Ia mencoba untuk melupakan segalanya tentang Rey, meskipun itu adalah hal yang mustahil baginya.
Namun berkat dukungan dari Darren, ia bertekad untuk kembali lagi ke sifat cerianya dan mencoba membuka lembaran baru untuk kisah barunya.
"Dorr!!" seru seseorang dari belakang Acha, membuat Acha langsung melompat terkejut. "Astaga! Ihh.. Darren mah, ngagetin tau!!" sungut Acha cemberut, langsung mencubit kuat lengan Darren.
"Aww!! Sakit Cha!! Ampuunn!" teriak Darren karena Acha mencubitnya tak tanggung-tanggung.
"Ini akibatnya kalo kamu suka jahilin Acha! Sakit kan?! Makanya nggak usah jahil!!" omel Acha menambah cubitannya lebih keras, setelah puas ia pun melepaskan cubitannya.
"Iya.. iya.. Maaf.. Lagian lo kelihatannya hari ini beda banget? Dari tadi gue denger lo nyanyi terus. Kenapa? Cerita dong.. Kebahagiaan kan harusnya dibagi-bagi," ujar Darren ikut tersenyum melihat Acha yang sudah tidak sedih lagi.
"Enggak ada apa-apa kok. Kan Acha emang biasanya kayak gini. Cantik? Iya.. Ramah? Iya.. Imut? Tentunya.." balas Acha over pd *percaya diri* dengan senyuman imutnya.
"Hilihhh.. Masa?!" ucap Darren mencubit gemas kedua pipi Acha. Setelah puas ia pun langsung berlari meninggalkan Acha dengan tawa kemenangannya.
__ADS_1
"Darren!!!" teriak Acha mengejar Darren yang sudah berlari jauh di depannya. Namun karena tak memperhatikan jalan, Acha pun tersandung oleh kakinya sendiri, sehingga membuatnya terjatuh.
"Arghh!!" teriak Acha yang kini sudah tersungkur di lantai.
"Kamu nggak papa?" tanya seseorang mengulurkan tangannya, mencoba untuk membantu Acha berdiri.
Acha pun mendongak, betapa terkejutnya ia ketika melihat siapa yang hendak menolongnya. Dia tak lain adalah Rey. Orang yang saat ini coba Acha lupakan.
Acha tak menerima uluran tangan Rey. Ia pun mencoba untuk berdiri sendiri. Namun sayangnya pergelangan kakinya terkilir, sehingga membuatnya tak bisa bangun.
Merasa tak ada yang mengikutinya, Darren pun berhenti berlari. Ia menoleh ke belakang, namun yang dicarinya tidak ada di belakangnya. Ia pun segera berlari ke tempat tadi ia meninggalkan Acha, khawatir jika sesuatu terjadi pada Acha.
Betapa terkejutnya Darren ketika ia melihat seorang laki-laki yang tak lain adalah Rey. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah kondisi Acha yang kini sudah terduduk di lantai.
"Acha!!" teriaknya berlari ke arah Acha. "Lo nggak papa?" tanya Darren dan langsung mencoba membantu Acha berdiri.
"Auww! Sakit.." rengek Acha ketika berdiri.
"Ya udah kita ke UKS dulu, ngobatin kaki kamu," ucap Darren penuh perhatian.
"Misi Kak," sambung Darren pada Rey. Meskipun ia pribadi tidak menyukai Rey, tapi Darren tau kalau ia tetap harus sopan pada seniornya.
Rey tampak hanya diam memperhatikan mereka. Sebenarnya sejak awal Acha memasuki gerbang sekolah, Rey sudah mengikuti Acha dari belakang tanpa sepengetahuan Acha. Bahkan Rey juga melihat keakraban Acha dengan Darren.
**UKS **
Darren segera membantu Acha untuk duduk di sebuah bangku yang ada di dalam UKS. Ia segera berlutut di hadapan Acha hendak mengobati kaki Acha yang terkilir.
"Nggak usah, Darren. Acha nggak papa kok. Acha bisa ngobatin sendiri," ucap Acha melarang Darren mengobatinya.
"Shhut.." desis Darren, menempelkan jari telunjuknya di mulut Acha agar tidak protes. "Nanti kalo nggak cepet-cepet diobatin bisa-bisa terkilirnya tambah parah.." sambung Darren.
Ia pun segera memberikan antiseptik pada kaki Acha yang terkilir lalu menyemprotkan cairan etil klorida selama beberapa detik.
Untungnya kakak Darren seorang ahli medis. Dan dulu Darren sangat suka bermain sepak bola. Sehingga ketika ia cedera termasuk terkilir, saat itulah kakaknya akan langsung menyemprotkan etil klorida untuk menghilangkan nyeri di cedera tersebut. Dari sinilah Darren tahu tata cara pemakaian etil klorida yang memang tidak boleh digunakan sembarangan.
Acha memperhatikan setiap gerakan Darren tanpa berkedip. 'Bahkan tingkah kamu membuat Acha teringat sama dia, kalo gini gimana Acha mau ngelupain Kak Rey?' pikir Acha dalam hati. 'Kalian ini terlalu mirip.. bagai pinang dibelah dua,' sambung Acha dalam hati.
Acha pun menggelengkan kepalanya cepat, agar tidak memikirkan Rey. Melihat tingkah Acha yang aneh, Darren pun cepat-cepat menyelesaikan pengobatan pada kaki Acha.
__ADS_1
"Kepala lo sakit, Cha??" tanya Darren memegang kedua pudak Acha. Membuat mata mereka saling bertemu. Tentu saja Acha dibuat terkejut dengan tingkah Darren. Mata Acha bahkan sampai melotot karena saking terkejutnya.
"Ehh.. sorry sorry," ucap Darren salting, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya nggak papa, hehe.." balas Acha tertawa kikuk.
Suasana di UKS tiba-tiba menjadi sangat canggung. Di antara mereka tak ada yang bersuara. Hanya deheman-deheman kecil dari Acha yang mencoba menghilangkan kecanggungan.
'Darren jangan diem aja dong.. ngomong apa kek gitu, biar cair suasananya.. ayo otakkk,,gue mohon..kali inii aja mikirr napa..' batin Derren berkecamuk.
"Cha.. gimana??" tanya Darren mencoba mencairkan suasana.
Namun justru Acha dibuat bingung dengan pertanyaan Darren yang menurutnya sangat ambigu.
'Apanya yang gimana coba?? Kalo pertanyaan ambigu kek gitu mana bisa Acha ngejawab?' batin Acha emosi.
"Helloo.. Chaa.. lo nggak papa??" seru Darren menyadarkan Acha.
"Eh iya.. Acha nggak papa kok, kan udah diobatin Darren," jawab Acha gagu.
"Bukan itu.. maksut gue tadi kan lo ketemu sama Kak Rey. Lo nggak papa gitu ketemu sama dia??" tanya Darren lagi.
"Ya iyalah nggak papa, lagian juga bakal sering ketemu. Jadi harus terbiasa dong.. ya nggak?!" jawab Acha sesantai mungkin. Bohong jika Acha nggak papa, nyatanya sampai saat ini ia nggak bisa berhenti mikirin Kak Rey barang semenit pun.
"Ya udah, ke kelas yuk! Sepuluh menit lagi udah masuk tau!" ajak Rey. "Lo bisa jalan kan?" sambungnya bertanya.
"Bisa lah.. Acha kan strong!" jawab Acha songong.
"Hehe.. iya strong.. stres tak tertolong!! Hahaha!!" ejek Darren dengan tawanya yang menggelegar di UKS.
"Tuh kan.. Darren mah gitu!! Bully aja teruss!!" sungut Acha ngambek.
"Enggak enggak.. becanda, hehe" ucap Darren mengacak rambut Acha.
"Darren!!" rengek Acha.
"Iya iya.. yuk ah ke kelas," Darren pun segera menarik tangan Acha, jaga-jaga takut Acha jatuh lagi.
Hola hola!! Teruntuk semua readers,, jang lupa tinggalkan jejak kalian ya.. Makasih udah mampir😊
__ADS_1
Sayonara😘