
"Acha!! I'm coming!!" seru Karin sembari membuka pintu kamar Acha dirawat.
"Lho, kamu mau kemana, Cha?" sambung Karin bertanya kala ia melihat Acha yang turun dari brankarnya.
"Acha mau pulang aja. Nggak enak disini," jawab Acha merasa tak nyaman terlalu lama di rumah sakit.
"Lo yakin, Cha? Lo yakin mau pulang sekarang?" tanya Darren merasa tak yakin dengan keputusan Acha.
"Iya Cha. Nggak kasian apa sama kita. Kita aja baru dateng buat jenguk lo," ucap Vano nimbrung dengan wajah sok sedih nya.
"Acha kan nggak nyuruh kalian buat jenguk Acha. Dan lagian Acha juga udah nggak papa kok, jadi Acha mau pulang!" tegas Acha sekali lagi.
"Oke kalo lo mau pulang, tapi harus gue anterin. Titik nggak boleh nolak!" ujar Darren memaksa. Ia takut jika Acha pulang sendiri. Takut Acha kenapa-napa lagi.
"Hilih modus aja lho!" sinis Dion membuka suara.
"Tapi gue setuju deh sama dia, mending lo pulang dianter aja daripada nanti kenapa-napa dan nggak ada yang tau!" kini gantian Safa yang ikutan nimbrung.
"Eh bentar-bentar.. lo siapa lagi ikutan nimbrung segala!!" sela Darren menunjuk Safa. Ia sering liat Safa bersama dengan Rey. Tapi tetap saja ia belum kenal dengan Safa.
"Kenalin gue Safa, kelas 10 IPA 2. Dan lo?" ujar Safa sembari mengulurkan tangannya.
Namun Darren hanya melirik, enggan menerima jabatan tangan itu. Jujur saja, sebenarnya ia ada perasaan tidak suka dengan Safa.
Tentu saja karena Safa dekat dengan Rey, dan itu membuat Acha sedih saat melihat kedekatan mereka.
Safa pun menarik tangannya kembali kala Darren tak mau berjabat dengannya.
"Ya udah kalo kamu emang pengen pulang,, tapi kamu beneran udah nggak papa?" tanya Karin sekali lagi memastikan.
"Beneran lahh,, 1000 persen yakinn!!" ucap Acha mengangguk semangat.
"Ya udah, ayok kalo gitu!" ujar Darren.
Mereka berenam pun segera keluar dari ruang rawat Acha. "Oh iya,, Acha urus administrasi dulu, ya," ujar Acha kepada mereka semua.
"Gue anter!" ucap Darren dan langsung menarik tangan Acha.
"Kalian duluan aja!!" teriak Acha mengikuti langkah Darren.
.
.
__ADS_1
.
.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di bagian administrasi.
"Permisi, Sus. Saya ingin membayar pengobatan atas nama Farasya. Semuanya berapa ya?" tanya Acha pada seorang berpakaian suster disana.
"Sebentar ya, Mba, saya cek." balas suster itu sembari melihat komputernya. "Disini atas nama Farasya sudah dibayar kok, Mba!" sambungnya.
"Haa?! Sudah dibayar??" bingung Acha. "Kamu yang bayar??" tanya Acha pada Darren yang ada disebelahnya.
"Bukan lah! Dari tadi kan gue nemenin lo!!" ujar Darren jujur.
"Maaf Sus. Kalo boleh tau yang bayar siapa ya??" Acha kembali bertanya pada suster itu.
"Tadi yang bayar atas nama Reyhan, Mba!" jawab sang suster setelah melihat komputernya.
Mendengar ucapan suster itu, seketika tatapan Acha menjadi kosong. Darren pun tampak terkejut.
"Ya udah, Sus, kalo begitu kami permisi," ucap Darren dan segera menarik tangan Acha. Acha yang semula melamun pun langsung terkejut saat tangannya ditarik.
...ΩΩΩΩΩ...
"Gimana?? Udah beres?" tanya Karin saat Acha dan Darren datang bergabung dengan mereka.
"Udah kok. Tapi tadi udah ada yang bayarin." jawab Darren.
Sedangkan Acha hanya diam. Ia tampak memikirkan sesuatu.
"Oh, ya, Karin, Acha mau tanya. Tadi yang bawa Acha ke rumah sakit siapa?? Darren kan datengnya pas Acha baru sadar, sedangkan kalian baru aja sampai kan??" akhirnya Acha membuka suara dan bertanya.
"Ohh.. dari tadi kamu diam gara-gara mikirin itu? Jadi, tadi itu kan kamu pingsan,, terus-" penjelasan Karin terpotong.
"Rey," potong Vano. "Rey yang bawa lo ke rumah sakit," sambungnya agak ketus.
"Iya, Cha. Pas kamu pingsan Kak Rey langsung gendong kamu. Emangnya tadi kamu belum ketemu sama Kak Rey?" tanya Karin penasaran.
'Jadi Kak Rey yang bawa Acha ke rumah sakit??' batin Acha.
"Ya udah kita pulang aja yuk! Udah mau jam 8 malam tau!!" ucap Safa membuat Acha terkejut.
"Hah, jam 8?!!" teriak Acha langsung memeriksa ponselnya. Dilihatnya jam pada ponsel menunjukkan pukul 8 kurang 10 menit.
__ADS_1
'Haduhh,, bentar lagi Papa pulang lagi,, kalo Papa tau Acha baru pulangg..' batin Acha merasa gelisah.
"Cha!! Ayo mau pulang nggak?!" Acha terkejut dengan suara itu. Dilihatnya ternyata semuanya sudah ada di atas motornya masing-masing.
"Eh, iya!" balas Acha dan segera memakai helm lalu naik ke motor Darren.
"Cha maaf ya kita nggak bisa nganterin kamu, soalnya, udah dicariin mama," ucap Karin diangguki oleh Vano.
"Iya, nggak papa kok, kalian pulang aja. Lagian Acha kan udah dianterin Darren." balas Acha tersenyum manis.
"Kalo gitu kita duluan ya!!" ucap Safa dan Dion. Kemudian motor mereka melaju meninggalkan tempat itu.
"Kita juga ya!! Dah~" pamit Karin dan Vano kemudian melajukan motornya.
"Titi Dj yahh!!" (Hati-hati dijalan) teriak Acha melambaikan tangannya.
"Ya udah yukk!!" sambung Acha.
"Ya udah kemana??" ucap Darren pura-pura.
"Ya pulanglah!!" balas Acha kesal.
"Pulang ke rumah gue??" ucap Darren pura-pura bodoh lagi.
"Ya ke rumah Acha lah!! Gimana sih Darren?!" Acha merasa sangat geram, hingga akhirnya ia pun memukul punggung Darren. "Plakk"
"Auw auw.. sakit Cha.. Gue kan cuma becanda.." ucap Darren pura-pura kesakitan.
"Lagian kamu becandaaa mulu!! Nyebelin tau nggak sih?!" sungut Acha cemberut. Namun wajahnya malah tampak sangat imut.
"Iya iya.. maaf." ucap Darren menahan tawa.
"Ya udah yuk, pulang," sambung Darren dan menyalakan motornya.
Mereka pun segera meninggalkan tempat itu menuju ke rumah Acha.
Jalanan yang cukup ramai. Kerlap-kerlip cahaya lampu kendaraan dan langit malam yang penuh akan bintang, menemani perjalanan mereka.
......****…...
Halo readers!! Sebelumnya author minta maaf karena baru bisa up sekarang🙏🙏 Dan makasih banget buat kalian yang masih dengan sabar menanti kisahnya Acha.. Jangan lupa like dan dukungannya buat author yaa🤠🤠
Salam hangat dari Acha n author🥰🥰
__ADS_1
Sayonara..