
Secara bergantian, mereka mengumpulkan tugas mereka ke meja Bu Rina. Bu Rina menghitung jumlah buku di depannya tersebut.
"Dila!!!" serunya tampak ganas.
Sontak semua murid menoleh ke arah Dila yang sedang asyik menatap Darren tanpa berkedip.
"Dil! Dila!!" bisik Cika mencolek-colek pinggang Dila.
"Hmm.." balas Dila tak menghiraukan Cika, masih fokus dengan yang ia pandang.
Braakkk!!!
Tanpa aba-aba,Bu Rina menggebrak mejanya dengan sangat kuat. Sontak semua murid terkejut dan langsung menundukkan kepala mereka, tak berani menatap Bu Rina yang sedang berapi-api.
Begitupun dengan Dila, ia langsung terperanjat kaget dari lamunannya. Ia langsung menoleh dan mendapati Bu Rina yang sudah ada tepat disebelahnya.
"Ngapain kamu?!" tanya Bu Rina ketus. "Kamu baru jadi murid disini satu jam, tapi sudah berani menyepelekan saya?!!" bentak Bu Rina.
"Buk-bukan begitu bu-" ucap Dila terpotong.
"Terus apa?! Mana buku tugasmu?!!" potong Bu Rina.
Dila pun langsung memberikan buku tugasnya kepada Bu Rina. Sedangkan Bu Rina langsung mengoreksi jawaban di buku tugas Dila.
"Hmm.. kali ini kamu saya maafkan! Kamu bisa selamat karena jawabanmu benar semua.. Tapi, jika besok kamu tidak memperhatikan kelas saya lagi, saya tidak akan segan-segan untuk menghukum kamu! Walau nilaimu bagus sekalipun!!" tegas Bu Rina dan langsung kembali ke mejanya.
"Kalau sampai di pertemuan selanjutnya ada yang tidak memperhatikan pelajaran saya, lebih baik kalian keluar! Tidak perlu mengikuti kelas saya! Kalian paham?!!" kecam Bu Rina, melirik tajam pada Dila.
"Paham bu.." balas seluruh murid 10 IPA 1. Bersamaan dengan itu, bel tanda istirahat pun berbunyi.
Kriinggg..
Bu Rina dengan langkah tegasnya langsung keluar meninggalkan kelas. Seketika semua murid langsung bernapas lega.
"Hufftt!" Dila membuang napasnya kasar. "Baru hari pertama udah kena semprot!" keluhnya.
"Sabar ya, Bu Rina emang sifatnya kek gitu. Lo masih mending cuma kena semprot, lo nggak tau aja dulu pas hari pertama malah ada yang langsung dihukum hormat di lapangan bendera!" bisik Cika pada Dila.
"Siapa??" tanya Dila juga berbisik.
"Tuh, mereka berdua," tunjuk Cika pada Acha dan Darren. Dila pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh Cika.
"Darren?!" tebak Dila tak percaya. "Kok bisa??" tanya nya lagi pada Cika.
"Kok lo tau namanya Darren??" Cika balik bertanya.
"Hehe,, soalnya gue kenal sama dia. Terus terus, mereka kok bisa dihukum gara-gara apa??" kepo Dila.
__ADS_1
"Oo.. jadi lo udah kenal sama Darren.. Jadi mereka berdua itu dihukum gara-gara telat masuk ke kelas!" jelas Cika.
"Mereka berdua? Telatnya bareng??" gumam Dila lirih.
"Kalo gitu gue ke kantin, yak.. lo mau ikut?" ajak Cika.
"Lo duluan aja!" tolak Dila.
"Ya udah, duluan ya!" Cika pun segera berlari menyusul teman-temannya menuju ke kantin.
Sedangkan Acha, Karin, Darren, dan Zain tampak hendak menuju ke kantin. Dila yang melihat itu pun langsung menghampiri mereka.
"Darren!!" seru Dila memanggil Darren.
Darren yang merasa dipanggil pun langsung menghentikan langkahnya. Ia pun menoleh ke sumber suara.
"Lo sekarang mentang-mentang udah punya teman baru, jadi sombong yaa.." ledek Dila dengan wajah cemberut.
"Eh, lo.. Oh ya, kenalin, ini Acha, Karin, sama Zain." ujar Darren memperkenalkan ketiga sahabatnya pada Dila.
"Gue Dila, sahabat sehidup semati nya Darren," ucapnya sembari mengajak berjabat tangan.
"Apaan sih, lo.. Lebay!" tegur Darren kala mendengar ucapan Dila.
"Gue Zain," Zain berjabat dengan Dila. Dila pun mengulurkan tangannya pada Karin.
"Karin," sembari membalas jabatan tangan Dila.
"Kantin yuk!" ajak Dila langsung menarik tangan Darren, meninggalkan Acha, Karin, dan Zain.
"Lihat kan, Cha. Sombong banget tuh anak!" ujar Karin merasa kesal dengan tingkah Dila tadi.
"Iya, masa diajak salaman sama Acha malah pura-pura nggak lihat!!" timpal Zain, juga kesal dengan Dila.
"Anak baru, tapi udah songong banget!!" cibir Karin kesal. "Cih, sahabat sehidup semati konon!" cibirnya masih kesal.
"Udah.. udah.. mungkin aja tadi dia emang nggak lihat tangan Acha. Ya udah yuk,, kita ke kantin! Keburu jam istirahatnya habis!" Acha langsung menarik tangan Karin dan Zain. Mereka bertiga pun berlari menuju ke kantin.
.
.
Sesampainya mereka bertiga di kantin, mereka pun segera mencari tempat duduk.
"Cha!!" panggil Darren melambaikan tangannya.
Acha, Karin, dan Zain pun langsung menghampiri tempat Darren duduk.
__ADS_1
"Sini, Cha!" ujar Darren menepuk tempat kosong di sebelah kanannya. Acha pun langsung duduk di sebelah Darren. Sedangkan Karin dan Zain duduk bersebelahan di hadapan Darren.
Terus dimana Dila?? Tentunya dia duduk di sebelah kirinya Darren.
"Mau makan apa, Cha?" tanya Darren perhatian.
"Emm.. Siomay aja, nggak pake kentang. Minumnya es teh susu." pesan Acha.
"Gue bakso ya.. minumnya es jeruk!" timpal Zain dengan santainya.
"Enak aja.. beli sendiri lahh!!" seru Darren nge-gas.
"Iye iye.. sante aja kali.. galak amat sih!" balas Zain cemberut.
"Lo mau apa??" tanya Zain pada Karin. Sontak yang ditanya melongo tak percaya.
"Tumben baik bang?!" ledek Karin pada Zain.
"Baik salah.. Nggak baik tambah salahh.. Ya udah kalo nggak mau!" Zain pun beranjak hendak membeli makanan. Namun langkahnya langsung terhenti karena ada yang menarik bajunya.
"Eitss! Jangan marah lah.. Becanda kali.. Jangan marah yaa, abang Zain yang gantenggg.." rayu Karin masih menarik baju Zain.
"Hmm." ujarnya singkat, menoleh ke Karin. Ia pun langsung melepaskan tangan Karin dari bajunya.
"Hehe,, gue nitip batagor sama jus jambu, ya?" mohon Karin memelas pada Zain. Zain tak menjawab, malah langsung berjalan menarik Darren untuk membeli makanan mereka.
"Darren!!" panggil Dila, menghentikan langkah Darren dan Zain. Darren pun langsung menoleh, "Oh ya.. gue lupa kalo ada Dila," gumam Darren menepuk jidatnya.
"Mau titip apa?" tanya Darren. "Soto sama es jeruk?" sambungnya bertanya.
Dila menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Zain dan Darren pun segera membeli pesanan mereka.
Tinggallah Acha, Karin, dan Dila di meja tersebut. Tak ada percakapan antara Acha maupun Karin dengan Dila. Hanya Karin yang beberapa kali mengobrol dengan Acha.
Selang beberapa menit, Zain dan Darren pun kembali dengan membawa nampan berisikan pesanan mereka.
Darren pun segera meletakkan nampannya di atas meja.
"Makasih," ucap Acha dan Dila bersamaan pada Darren. Mereka berdua pun saling tatap untuk sesaat.
"Hm," balas Darren singkat dan kembali duduk di tempatnya.
"Makasih abang Zain!!" seru Karin langsung merampas nampan dari tangan Zain, dan mengambil makanannya.
Zain hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah sahabatnya yang beda dari yang lain itu.
...…***…...
__ADS_1
Hai.. Hai.. Jumpa lagi semuaa!! Makasih buat kalian yang masih stay.. Maaf ya, kalo masih ada typo ataupun kesalahan yang lain.. Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan cara like, komen n saran, juga klik favorit🤗
Sampai Jumpa di next episode🥰..