
"Jadi tadi malem cowok itu nelpon kamu??" tanya Acha setelah mendengarkan cerita Karin.
Karin mengangguk. "Nyebelin kan?? Dapet nomer gue darimana coba??" ujar Karin keheranan.
Acha terkejut. Ia baru ingat kalau kemarin cowok itu meminjam HP nya. Cepat-cepat ia pun langsung membuka WA nya. Dan benar saja, ternyata kemarin cowok itu mengirimkan nomer Karin dari HP Acha.
"Kenapa Cha??" tanya Karin saat melihat ekspresi Acha yang tiba-tiba berubah itu.
"Emm.. Maaf Karin,, sebenarnya kemarin si cowok itu pake HP nya Acha, dan Acha nggak tau kalo ternyata dia itu ngirim nomer kamu dari HP nya Acha.. Tapi beneran Acha nggak tau!! Maaf.." jelas Acha lalu menundukkan kepalanya.
Karin mengangkat kepala Acha agar tidak menunduk. Ia pun menatap kedua mata Acha. "Hey.. Kenapa kamu jadi sedih gitu sih? Ya udah sih, nggak papa.. Gue tau pasti kamu juga nggak bermaksud buat ngasih nomer gue ke dia kan??" ujar Karin lembut.
Acha yang mendengar itu pun langsung memeluk erat tubuh Karin. "Maaf.. Dan makasih karena kamu udah percaya sama Acha..".
"Santai aja kali, Cha.. Kayak sama siapa aja.." Karin membalas pelukan Acha. Semenit kemudian, ia pun melepaskan pelukan tersebut.
"Oh ya, Cha. Btw kok HP kamu bisa dipinjam sama tuh orang?? Dan itu kejadiannya kapan?? Kok gue nggak tau?? Emang kalian ketemu dimana??" beo Karin bertanya.
Acha pun menceritakan kejadian kemarin, mulai dari ia diajak pulang bareng sampai saat cowok itu meminjam HP nya. Sedangkan Karin fokus mendengarkan cerita Acha sampai selesai.
"Oh ya, Cha, kamu tau nggak namanya tuh orang??" tanya Karin setelah Acha selesai bercerita.
"Engga, soalnya dia itu nggak pake nametag sih!" jawab Acha. "Eh, Karin! Kenapa nggak kamu cek info whatsapp nya aja?? Siapa tau ada namanya gitu!!" usul Acha bersemangat.
"Iya ya! Kenapa gue nggak kepikiran?!" Karin pun langsung membuka profil nomer cowok itu, berharap tercantum nama cowok itu di profilnya.
Namun sayang, kenyataan tak sesuai dengan harapan mereka berdua. Di profil cowok tersebut tidak ada namanya, hanya kosong.
"Yahh..." keluh Acha dan Karin bersamaan.
"Tapi ya, Karin, kalo di liat-liat wajahnya lumayan juga lohh.. Kamu nggak tertarik apa??" ujar Acha menggoda Karin saat mereka melihat foto profil cowok tersebut.
"Huekk!! Lumayan darimana nya?! Muka nyebelin kek gini kamu bilang lumayan?! OMG, Cha!! Mata kamu rabun yah!!" Karin langsung memegang kedua pipi Acha, menelisik mata Acha.
"Ihh! Ya enggak lah!!" Acha langsung melepaskan tangan Karin dari pipinya. Melihat wajah lucu Acha yang tengah merajuk, membuat Karin terkekeh sendiri.
Tak lama, bel tanda masuk berbunyi, pelajaran pertama pun dimulai.
...----------------...
Teng.. tengg.. tengg..
Bel tanda istirahat berbunyi. Acha, Karin, Dila, Darren, dan Zain pun bergegas menuju ke kantin.
Sudah beberapa hari Dila bersekolah, Acha pun mencoba untuk mengakrabkan diri dengan Dila. Beberapa kali Acha mengajak Dila mengobrol, namun Dila seperti belum terbiasa dengan mereka.
"Oh ya, Dila.. Acha mau tanya, rumah kamu sama Darren dekat ya??" tanya Acha membuka pembicaraan dengan Dila sembari meminum es teh nya.
"Satu komplek," jawab Dila singkat.
Acha menganggukkan kepalanya mengerti. Sedangkan Karin dan Zain tampak menatap Dila dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
__ADS_1
Setelah mereka semua menghabiskan makanan mereka, mereka pun segera kembali menuju ke kelas.
"Eh kalian duluan aja, Acha mau ke toilet bentar!" ucap Acha pada sahabat-sahabatnya itu.
"Mau di temenin??" tanya Karin menawarkan.
"Nggak usah, kalian ke kelas duluan aja!" Acha langsung berlari menuju ke toilet.
.
.
Setelah selesai buang air, Acha pun hendak keluar dari toilet. "Lho, kok nggak bisa dibuka??" Acha terus mencoba membuka pintu toilet.
"Haloo.. Siapa di luar?? Tolong bukain pintunya dongg!!" teriak Acha sambil terus menggedor pintu.
Saat Acha hendak menelpon Karin, ia baru sadar ternyata HP nya ada di dalam tas. "Aduh! HP Acha di dalam tas lagi!! Terus gimana nih??!" ujar Acha bingung.
......................
Pembelajaran telah dimulai sedari tadi, namun Acha tak kunjung kembali dari toilet. Karin yang merasa cemas pun memutuskan untuk menyusul Acha.
"Maaf, Bu. Izin mau ke toilet," ujar Karin meminta izin pada Bu Guru.
"Ya udah sana, jangan lama-lama ya.. Kalo udah selesai langsung kembali ke kelas!" balas Bu Guru mengizinkan.
"Baik Bu, Terima kasih!" Karin langsung bergegas menuju ke toilet perempuan. Sesampainya di toilet, kedua bola matanya langsung menelisik seisi toilet.
"Acha disini!! Tolong bukain pintunya!!" teriak Acha dari dalam salah satu bilik.
Karin yang mendengar suara Acha langsung terkejut. Matanya tertuju pada satu bilik yang gagang pintunya diganjal menggunakan sapu.
Cepat-cepat Karin menyingkirkan sapu tersebut, dan berhasil membuka bilik tersebut. Tampak lah Acha yang ada di dalam bilik tersebut.
"Kamu nggak papa, Cha??!" ujar Karin panik, langsung mengecek keadaan Acha.
"Ihh.. Udah dong, Kar! Lagian nih liat! Acha nggak papa!!" balas Acha sambil memutar tubuhnya.
"Btw, Cha.. Kamu kok bisa ke kunci disini sih?? Pasti ada yang jahilin kamu nih!!" ucap Karin menerka-nerka.
"Siapa??" tanya Acha ikutan bingung.
"Kalo menurut gue, kayaknya Dila deh, Cha! Soalnya tadi itu-"
"Shutt!! Jangan gitu, Karin! Kita kan nggak tau kebenarannya. Bisa aja tadi ada anak lain yang jahil kan??" potong Acha pada Karin.
"Bukannya gue nge-fitnah, Cha.. Soalnya tadi itu habis kamu pergi ke toilet, Dila juga pamit mau ke kantin gara-gara HP nya ketinggalan.." jelas Karin serius.
Acha terdiam mendengarkan penjelasan dari Karin. Namun cepat-cepat ia menghapus pikiran buruk tersebut.
"Udah lah,, yang penting sekarang Acha udah bisa keluar, yuk balik ke kelas!" ajak Acha kepada Karin. Mereka berdua pun segera kembali ke kelas.
__ADS_1
Sesampainya mereka berdua di kelas, ternyata Bu Guru tidak ada. Mereka pun memutuskan untuk duduk di bangku mereka.
"Bu Guru kemana??" tanya Karin pada Darren dan Zain yang sedang sibuk menyalin tulisan di papan tulis.
"Ada urusan sebentar di kantor," jawab Zain tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku.
Darren langsung berhenti menulis. "Cha, kok lo lama banget di toilet nya??" tanya Darren serius.
"Kalian tau nggak sih? Tadi itu Acha dikunciin di dalem toilet!!" bisik Karin pada Darren dan Zain.
"Ha?! Kok bisa?!! Siapa yang ngunciin??" tanya Zain dan Darren pada Acha. Namun Acha hanya mengedikkan bahunya.
"Jangan-jangan Dila lagi, tadi kan pas lo ke toilet dia- Auuww!! Sakit bambankkk!!" Zain langsung mengelus-elus punggungnya yang dipukul oleh Darren itu.
"Lagian lo kalo ngomong jangan asal ceplos! Dila mana mungkin kayak gitu!!" ujar Darren membela Dila.
"Iya.. Bener kata Darren, kalian itu jangan asal nuduh tanpa ada bukti dong.." timpal Acha.
"Iya.. iya.." balas Karin dan Zain bersamaan.
Mereka berempat pun kembali fokus mencatat materi yang ada di papan tulis. Sekilas Acha melirik Dila, tampak Dila pun sedang menatap Acha dengan senyuman terukir di bibirnya. Melihat itu, Acha pun membalasnya dengan senyuman manisnya.
Tiba-tiba HP Dila berbunyi, Dila pun langsung membuka HP nya. Tampak pesan WA dari Darren.
.... ...
Dil, nanti lo pulang
sendiri bisa?? Gue ada
urusan bentar sama Acha
^^^Oke, santai aja^^^
^^^lagian gue juga^^^
^^^dijemput kok sama^^^
^^^supir gue^^^
Oke..
.......
Dila kembali menatap Acha yang sedang sibuk mencatat, kemudian tatapan nya beralih ke Darren yang tampak memperhatikan Acha dari belakang.
Darren yang merasa seperti sedang diperhatikan pun langsung menoleh ke arah Dila. Tampak Dila tersenyum ke arahnya. Ia pun membalas senyuman itu.
...…***…...
Hola readerss!! Makasih ya karena kalian masih mau baca kelanjutan kisahnya Acha dkk🤗 Maaf ya kalo masih ada kurang"nya.. Jangan lupa untuk selalu dukung author, dengan cara like, komen dan juga kasih saran supaya author bisa lebih baik lagi.. Klik fav juga bagi yang belum, supaya tau update kisahnya Acha...
__ADS_1
See you..😘