Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Murid Baru


__ADS_3

Tengg tengg teng..


Tanda pembelajaran akan dimulai. Darren dan Zain pun segera duduk di bangku nya, tepat dibelakang Acha dan Karin. Begitupun dengan murid yang lainnya.


Jam pelajaran pertama adalah fisika. Seluruh murid 10 IPA 1 sudah duduk di bangku mereka masing-masing.


Tap.. tap.. tap


Suara langkah kaki tegas yang semakin dekat terdengar menuju ke kelas mereka. Membuat jantung mereka berpacu lebih cepat. Tentu itu karena mereka takut dengan Bu Rina, guru fisika.


"Sepuluh detik!" gumam Gibran masih memejamkan kedua matanya guna mempertajam pendengarannya. Mendengar aba-aba dari Gibran membuat sebagian besar murid keringat dingin.


Mereka semua tahu, kalau perkiraan Gibran tak pernah meleset. Entah kenapa, tapi pendengaran Gibran memang tak ada yang bisa menandinginya. Sangat sangat sangat tajam. Bahkan hanya dengan mendengarkan langkah kaki saja, Gibran bisa tahu berapa jumlah orang tersebut dan siapa orang tersebut. Jika Gibran mengenal orang tersebut, maka ia akan langsung hafal dengan suara langkah kakinya.


Seketika Gibran membuka kedua matanya terkejut. Ada suara langkah kaki yang asing di telinganya. Langkah kaki itu terdengar berjalan di belakang Bu Rina, mengikuti Bu Rina.


"Kenapa, Gib?" tanya Tio, teman sebangku Gibran, saat melihat ekspresi terkejut Gibran.


"Ada orang asing!" seru Gibran, membuat yang lainnya langsung menatap Gibran penuh tanya.


"Siapa?!!" lirih mereka semua bertanya pada Gibran.


Gibran yang memang merasa tak mengenal suara langkah kaki itu hanya mengedikkan kedua bahunya.


Sedangkan di meja Darren, Zain yang duduk di sebelahnya seolah sedang menghitung mundur dengan jarinya.


Tiga..


Dua..


Satu!!


"Selamat pagi, anak-anak!!" sapa Bu Rina tegas, berdiri di depan meja kebesarannya.


"Pagi, Bu.." balas semua murid di kelas itu.


"Ibu ada pengumuman buat kalian semua!" tegasnya, membuat para murid menelan ludahnya.


Sedangkan Gibran dari tadi tak mendengarkan Bu Rina. Kedua matanya terpejam, memikirkan siapa kira-kira yang datang dengan Bu Rina.


"Kamu, masuk!" titah Bu Rina menatap ke arah pintu. Sontak para murid mengikuti arah tatapan Bu Rina.


Tap.. tap.. tap..

__ADS_1


Suara langkah seseorang berjalan memasuki kelas. Lalu ia pun berdiri di sebelah Bu Rina.


'Suaranya sama,' batin Gibran yang masih memejamkan kedua matanya. Ia pun membuka matanya, langsung menatap sosok tersebut, yang ternyata seorang perempuan.


"Baik, anak-anak. Mulai hari ini kelas kalian akan mendapat murid baru. Silahkan perkenalkan dirimu secara singkat!" tegas Bu Rina kepada perempuan tersebut.


"Halo teman-teman! Namaku Natasya Dila Mahendra, biasa dipanggil Dila. Semoga kita bisa akrab ya!!" ujar Dila antusias.


"Oke, sekarang kamu bisa duduk di bangku yang kosong. Em disebelah.." Bu Rina menunjukkan jarinya, mencari bangku yang kosong.


"Sini, bu! Sebelah saya kosong!" seru salah satu siswa, dia adalah Cika.


"Oke kamu duduk disana saja," balas Bu Rina.


Dila pun mengangguk mengerti, lalu ia pun segera berjalan menuju ke bangku sebelah Cika. Meja Cika kebetulan terletak di sebelah meja milik Acha.


Saat hendak duduk, Dila melirik Darren sekilas dan memberikan senyumannya pada Darren. Darren yang melihatnya, hanya membalas dengan senyum tipisnya.


"Baik, anak-anak sekarang kita mulai pelajarannya. Buka buku paket kalian halaman 78. Silahkan kalian kerjakan tugas kelompok yang ada di halaman tersebut. Tiap kelompok empat orang. Kelompok akan ibu bagi sesuai tempat duduk kalian, jadi silahkan meja baris ke satu dan tiga menghadap ke belakang sekarang!" titah Bu Rina tanpa jeda.


"Kalian kerjakan sungguh-sungguh, Ibu ada urusan sebentar di kantor. Nanti kalau Ibu kembali dan kalian belum selesai,, maka tugas akan Ibu tambah! Paham?!" sambungnya tegas.


Sontak semua murid pun menjawab dengan kompak, "Paham!!"


Semua murid pun langsung mematuhi perintah Bu Rina. Termasuk Acha dan Karin yang satu kelompok dengan Darren dan Zain. Tentu saja Zain sangat senang satu kelompok dengan Acha, karena nilai fisika Acha selalu tertinggi. Namun beda dengan Karin yang wajahnya tampak cemberut.


"Kamu kok cemberut gitu, sih, Karin?" tanya Acha saat melihat ekspresi Karin.


"Lagian gue sebel tau! Kenapa kita satu kelompok sama mereka? Nggak guna banget mereka itu! Pasti nanti yang mikir cuma kita.. sedangkan mereka? cuma bisa nyontekk!!" kesal Karin memutar matanya jengah.


"Eh eh ehh!! Lo yaa kalo ngomong... suka bener, hahaha!!" tawa Zain, disusul oleh Acha.


Darren yang melihat Acha tertawa pun tersenyum tipis.


"Ketawa lagi!! Dasar lo!! Temen nggak guna!!" marah Karin. Kepalanya sudah berasap-asap seperti kebakaran. Wajahnya juga memerah saking emosinya.


Saat Karin hendak membeo lagi, Tiba-tiba sebuah suara menghentikan nya.


"Udah.. udah.. Woii! Kalian disuruh ngerjain malah ribuut mulu!! Gue aduin ke Bu Rina mau lo?!" seru Gibran masih dengan menulis.


"Apaan lo ikut campur segala?! Berani lo, hah?!!" seru Karin berdiri dari duduknya, tidak terima ditegur oleh Gibran.


Gibran tak menanggapi ocehan Karin. Ia lebih memilih untuk fokus pada pekerjaannya.

__ADS_1


"Karin.. Udah dong.." Acha kembali mengajak Karin duduk. "Mereka kan teman kita, masa sama teman mau berantem terus?!" nasihat Acha.


Karin pun langsung duduk menuruti Acha. "Hufftt.. sabar Karin!" gumam Karin, mencoba meredam emosinya.


"Dan kamu jangan marah-marah terus dong,, nanti cepat tua lho," ledek Acha.


Sontak membuat Darren dan Zain tertawa.


"Pfftt, hahaha.. Bener tuh! Emang lo mau tua sebelum waktunya?! Hahaha!!!" tawa Zain dan langsung mendapat tatapan tajam dari Karin.


"Udah udah,, kalo gini kapan kita mau selesainya?!" lerai Darren. Acha mengangguk setuju dengan Darren.


Akhirnya mereka berempat pun mulai mengerjakan tugas. Beberapa kali mereka tak paham, dan Acha langsung menjelaskannya pada mereka.


Sesekali mereka terlihat tertawa bersama, entah karena lelucon dari Zain, atau pun karena kelucuan tingkah Karin dengan Zain.


Sedangkan di meja lain, terlihat Dila yang senantiasa menatap kebersamaan mereka. Dari sorot matanya, tampak tak biasa. Entahlah, tatapannya kepada empat sekawan itu sangat sulit untuk diartikan.


Sekitar 15 menit, Acha dan ketiga sahabatnya sudah menyelesaikan tugas itu. Membuat yang lainnya heran tak percaya, karena mereka saja baru mengerjakan setengahnya.


Acha dan ketiga sahabatnya pun melanjutkan dengan saling berbagi cerita. Namun entah kenapa apa pun yang mereka ceritakan, ujung-ujungnya pasti mereka akan ghibah tentang guru-guru mereka.


Selang beberapa menit, Bu Rini pun kembali dari kantor.


"Oke anak-anak, sekarang kumpulkan tugas kalian ke meja bu guru!" perintah Bu Rini.


Secara bergantian, mereka mengumpulkan tugas mereka ke meja Bu Rini. Bu Rini menghitung jumlah buku di depannya tersebut.


"Dila!!!" serunya tampak ganas.


Sontak semua murid menoleh ke arah Dila yang sedang asyik menatap Darren tanpa berkedip.


"Dil! Dila!!" bisik Cika mencolek-colek pinggang Dila.


...…***…...


Halo semuaa!! Makasih ya buat kalian yg slalu dukung author noob ini😁 Maafkanlah author bila masih ada typo ataupun crita yg masih kurang seru..


Jangan lupa buat like, komen n saran, klik favorit,, dann.. selalu dukung author🤠


Terima kasih🙏


Sayonaraa..!!

__ADS_1


__ADS_2