Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Menyelamatkan Acha


__ADS_3

"Bang Andra mulai berubah semenjak kecelakaan tahun lalu.. Kecelakaan maut yang merenggut banyak nyawa, termasuk ayah saya.. Mendengar kabar bang Andra kecelakaan, ayah kena serangan jantung dan.. tak bisa di selamatkan.." Darren berhenti bercerita, tampak setetes air jatuh dari pelupuk matanya.


Mendengar cerita Darren, Rega membisu. Merasa iba terhadap Darren yang ternyata seorang anak yatim. Ia menatap sendu Darren yang tampak menunduk mengusap pipinya.


Darren melanjutkan ceritanya. "Setelah pemakaman ayah, Bang Andra ditangkap sama polisi, karena polisi menetapkan dia sebagai tersangka. Memang kecelakaan itu kesalahan Bang Andra, yang menyetir dalam keadaan mabuk.. Setelah kecelakaan Bang Andra keliatan baik-baik aja,, t7api siapa sangka ternyata ia mengalami kerusakan parah pada mentalnya. Polisi pun membebaskan Bang Andra dari hukuman untuk di rawat di Rumah sakit jiwa."


Darren menghela napasnya. "Disaat saya dan bunda saya menjenguk Bang Andra, ternyata Bang Andra nggak ngenalin kami, tapi bukan karena amnesia, karena hanya kami berdua yang tak diingat oleh Bang Andra. Tak hanya itu, bahkan kata dokter, Bang Andra jadi mudah terobsesi terhadap suatu hal.. Apapun yang diinginkan, harus ia dapatkan.


Pernah Bang Andra menyukai salah satu perawat di sana, tapi perawat itu tak mau membalas perasaan Bang Andra, karena memang perawat itu sudah bertunangan. Karena perawat itu selalu menolak Bang Andra, membuat Bang Andra semakin terobsesi. Hingga suatu hari perawat itu hampir saja dilecehkan oleh Bang Andra. Perawat itu terus melawan Bang Andra,, hal ini membuat Bang Andra marah dan mencekik perawat itu hingga.. meninggal.." tutur Darren lirih.


Degg...


"Acha!!" Rega langsung teringat adeknya itu. Merasa bodoh, karena sampai melupakan bahwa adeknya sedang diculik oleh ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa).


Rega langsung menginjak gas. Melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum. Dalam hatinya ia terus berdoa, semoga tidak terjadi hal buruk pada Acha.


Begitupun dengan Darren. Ia berdoa semoga saja kakaknya itu tidak melukai Acha. Jujur ia merasa bersalah, karena ternyata kakaknya lah yang menculik Acha.


...----------------...


Sementara itu, di sebuah gedung kosong yang sepertinya masih dalam proses pembangunan.


"Euh.." Acha merasakan pusing pada kepalanya. Ia membuka kedua matanya.


Gelap! Sangat gelap. Acha tak bisa melihat apapun selain kegelapan. Tangan dan kakinya terikat kuat. Tubuhnya terbaring di atas tanah. Bahkan mulutnya terasa di lakban.


"Eum!! Eumm!!" Acha berteriak tanpa suara. Takut. Itulah yang Acha rasakan saat ini.


"Sudah bangun??" suara seorang laki-laki terdengar. Membuat Acha langsung terkejut. Ia mempertajam penglihatannya, mencari si pemilik suara. Namun percuma, terlalu gelap bagi Acha hingga ia tak bisa menemukan sosok pemilik suara tersebut.


"Eumm!! Eumm!!!" teriak Acha lagi dengan suara yang lebih keras.


Langkah kaki terdengar menuju ke arahnya. Acha semakin takut, takut jika laki-laki itu memiliki niat jahat terhadapnya atau bahkan akan melukainya.


Sepasang kaki berdiri tepat di depan wajah Acha. Laki-laki itu pun berjongkok di depan Acha, melepas lakban yang menempel di mulut Acha.


"Auww!" rintih Acha setelah lakban itu terlepas dari mulutnya. Ia menatap lekat laki-laki di depannya dalam kegelapan. Tak begitu jelas, namun Acha mengenal siluet laki-laki itu.


"Kak-Andra??!" kedua mata Acha membola tak percaya.


"Hai..!" Andra tersenyum menakutkan.

__ADS_1


"Tapi.. Kenapa?? Salah Acha.. apa??" lirih Acha tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Andra menyeringai, menampilkan senyuman yang membuat Acha bergidik merinding.


"Lo emang nggak ada salah kok,, gue cuma perlu abang lo.." sinis Andra hendak menyentuh dagu Acha.


Dengan cepat Acha menghindari tangan Andra. "Ada perlu apa Kak Andra sama Kak Rega?! Jangan pernah berani macem-macem sama Kak Rega!" Acha tersenyum sinis menatap Andra. Seolah tak ada ketakutan dari tatapannya itu.


"Cih! Mau gue berurusan sama Rega kek! Atau sama yang lainnya,, apa urusan lo?!! Cewek mending nggak usah ikut campur urusannya cowok,, kalo nggak mau kenapa-napa..! Hahaha!!" balas Andra dengan tawa menggelegar, menggema di tempat itu.


"Jelas itu adalah urusan Acha! Dia kakak Acha! Jadi, kalo sampai Kak Andra berani nyakitin Kak Rega, apalagi keluarga Acha,, Acha nggak akan tinggal diam! Acha pastiin Kak Andra bakal di tangkap oleh polisi dan akan mendekam di dalam sel!!" kini Acha mengancam Andra. Kedua matanya menatap tajam Andra.


Mendengar Acha menyebut sel, membuat seketika wajah Andra memerah. Kesal dan emosi membara dalam hati Acha. Kedua tangannya kini sudah berada di udara, hendak menampar pipi Acha. Sontak Acha langsung menutup kedua matanya. Dan..


Prokk.. Prokk.. Prokk..


Tap..


Tap..


Tap..!


Dari kejauhan, sosok tersebut berjalan ke arah Acha. Acha menelisik siluet tersebut. Seorang perempuan namun tak tampak wajahnya karena terlalu gelap.


Perempuan itu semakin dekat, dan semakin dekat. Hingga akhirnya kini ia ada di depan mata Acha. Remang-remang cahaya bulan, membantu Acha untuk melihat sekitarnya.


Percaya tak percaya dengan apa yang ia lihat..! Melihat sosok perempuan yang ia kenal dan anggap sebagai teman, kini malah menculiknya.??


"...."


...----------------...


Mobil Rega telah sampai di alamat yang Andra kirimkan. Mereka berdua segera turun. Menatap bangunan kosong yang masih dalam proses pembangunan tersebut.


Saat Rega hendak melangkah kan kakinya, tiba-tiba Darren menghentikannya. "Ada apa??" Rega menatap Darren bingung.


"Biar saya aja Bang, yang masuk.. Saya takut kalo ternyata abang saya punya niat jelek ke abang,, Abang tunggu disini, kalo sampai setengah jam saya dan Acha belum keluar, abang telpon polisi dan minta bantuan.." Darren melangkahkan kakinya. Baru dua langkah, Rega langsung menghentikannya.


"Kalo dia nekat apa-apain lo, gimana??" tanya Rega khawatir.


"Keselamatan Acha lebih penting bang..!" ucap Darren dengan tersenyum. Ia pun kembali melangkahkan kakinya ke tempat yang dimaksud oleh Andra.

__ADS_1


Cukup sulit bagi Darren untuk menemukan tempat yang dimaksud oleh Andra. Ia malah seperti tersesat di dalam labirin, hanya berputar-putar lalu kembali ke tempat semula.


"Cha,, lo dimana sih.." gumam Darren cemas. Sedari tadi perasaannya sudah terasa tak enak. Khawatir atau apalah,, yang jelas sangat mengganjal di hati.


Seketika Darren berhenti. Ia mempertajam pendengarannya, seperti mendengar suara perempuan tertawa dan juga suara jeritan kecil. "Nggak mungkin setan, kan??" tanya nya pada diri sendiri.


Darren melangkahkan kakinya, menuju ke sumber suara itu berasal. Sampai ia tiba di depan suatu ruangan yang sangat gelap. Ruangan itu memang tak ada daun pintunya.


Dengan perasaan was-was, takut jika yang ia dengar bukanlah suara manusia melainkan makhluk astral, ia mengintip ke dalam ruangan itu. Gelap. Tak terlihat apapun selain kegelapan. Namun suara itu semakin jelas. Bahkan ia mendengar suara seseorang yang menyebut nama Acha.


"Acha??" lirih Darren terkejut. Ia pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan tersebut. Tanpa cahaya senter, hanya bermodal cahaya bulan yang masuk lewat celah yang ada.


Hingga akhirnya ia menemukan seseorang yang ia cari. "Acha!!!" Darren langsung berlari menghampiri Acha yang sudah babak belur. Memeluk Acha yang sudah tak berdaya.


Bughh!!


Pemukul kayu tersebut beradu dengan punggung Darren yang memeluk Acha.


"Dar-Darren?!" perempuan yang sedari tadi memukuli Acha langsung gemetar, menjatuhkan pemukul yang ia pegang di samping Darren.


"Cha! Acha!! Bangun Cha!!" Darren menepuk kedua pipi Acha, mencoba menyadarkan Acha yang tengah pingsan.


Acha membuka kedua matanya. "Dar-ren??" senyuman terukir di wajah Acha.


"Iya, ini gue, Cha.. Lo yang kuat ya.." Darren langsung menyandarkan tubuh Acha di dinding. Tangannya langsung meraih pemukul kayu yang tergeletak di sampingnya.


Tangan Darren sudah melayang dengan sebuah pemukul, hendak memukul orang yang telah menyakiti Acha tadi.


"Dasar lo breng-" seketika Darren menghentikan tangannya.


Tang!!..


Pemukul kayu itu terlepas dari tangan Darren. Ia kini menatap tak percaya perempuan yang nyaris ia pukul itu.


"Kenapa??"


...…***…...


Haloo readersss tersayangg🥰🥰 Maaf ya baru up, maklum masih amatiran, hehe😄 Sebelumnya makasih ya, buat kalian yang udah dukung karya author ini.. Maaf kalo masih ada kurang"nya, harap dimaklumi🙏 Jangan lupa untuk terus dukung author dengan cara like, komen n saran,, dan klik fav bagi yang belum😃.. Itu aja,,


See You😘😘

__ADS_1


__ADS_2