Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Kehilangan


__ADS_3

"Uhuk.. Uhukk.. Uhukk..!" Acha terbatuk setelah tangan Andra terlepas dari lehernya. Nafasnya langsung terengah-engah.


"Kamu nggak papa, Cha??!" tanya seseorang yang telah menendang Andra. Ia tak lain adalah Rey.


Acha langsung menatap Rey yang telah menyelamatkannya dari kegilaan Andra. "Kak-Rey.. Hiks hiks!!" Acha langsung menangis tersedu-sedu. Rey tentu mencoba menenangkan Acha. Ia pun lekas melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Acha.


"Kak, awas!!" teriak Acha saat melihat Andra hendak memukul Rey dari belakang.


Sontak Rey langsung menangkis tangan Andra. Ia pun langsung meladeni Andra yang terus-terusan ingin menghabisinya.


Sementara Acha, ia kini sudah bebas dari tali-tali yang mengikatnya. Ia pun terdiam sejenak menatap Dila. Beberapa detik kemudian, ia langsung bergegas melepaskan Dila dari tali yang mengikatnya.


Dila termenung, tak menyangka Acha masih mau membantunya.


"Darren, bangun!!" teriakan Acha berhasil membuyarkan lamunan Dila. Ia pun langsung berlari menghampiri Acha dan Darren.


"Darren, bangunn!! Lo bisa denger gue kan?? Gue mohon, bangunn!!" teriak Dila mengguncang tubuh Darren. Namun hal itu percuma, karena Darren tak kunjung bangun juga.


Sementara mereka berdua tengah mencoba membangunkan Darren, Rey kini tengah bertarung melawan Andra. Kekuatan keduanya seimbang. Rey memukul Andra, dan Andra memukul Rey.


Karena merasa tak bisa mengalahkan Rey, terpikirlah cara licik untuk mengalahkan Rey. Ia pun mengambil pemukul kayu tadi. Berjalan menghampiri Acha dan Dila yang tengah sibuk membangunkan Darren.


Pemukul kayu itu sudah melayang, menjadikan kepala Acha sebagai targetnya.


"Awas Chaa!!!" teriak Rey dan langsung berlari memeluk tubuh Acha.


Bugh!!


Pemukul itu tepat mengenai kepala belakang Rey. Membuat Rey seketika pingsan.


"Kak Rey!! Bangun kak!" Acha langsung memangku kepala Rey. Kedua tangannya seketika berlumuran darah.


"Da-darah?!" gumam Acha terkejut.


"Kena juga lo!!" sinis Andra menyeringai. Ia pun melirik sekilas Darren yang sudah terkulai. "Argghh!!" teriaknya merasakan sakit yang teramat sangat di bagian kepalanya.


Muncul bayang-bayang seorang wanita paruh baya dan seorang anak laki-laki.


'Berjanjilah kepada bunda untuk tidak menyakiti orang lain lagi..' ucap wanita paruh baya tersebut dengan lembut.


'Abang!! Darren kangen sama abangg!!' seorang anak kecil laki-laki berhamburan memeluknya.


"Arghh!! Siapa mereka?? Siapa dia??" ia kembali menatap Darren bingung. Kepalanya terasa semakin sakit, dan pusing.


"Itu dia Pak orang yang telah menculik adek saya! Tangkap dan hukum dia Pak!!" seru Rega yang telah berada di sana dengan beberapa anggota kepolisian.


Polisi itu pun langsung menghampiri Andra yang masih berjongkok karena merasa sangat sakit pada kepalanya.


"Anda kami tangkap, atas dugaan penculikan dan penganiayaan. Anda berhak untuk tetap diam, silahkan Anda hubungi pengacara Anda." ujar Pak polisi, kemudian memborgol Andra. Tak ada pemberontakan dari Andra. Perasaannya tak karuan, memikirkan sosok wanita dan anak kecil yang membayang di pikirannya.


Rega langsung menatap Rey dan Darren yang sudah tak sadarkan diri. Beruntung ia juga sudah memanggil ambulans untuk berjaga-jaga bila ada yang terluka.

__ADS_1


Rey dan Darren langsung dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans. Dila mendampingi Darren, sedangkan Acha dengan Rey.


.


Sementara itu, di dalam ambulans Darren.


"Darren, bangunn! Gue mohon bangun, hiks.. hiks.." tangis Dila tak berhenti. Ia menatap Darren yang sedang mendapat pertolongan pertama dari para perawat itu.


"Gue minta maaf udah buat lo kecewa,, gue nyesel.. Gue mohon bangun, hiks!"


"Gue janji gue bakal berubah.. Gue nggak akan egois, jadi gue mohon Darren,, bangunn!!"


Dila terus berdoa dalam hatinya untuk keselamatan Darren. Perasaan bersalah, takut kehilangan, semua itu menghantui pikiran Dila.


Tak lama, jemari Darren bergerak. Dila yang melihat itu langsung bersyukur dan lega.


"Di-la.." lirih Darren.


"Iya, gue disini.. lo yang kuat ya,, bentar lagi kita sampai di rumah sakit.." ucap Dila penuh air mata.


"Gu-gue min-ta ma-af, udah nam-par lo.. Gue-" Darren terbata.


"Shhs.. Lo nggak usah bilang gitu, gue yang salah karena udah jahat.. Maafin gue ya.." ucap Dila memotong ucapan Darren. Sebisa mungkin Dila menahan air matanya agar tak jatuh. Namun sepertinya itu percuma. Air matanya terus mengalir deras di kedua pipinya.


Tangan kanan Darren terulur. Mengusap pipi Dila yang basah. Hal ini semakin membuat Dila merasa bersalah. Hatinya terasa sangat sakit, melihat keadaan Darren saat ini. Ia menatap Darren. Air matanya kini semakin deras.


"Gue.. ti-tip abang gue.. To-long ja-ga bang An-dra... Gue sa-yang sa-ma lo..." lirih Darren dan kembali tak sadarkan diri.


"Darren!! Bangunn!!! Darren..!! Hiks.. hiks.." tangis Dila semakin menjadi-jadi. Takut kehilangan sahabat yang ia cintai itu.


"Mereka akan baik-baik aja kan, Kak?? Mereka nggak akan-" ucapan Acha langsung dipotong oleh Rega.


"Shhs.. Mereka pasti baik-baik aja. Kamu yang tenang, ya.. Sekarang kamu diobati dulu ya.. Kamu juga terluka, Cha.." bujuk Rega sambil memeluk Acha, mencoba untuk menenangkan adiknya itu.


Acha langsung melepas pelukan Rega. "Engga! Acha mau disini,, Acha mau nungguin Darren sama Kak Rey!" tolak Acha berkaca-kaca.


Rega menghela napasnya. Memilih untuk membiarkan adiknya. Jujur, ia juga merasa sangat khawatir dengan Rey dan Darren. Terlebih lagi mereka terluka karena mencoba menyelamatkan Acha.


Acha dan Rega terus mondar-mandir di depan pintu UGD. Hal itu berbeda dengan Dila. Sedari tadi ia terdiam mematung di kursi tunggu. Tiba-tiba ia berdiri, melangkah mendekati Acha.


Brukk!!


Dila langsung berlutut di hadapan Acha. Tubuhnya gemetar, dengan kedua tangannya mencengkeram kuat celana yang ia kenakan. Hal ini tentu saja membuat Acha dan Rega bingung.


"Maaf.. Semua ini salah gue.. Gara-gara cemburu, gue sampai tega nyulik lo.. Maaf, hiks.. hiks.." Dila benar-benar menangis, menyesali perbuatannya.


Acha terdiam. Lalu ia pun berjongkok di depan Dila.


"Acha udah maafin kamu, kok.. Yang lalu biarlah berlalu.. Kamu nggak udah nyalahin diri kamu sendiri. Sekarang, yang penting itu keselamatan Darren dan Kak Rey," Acha langsung membantu Dila untuk berdiri.


Tak lama, seorang wanita paruh baya datang dengan langkah tergopoh-gopoh.

__ADS_1


"Darren..! Dimana Darren?!" tanya wanita tersebut. Gurat kecemasan terukir jelas di wajahnya. Kedua matanya tampak sembab karena menangis. Wanita tersebut tak lain adalah bunda Darren.


"Dila, dimana Darren, nak?? Dia baik-baik aja kan??" Bundanya Darren bertanya pada Dila. Dila tak menjawab, dirinya malah kembali terisak.


"Maafin Dila, Bunda.. Semua ini salah Dila.. Maaf, maaf, Bunda.." Dila kembali berlutut. Kali ini di hadapan bundanya Darren.


Bunda Darren hanya bisa berdoa, berharap tidak terjadi hal buruk pada putra nya itu. Beliau pun memeluk Dila yang masih berlutut. Ikut menangis, namun tetap menenangkan Dila agar tabah.


"Sebenarnya apa yang terjadi?? Ceritakan kepada Bunda.." pinta bunda Darren.


Dila pun akhirnya menceritakan semuanya kepada bundanya Darren.


.


.


"An-Andra??" bunda Darren terkejut mendengar cerita dari Dila. Jadi selama ini Andra sudah tak di rumah sakit jiwa?? Dan selama ini Dila tau hal teresebut?? Lalu kenapa ia tak pulang ke rumah??


Berbagai pertanyaan muncul di kepala ibunda Darren.


Beberapa saat kemudian, pintu UGD terbuka. Tampak dua orang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Saudara Rey telah melewati masa kritisnya. Jadi kalian tak perlu terlalu khawatir dengan keadaan nya." tutur dokter yang menangani Rey.


"Tapi.."


Kedua dokter itu saling pandang.


"Tapi apa, Dok??" tanya mereka semua yang ada di sana.


"Maaf kami telah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain.. Saudara Darren tidak bisa kami selamatkan.." sesal dokter yang menangani Darren.


Degg..!


Jantung mereka semua seakan berhenti berdetak kala mendengar ucapan dokter itu.


Senyap. Tak ada suara yang keluar dari bibir mereka semua.


Sebuah brankar didorong keluar oleh beberapa perawat. Menampilkan seseorang dengan kain putih menutupi seluruh tubuhnya.


Acha menghampiri brankar tersebut. Membuka perlahan kain putih itu. "Dar-ren..?" lirih Acha dengan mulut gemetar. Melihat wajah pucat pasi Darren, tubuh Acha langsung lemas. Dengan sigap, Rega langsung menyangga tubuh Acha yang hampir jatuh.


Bruukk


Ibunda Darren langsung jatuh terduduk. Air mata seketika membasahi pipinya. "Darren..!!!" teriaknya histeris. Menangis sejadi-jadinya.


Sedangkan Dila, dengan langkah gemetar menghampiri brankar tersebut. Tangannya gemetar hebat, terulur untuk mengusap pipi Darren. Di tatapnya wajah pucat yang penuh lebam itu.


"Darren.. gue mohon,, bangun.. Gue mohon bangun Darren!!" teriak Dila berderai air mata. "Kenapa lo, ninggalin gue..hiks hiks" lirih Dila sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.


...…***…...

__ADS_1


Haii readerss.. Maaf kalo masih ada kekurangan ya🙏 jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya, dengan cara like, komen n saran, dan klik fav bagi yang belum👇Ayo dukung author supaya bersemangat dan bisa jadi lebih baik lagi🥰🥰


See You😘😘


__ADS_2