
Acha mulai mendorong pintunya pelan. Mata Acha melotot saat melihat keadaan dalam rumah Rey yang tampak seperti kapal pecah menurutnya.
Pecahan figura dan guci berserakan dimana-mana. Saat matanya tengah menelisik isi ruangan, tiba-tiba ia dikejutkan dengan lemparan sebuah vas yang menuju ke arahnya.
Praanggg...
Seketika vas tersebut pecah tepat diatas kepala Acha. Beruntung Acha langsung menunduk, menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Jadi vas itu tak mengenai kepalanya, melainkan mengenai dinding.
"Auww!" rintih Acha saat pecahan vas itu berjatuhan menimpanya. Akibatnya, kedua tangannya yang masih menutupi kepalanya penuh dengan luka goresan.
Seketika Rey yang ternyata ada disana bersama dengan orang tuanya menoleh ke sumber suara. Rey tampak sangat terkejut melihat kehadiran Acha, ia langsung melirik tajam ke arah Papa nya.
Ternyata Papa Rey lah yang melemparkan vas tadi ke arah Acha.
Acha yang masih memejamkan kedua matanya sambil menunduk, terkejut saat tiba-tiba sebuah tangan menarik paksa dirinya ke luar rumah.
"Aw aw.. sakit Kak!" rintih Acha karena tangannya yang terluka ditarik oleh Rey.
Rey pun menghentikan langkahnya. Kini mereka berdua sudah ada di depan rumah Rey. Ia pun melepaskan tangan Acha.
Acha langsung menatap Rey. Seketika ia terkejut saat melihat dahi Rey yang berdarah.
"Kak, ini kenapa??" tanya Acha hendak menyentuh dahi Rey. Namun sebelum tangan Acha sampai, Rey langsung menepisnya.
"Kenapa lo masuk?!" wajah Rey tampak sedang menahan amarah.
"Lo??" gumam Acha lirih, mengulangi panggilan Rey pada dirinya.
"Ngapain lo masukk?!!" bentak Rey. Emosinya kini sudah tak mampu ia tahan.
Acha terkejut mendengar bentakan Rey. Ia hendak menjawab, tapi entah mengapa mulutnya terasa gagu, tak bisa berbicara. Ia hanya bisa menerima amarah Rey yang sudah meluap-luap.
"Gue tadi udah bilang tungguin disini,, terus ngapain lo masukk?!!"
"Jangan mentang-mentang, gue suka sama lo, terus lo bisa seenaknya ya di rumah gue!!"
"Lo pikir lo siapa? Hah!!"
lagi..
lagi..
__ADS_1
dan lagi..
Bentakan demi bentakan terus keluar dari mulut Rey yang biasanya selalu manis pada Acha.
Hatinya serasa bagai disayat-sayat, bahkan rasanya lebih menyakitkan dari luka nyata yang memenuhi tangannya.
Merasa sudah tak sanggup lagi menerima bentakan lagi dari Rey, seketika mulut Acha tergerak membalas semua bentakan Rey.
"Cukup, Kak!!" teriak Acha tak kalah lantang dari Rey.
Membuat Rey seketika terdiam.
"Kakak tanya kenapa Acha masuk?? itu karena Acha kuwatir sama Kakak!!" Acha menatap Rey dengan berlinang air mata.
"Dan Kakak tanya siapa Acha?? Iya, Acha sadar kok kalo Acha itu bukan siapa-siapanya Kak Rey. Acha tau itu kok!" ujar Acha tersenyum getir. Air mata sudah tak mampu ia bendung lagi. Dengan cepat ia langsung menghapus air matanya.
"Acha tau kalo Acha itu bukan siapa-siapanya Kak Rey... " ulangnya kembali menghapus air mata yang senantiasa mengalir di pipi nya.
Seketika Rey tersadar akan perbuatannya tadi. Ia sadar telah menyakiti perasaan Acha hingga membuat Acha menangis.
Ia memang membenci melihat orang lain mengetahui kehidupan keluarganya yang tidak harmonis. Maka dari itu lah tadi Rey sangat murka kala melihat Acha mengetahui masalah keluarganya itu.
Tangan Rey bergerak hendak mengelus kepala Acha. Namun seketika Acha langsung menepisnya.
"Bukan git-"
Belum sempat Rey menyelesaikan omongannya, dengan suara yang gemetar Acha langsung memotongnya.
"Maka dari itu, mulai sekarang..Kak Rey.. nggak perlu lagi repot-repot jemput Acha.. Kak Rey nggak perlu hubungi Acha.. Nggak usah temui Acha!!" ujarnya masih terisak, ia pun langsung berlari meninggalkan Rey.
Acha terus berlari menjauh dari rumah Rey. Namun sayang, Rey dengan mudahnya berhasil menyusul.
"Cha, tunggu.." cegah Rey, memegang pergelangan tangan Acha.
"Lepasin Acha!!" teriak Acha menarik tangannya hingga terlepas.
"Taxii!!" seru Acha menghentikan sebuah taxi. Ia pun segera masuk, namun lagi-lagi Rey menghalanginya. Rey langsung memegangi gagang pintu taxi tersebut.
Dengan sekuat tenaga Acha mencoba melepaakn tangan Rey dari pintu. Beruntung usahanya membuahkan hasil. Taxi pun segera melaju meninggalkan kalian.
Rey segera kembali ke rumahnya, mengambil motor dan helm nya. Dengan kecepatan penuh ia mencoba menyusul taxi Acha.
__ADS_1
Sampai di jalan raya, Acha menoleh ke belakang, ternyata Rey masih mengikutinya.
"Pak, tolong ngebut lagi ya, Pak.." mohon Acha dengan wajah sembabnya.
Supir taxi itu pun menambah kecepatan mobilnya. Rey yang melihatnya, menambahkan kecepatan motornya.
Taxi Acha melewati lampu lalu lintas. Saat Rey dengan motornya hendak melewati, tiba-tiba sebuah mobil menabraknya dari arah berlawanan.
Tiinnn!!!!
Seketika Rey terlempar dari motornya. Tak sampai disitu, mobil yang tadi menabraknya, tertabrak oleh sebuah bus yang sedang melaju juga.
Tiinn tiinnnn!!
Tiinnn
Bus itu pun oleng, seketika langsung menabrak sebuah taxi lain. Seketika jalanan langsung kacau. Kecelakaan beruntun yang menyebabkan jalanan langsung macet.
Acha yang melihatnya, langsung meminta supir taxi berhenti. Syok sudah pasti Acha rasakan. Namun ia mengesampingkan rasa itu. Ia pun segera berlari menuju pusat kekacauan itu.
Samar-samar Rey melihat Acha yang berlari ke arahnya, hingga akhirnya Rey pun tak sadarkan diri.
"Kak Reyy!!" teriak Acha dengan tangisannya.
"Kak! Bangun, Kak!!" Acha mencoba membangunkan Rey, namun percuma. Rey yang sudah berlumuran darah itu tak kunjung bangun juga.
Wiu.. wiu.. wiu..
Ambulance berdatangan bersama dengan beberapa mobil polisi.
Rey segera dibopong ke sebuah brankar, begitu pula dengan korban lainnya. Bukan hanya tiga atau empat, melainkan belasan korban akibat kecelakaan ini.
Acha berdiri menatap kendaraan-kendaraan yang sudah tak berbentuk itu. Tangisan kesakitan dan teriakan minta tolong terus menggema di telinganya.
Dokter dan perawat terus berlalu lalang melewatinya. Aparat kepolisian langsung memasang garis polisi di TKP.
Mata Acha kosong, menatap ke sembarang arah. Beberapa perawat mendorong sebuah brankar, seorang korban dengan wajah berlumuran darah terbaring di atas brankar itu.
Seketika kaki Acha lemas, membuatnya langsung jatuh terduduk. Jantung nya berdegup sangat kencang, pikirannya kacau balau. Air mata langsung mengalir deras di pipinya kala melihat sosok itu.
...…***…...
__ADS_1
(Hola readerss.. penasaran ama kelanjutannya?? Makanya ayo like n komenn.. jangan lupa klik favorit biar nggak ketinggalan yaa.. terus dukung author biar author semangat up nya🤗)
Sayonaraa👋