
"Enaknya makan apa ya Kar??" ucap Acha sembari melihat-lihat aneka makanan yang tersedia di kantin. Namun yang ditanya tak menjawab. Merasa pertanyaannya diabaikan, Acha pun langsung menepuk pundak Karin.
"Karin!! Kamu kok malah bengong sih?!" seru Acha menyadarkan Karin.
"Eh, iya iya! Kenapa, Cha??" balas Karin tersadar dari lamunannya. Acha berdecak, geleng-geleng kepala.
"Masih kepikiran dia?? Udahlah lupain aja!!" ujar Acha kembali fokus memilih makanan.
"Gue? Mikirin dia?? Jijik tau nggak sih!!" elak Karin yang sebenarnya memang masih kepikiran kejadian tadi.
"Mikirin siapa??" tanya Zain yang tiba-tiba sudah di belakang mereka. Tentunya dia bersama dengan Darren dan Dila.
"Apaan sih lo, nimbrung mulu!!" sewot Karin.
"Gue kan tanya sama Acha, wle!! Emang mikirin siapa sih, Cha??" ujar Zain lagi bertanya pada Acha.
"Itu.. jadi tadi itu Karin pipinya di-emm!!" belum selesai Acha menjawab pertanyaan Zain, tangan Karin langsung membekap mulutnya.
Mata Karin langsung melotot pada Acha, mengode agar tidak menceritakan kejadian tadi kepada siapa pun. Setelah sekiranya Acha paham, ia pun melepaskan tangannya dari mulut Acha.
"Pipinya Karin kenapa, Cha??" tanya Darren ikut penasaran. Sedangkan Dila hanya acuh, tak peduli dengan percakapan mereka.
"Ooh.. Jadi tadi itu pipinya Karin dicium!!" ujar Acha dengan santainya masih memilih makanan.
"Apaa?!!!" seru Zain dan Darren tak percaya. Begitu pun dengan Karin yang langsung melotot pada sahabatnya itu.
Sontak Zain langsung mengalihkan perhatiannya pada Karin. Karin yang merasa diperhatikan pun bingung harus bersikap bagaimana.
"Kalian kok heboh gitu sih?! Dengerin dulu makanya.. Acha belom selesai ngomong!!" sungut Acha cemberut. "Jadi tadi itu pipinya Karin dicium,, sama lalat hijau yang guedeee.. bangett.. kan jijik! Ya nggak Kar??" Acha mengerlingkan mata kirinya pada Karin. Karin yang melihatnya pun menjadi paham.
"Iya! Lalat gedeee bangett.. Kan banyak banget tuh kuman and bakterinya!! Iyuhh.. Jijik banget guee!!" ujar Karin meyakinkan kedua sahabatnya.
Darren hanya ber-oh ria. Namun tidak dengan Zain. Ia mengangkat sebelah alisnya. Menatap curiga pada Karin dan Acha.
"Eh, Cha! Kamu mau pesan apa?!" ujar Karin mengalihkan pembicaraan. "Batagor enak kayaknya, Cha!" sambungnya.
Mereka pun memutuskan untuk memesan makanan, melupakan apa yang tadi mereka bicarakan.
...----------------...
Pembelajaran sudah berlangsung sedari tadi. Entah kenapa waktu terasa sangat lambat bagi semua murid 10 IPA 1. Mata pelajaran kali ini adalah Sejarah Indonesia.
__ADS_1
"Kenapa sih harus ada sejarah?? Udah ngambil jurusan IPA, masihh aja ada sejarah!!" gumam Zain lirih. Ia pun menyenderkan kepalanya di atas meja, dengan kedua tangan sebagai bantalnya. Dirinya kini merasa sangat mengantuk mendengar penjelasan dari Bu Guru yang terasa bagaikan dongeng pengantar tidur.
"Serius amat sih, lo! Kenapa dulu lo nggak ambil jurusan IPS aja coba?!" lirih nya lagi.
"Berisik lo! Ganggu orang belajar aja!!" ujar Darren lirih, merasa terganggu dengan ocehan Zain yang tiada hentinya.
Darren kembali fokus mendengarkan penjelasan dari Bu Guru. Entah kenapa kali ini ia sangat tertarik untuk mendengarkan penjelasan Bu Guru tentang penjajahan yang dilakukan oleh Belanda di Indonesia dulu.
"Ekhemm! Ngantuk ya?? Emang kalo siang-siang begini itu enaknya tidur, apalagi kalo sambil di dongengin.." ujar Bu Laila tersenyum, mencibir dengan halus.
Zain yang merasa tersindir pun langsung menegakkan kepala dan tubuhnya lagi. Ia pun hanya cengengesan pada gurunya itu. "Hehe.. Abis ngantuk Bu, semalem nggak tidur.." ucapnya bohong.
"Ya udah sana! Cuci muka dulu biar nggak ngantuk! Tapi jangan lama-lama!" ujar Bu Laila mengingatkan.
"Siap, Bu, Laksanakan!!" hormat Zain langsung berdiri dan keluar menuju ke toilet.
Tingkah nya tentu membuat seisi kelas geleng-geleng kepala, termasuk Bu Laila yang terkekeh sendiri melihatnya. Beliau pun melanjutkan proses mengajarnya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Zain pun kembali dengan wajah yang lebih segar. Bahkan rambutnya saja sampai basah kuyup seperti habis keramas.
"Sudah?? Kalo gitu ayo duduk.." ucap Bu Laila menyuruh Zain duduk. Zain pun segera duduk kembali di bangkunya.
"Iya, soalnya tadi di toilet ada lalat. Jadi agak lama, hehe!" balas Zain cengengesan.
Darren tak merespon jawaban Zain, membuat Zain langsung mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Oke anak-anak, sampai sini aja materi hari ini. Silahkan kalian berkemas-kemas sambil menunggu bel pulang." ujar Bu Laila mengakhiri pembelajaran nya.
Hal ini tentunya membuat semua murid merasa sangat senang. Inilah yang mereka suka dari Bu Laila, selain baik dan ramah beliau juga selalu mengakhiri pembelajaran sepuluh menit sebelum bel pulang.
"Shhtt.. Jangan gaduh ya.. Ibu ada urusan di kantor, nanti kalau sudah bel, kalian langsung pulang aja. Ingat! Jangan gaduh!" tegas Bu Laila.
"Siap bu!!" ucap seluruh murid 10 IPA 1 dengan kompak.
Bu Laila pun segera menuju ke kantor untuk menyelesaikan urusannya tersebut.
Tak ada yang berisik di dalam kelas. Mereka lebih memilih untuk sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing sembari menunggu bel pulang.
Teng.. teng.. tengg..
Semua murid, termasuk murid 10 IPA 1 langsung berhamburan keluar kelas.
__ADS_1
"Darren, gue nebeng lo ya,, biar sekalian, kan searah!" seru Dila langsung menghampiri Darren.
Darren melirik Acha sekilas yang tampak tersenyum. "Hmm.." jawab Darren.
"Cha, terus kamu pulangnya naik apa??" bisik Karin pada Acha.
"Cha, gue anter aja yuk!" ajak Zain menawarkan diri.
"Eh.. Nggak usah! Rumah kamu kan nggak searah sama Acha. Nanti biar Acha naik taksi atau angkot aja!" ujar Acha tersenyum manis.
"Yakin??" tanya Karin, Darren, dan Zain kompak.
"Iya.. Udah sana pulang!" Acha mengusir halus.
"Ya udah kita duluan ya, Cha! Titi dj yah..!" ujar Karin, dan berlalu menuju ke parkiran bersama yang lainnya.
"Kalian juga!! Hati-hati dijalan!!" seru Acha melambaikan tangannya. Ia pun segera menuju ke gerbang depan. Takut tak kebagian taxi atau angkot seperti waktu itu.
.
.
Acha kini sudah ada di depan halte. Menunggu taxi ataupun angkot yang lewat. Saat dirinya tengah sibuk menunggu, tiba-tiba sebuah motor ninja berhenti tepat di depannya.
Acha tak mengenali motor tersebut. Si pengendara pun melepaskan helm nya. "Buruan naik!" perintah si pengendara cowok yang Acha tak tahu namanya itu.
Acha tampak terkejut melihat cowok itu. Ia tak bergerak dari tempatnya berdiri, merasa ragu apakah harus naik atau tidak.
"Ada yang mau gue tanyain! Buruan naik!!" perintahnya lagi. Acha pun akhirnya menurut, dan segera naik ke motor tersebut. Dalam hatinya ia berdoa semoga tidak terjadi hal buruk.
Motor itu pun segera melaju dengan kecepatan tinggi bak seorang pembalap. Sementara Acha hanya bisa berdoa sambil berpegangan erat pada jok motor.
Beberapa menit kemudian, tampaklah rombongan Darren dkk keluar dari parkiran. Melihat di sana sudah tidak ada Acha, Darren dan yang lainnya pun berpikir mungkin Acha sudah pulang.
Begitupun dengan Rey. Saat ia melihat Darren pulang dengan Dila, ia berniat akan mengantarkan Acha pulang. Namun sayang, Acha nya sudah pulang duluan. Ia pun memutuskan untuk pulang.
...…***…...
Halo readerss tersayangg🥰 Sebelumnya makasih buat kalian yang masih mau baca kelanjutan kisahnya Acha dkk.. Maaf ya kalo masih ada kekurangan🙏 Meskipun begitu jangan lupa untuk selalu dukung author ya, dengan cara like, komen n saran agar author bisa memperbaiki kesalahan yang ada, dan juga klik fav.. Makasihh...
See you again😘😘..
__ADS_1