Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Dasar Gembell


__ADS_3

Tingg...


Sebuah sendok terlepas dari genggaman Rega. Semua mata langsung menatap bingung Rega.


"Kakak kenapa??" sontak Acha bertanya.


Rega masih terdiam. Hingga akhirnya suara Papa Edwin berhasil menyadarkannya.


"Kenapa Ga??" Papa Edwin berhenti memasukkan bubur ke mulutnya.


"Eh ini.. sendoknya licin! Iya licin, hehe.." Rega mengambil sendok yang tadi jatuh. Ia pun segera mengganti dengan sendok yang bersih.


"Ya udah, yuk makan! Ngapain pada bengong?!" sambungnya dan langsung duduk di kursi. Memakan bubur ayamnya.


Begitu pun dengan yang lainnya. Mereka memakan bubur ayam mereka dengan khidmat. Seperti biasa, setelah makan Acha dan Vina tak lupa untuk mencuci mangkok-mangkok kotor yang mereka gunakan tadi. Setelah selesai, Acha dan Vina pun bergabung dengan yang lainnya, menonton acara TV kesukaan mereka.


Di saat Acha masih asyik menonton, tiba-tiba saja Rega bertanya padanya mengenai pertemuannya dengan Andra.


"Cha!" memanggil Acha yang masih fokus menonton TV.


"Hmm.." balas Acha tanpa mengalihkan pandangannya dari acara kesukaannya itu.


"Kok kamu bisa kenal sama Andra??" tanya Rega to the point.


Acha langsung mengalihkan pandangannya, menatap kakaknya itu. "Oh.. tadi ketemu waktu beli bubur, terus dianter pulang sekalian deh!" jawab Acha jujur.


"Dia bilang apa aja ke kamu?" wajah Rega tampak sangat serius, menunggu penjelasan Acha.


"Emang kenapa?? Kakak kepo ihh!!" ujar Acha meledek, membuat Rega merasa kesal.


"Tinggal bilang aja apa susahnya sih?!!" sungut Rega kesal.


Acha berdecak. "Iya iya.. Gitu aja ngambek! Jadi tadi itu Kak Andra bilang gini.." Acha menirukan apa saja yang dikatakan Andra tadi sewaktu mengantarnya pulang, tak tanggung ia bahkan menirukan nada bicara Andra.


"Jangan terlalu dekat sama Andra! Kakak nggak suka liatnya!" tegas Rega dengan wajah serius


"Kenapa??" tanya Acha, Vina, dan Alvin barengan. Ternyata sedari tadi, baik Vina maupun Alvin menyimak pembicaraan Acha dan Rega.


Rega tak menjawab. Ia kini tampak fokus dengan laptopnya. Memilih untuk mengerjakan tugas kuliahnya.


"Apa jangan-jangan dulu waktu SMA kakak sama Kak Andra nggak akrab ya.. Atau kalian itu malah musuhan??" beo Acha tak ditanggapi oleh Rega.


Rega menutup laptop miliknya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Rega langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya.


"Mau apa dia? Ngapain dia deketin Acha??" gumam Rega memikirkan sesuatu. Tangannya meraih laptop yang semula ia letakkan di atas nakas.


Jemarinya sibuk mengetikkan sesuatu pada kolom pencarian. Dan muncullah beberapa berita serta gambar terkait yang Rega cari.


"Mobil dan plat nya.. Keduanya sama persis sama punya dia." gumam Rega memperhatikan gambar sebuah mobil pajero yang tampak agak ringsek.


Saat Rega tengah sibuk dengan pengamatannya, tiba-tiba saja sebuah pesan dari nomer tidak dikenal masuk ke HP nya.


Wajah Rega tampak menahan amarah kala membaca pesan tersebut. Ia pun langsung menghubungi nomer tidak dikenal tersebut.


"Maksud lo apa, hah?! Jangan pernah lo ganggu orang-orang gue! Termasuk adek gue!!" tegas Rega pada panggilan tersebut.


"Wo wo.. Sante dong bro.. Nggak usah nge-gas gitu,, lagian gue juga nggak ngapa-ngapain adek lo kok! Gue kan cuma mau kenalan sama adek lo yang kawai itu, haha!!" balas seseorang dalam panggilan tersebut diiringi tawanya. *kawai \= imut


"Banyak bac*t lo!! Kalo sampe lo berani ganggu keluarga gue, gue nggak akan segan buat habisin lo!!"


Tuut..

__ADS_1


Rega memutuskan panggilan tersebut sebelum amarahnya semakin membeludak. Ia pun menenangkan dirinya, mengatur napasnya agar kembali tenang.


Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sekaligus untuk mendinginkan pikirannya.


Sementara Acha dan kedua adiknya masih asyik dengan tontonan mereka. Gelak tawa mereka mengisi ruang keluarga. Saat Acha masih asyik-asyiknya, tiba-tiba Papa Edwin memanggilnya.


"Iya, Pa. Kenapa??" Acha menghampiri Papa Edwin yang sedang duduk di teras depan sambil membaca koran.


"Cha, Papa boleh minta tolong nggak?" ujar Papa Edwin.


"Minta tolong apa?" tanya Acha lagi.


"Bikinin Papa kopi dong, pliss!" Papa Edwin memohon dengan wajah memelasnya. Membuat Acha menghela napasnya, mau tak mau harus mau!


"Makasih Acha sayanggg..." ucap Papa Edwin tersenyum senang.


Acha segera menuju ke dapur untuk membuat kopi. Saat ia sudah menyiapkan cangkir, sialnya ternyata stok kopi yang mereka punya habis. "Hufft.! Betapa malangnya nasib Acha.." keluhnya saat mendapati stok kopinya kosong.


Ia pun bergegas ke teras, menemui Papa nya. "Pa, kopinya habis!" ucapnya sesampainya di teras.


"Yahh.. terus gimana dong Cha?? Lidah Papa pahit banget nih!, kalo nggak minum kopi.." keluh Papa Edwin lalu memperlihatkan lidahnya.


"Kamu mau nggak Cha, beli kopi ke supermarket? Nanti terserah kamu deh mau beli jajan apa, yang penting Papa beliin kopi.. Mau yah??" lagi-lagi Papa Edwin memasang wajah memelasnya. Membuat Acha merasa kesal tiap kali melihat hal tersebut.


Acha mengulurkan tangan kanannya. Papa Edwin dengan senang nya pun langsung memberikan selembar uang berwarna merah dan juga biru.


Dengan langkah gontai, Acha berjalan ke pinggir jalan, menunggu taxi online pesanannya. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya taxi pesanannya datang juga.


"Dengan Mba Acha??" tanya supir taxi itu.


"Iya, Pak!" Acha langsung masuk ke dalam taxi, dan taxi pun melaju ke tempat tujuan Acha.


.


.


Saat dirinya tengah mengantre untuk pembayaran, tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahunya. Membuatnya langsung menoleh terkejut.


"Eh Darren! Ngagetin aja sih kamu!!" sungut Acha menggembungkan pipinya kesal.


"Hehehe... Sorry Cha,, sengaja! Bwahahaha!!" tawa Darren menggelegar, membuat nya langsung jadi pusat perhatian pembeli lainnya.


Acha yang merasa malu pun langsung berdiri menjauh dari Darren, pura-pura tidak mengenal nya.


"Eh, Cha!" Darren langsung mendekat ke posisi Acha berdiri. "Btw lo kesini beli apa??" sambungnya bertanya.


"Kopi sama jajanan!!" jawab Acha ketus.


"Yah.. Jangan ngambek dong, Cha! Nanti cantiknya ilang lho.." goda Darren terkekeh.


"Tau ah!!" Acha langsung meninggalkan Darren, untuk melakukan pembayaran.


"Semuanya jadi delapan puluh empat ya, Kak.." ujar mbak kasir ramah.


Saat Acha hendak memberikan uangnya, dengan seenak jidat, Darren langsung menyerobot mendahului Acha.


Darren meletakkan dua kaleng soda tepat di depan mbak kasir dan Acha. "Berapa mbak??" tanya Darren.


Mbak kasir tampak men-scan barcode minuman tersebut. "Empat belas ribu, Kak.." jawab mbak kasir tersenyum ramah.


Darren langsung memberikan selembar uang seratus ribu. "Sekalian punya dia mbak!" ujarnya menunjuk Acha.

__ADS_1


Hal ini tentu saja membuat Acha terkejut. Dengan cepat, Acha langsung protes pada mbak kasir.


"Enggak mbak! Saya bayar sendiri!!" oceh Acha dengan nada cempreng.


Mbak kasir itu langsung menatap Darren. "Udah ini aja mbak!" Darren menarik tangan mbak kasir, memberikan uang nya langsung kepada mbak kasir. Membuat mbak kasir merasa deg-degan tentunya.


"Baik Kak, uangnya pas ya.. Terimakasih telah belanja di toko kami.." ucap mbak kasir tersenyum ramah.


Darren membalas senyuman tersebut. Sebelum ia keluar, lagi-lagi ia membuat jantung mbak kasir serasa mau copot.


"Nih buat mbaknya! Semangat mbak!!" ujar Darren sambil memberikan sekaleng soda yang tadi ia beli.


Blushh


Kedua pipi mbak kasir seketika memerah. Selama ia kerja, baru kali ini mendapat sesuatu dari pembelinya. Terlebih orang yang memberinya berwajah seperti Darren, TAMPAN!!


Setelah itu, Darren pun langsung keluar dari tempat tersebut. Acha dan kasir lainnya yang melihat tingkah Darren langsung cengo.


'Ini beneran Darren?? Astaga sejak kapan Darren jadi kayak gituu??' pikir Acha tak percaya dengan yang dilihatnya barusan.


Ia pun memutuskan untuk pulang, takut Papa nya menunggu terlalu lama. Saat ia keluar dari supermarket, tampak Darren yang sedang nangkring di atas motornya sambil meminum sekaleng soda.


Melihat Acha, Darren pun langsung memanggilnya.


"Sini, Cha!!" seru Darren melambaikan tangannya.


"Apa!" ketus Acha dengan kantong plastik di tangannya.


"Yuk, naik!" Darren langsung memakai helm, menyalakan motornya. "Ayok, gue anter!!" sambungnya karena melihat Acha hanya bengong, tak kunjung naik.


Acha tersadar dari bengong nya, "Nggak ah! Acha mau naik taxi aja!" tolak Acha ketus. Ia pun hendak meninggalkan Darren.


"Udah buruan!!" paksa Darren langsung menarik tangan Acha. Dan itu berhasil membuat Acha menurut. Ia pun langsung naik ke ninja milik Darren itu.


Darren langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ia sengaja tak mengebut, karena agar bisa lebih lama bersama dengan Acha.


Sepanjang perjalanan, Darren tak henti-hentinya mengajak Acha mengobrol.


"Cha.."


"Hmm.." balas Acha.


"Lo tau nggak kenapa sekarang jarang banget ada pelangi di langitt??" tanya Darren memperlambat laju motornya.


"Emm.. Karena sekarang kan jarang hujan!" tebak Acha.


"Salah."


"Kok salah sih! Terus kenapa dong?!" tanya Acha penasaran.


"Karena pelangi itu ada di mata lo! Makanya di langit jarang muncul..!" papar Darren, namun seketika ia langsung mendapat tabokan di punggungnya.


"Dasar gembell!!" Acha menahan tawanya. Lucu rasanya mendengar candaan Darren.


"Kok gembel sih, Cha?! Gombal kali!!" protes Darren tak terima dikatakan gembel oleh Acha.


Acha terkekeh pelan. "Emang gembell..!! Wlekk!!"


...…***…...


Halloo guyss... Thanks ya, buat kalian yang masih setia nungguin up nya cerita ini😭🙏 Maaf kalo ada typo dan kesalahan lain,, harap maklumi karena author ini masih noob..🙏🙏 Jangan lupa untuk terus dukung author, dengan cara like, komen n saran,, dan klik fav bagi yang belum..

__ADS_1


See you😘😘


__ADS_2