Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Pacaran Konon!


__ADS_3

Teng.. teng.. tengg...


Pembelajaran telah berakhir. Semua murid pun berhamburan keluar kelas. Kini Acha, Karin, Dila, Darren, dan Zain sedang berjalan di koridor.


"Cha, pulangnya bareng gue ya?" ajak Darren, membuat Acha menghentikan langkah nya.


Acha menatap Dila yang berjalan di samping Darren, seolah ia sedang meminta persetujuan dari Dila.


"Nggak papa kali, bareng aja.. Gue udah dijemput supir gue kok!" ujar Dila tersenyum.


"Beneran nggak papa??" tanya Acha memastikan lagi.


Dila menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"Ya udah kita duluan ya.." pamit Acha pada Dila.


"Duluan Dil!" timpal Darren, menepuk bahu Dila.


Mereka berempat pun menuju ke parkiran motor tanpa Dila. Acha menoleh ke belakang, melambaikan tangannya pada Dila. Dila pun membalas lambaian tersebut, tak lupa dengan senyuman manis di wajahnya.


Senyuman manis tersebut seketika luntur, saat dirinya sudah tak melihat Acha dan yang lainnya. Ia pun merogoh sakunya, menelpon seseorang.


"Bang, jemput gue,, Sekarang!!" ujarnya pada seseorang yang ia telpon tersebut.


Setelah memutuskan sambungan telpon tersebut, ia pun segera menuju ke gerbang depan.


...----------------...


Kini Darren, Acha, dan Zain sudah di depan gerbang. Tak usah tanyakan dimana Karin, dia tentunya masih di parkiran bersama dengan Vano and the geng.


"Hati-hati, bawa anak orang!!" seru Zain pada Darren.


"Nggak usah lo kasih tau, gue pasti juga bakal jagain Acha lah!!" sungut Darren memutar matanya malas.


"Zain hati-hati juga,, jangan ngebut-ngebut! Yang penting selamat sampai tujuan..!" pesan Acha.


"Hahaha! Lo ya, Cha! Udah kayak Mami gue aja!!" balas Zain tergelak. "Oke kalo gitu gue balik dulu, bye!!" sambung Zain melajukan motornya hendak pulang.


Darren pun melajukan motornya juga ke arah yang berlawanan dengan Zain, karena rumah Zain memang tak searah dengan mereka berdua.


Namun, tanpa mereka sadari, terdapat dua pasang mata yang sedari tadi memantau mereka dari kejauhan. Dua orang tersebut tampak duduk berboncengan di atas motor ninja, dengan helm terpasang di kepala mereka.


"Jadi dia orangnya??" tanya salah satu dari dua orang tersebut, yang merupakan seorang laki-laki.


"Ya! Gue mau, lo singkirin dia! Jijik gue tiap liat muka dia!! Dasar jala*g murahann!!" umpat orang yang satunya, yang tak lain merupakan seorang perempuan.


"Heyy,, Baby... Kenapa mulut manismu bisa berkata seperti itu?? Segitu bencinya kah dirimu pada wanita itu? Apa yang membuatmu membencinya, hmm??" ujar laki-laki itu menghadap ke belakang, menatap perempuan tadi sembari mengelus pipi perempuan tersebut.


"Sikapnya yang sok cantik dan sok manis di depan semua orang! Jijik gue liatnya!!" kesal perempuan itu lagi dengan wajah penuh akan kebencian.


"Hmm?? Bukankah dia memang cantik dan manis??" gumam laki-laki tersebut, membuat si perempuan seketika bertambah kesal.


Perempuan tersebut langsung menepis tangan yang sedari tadi mengelus-elus pipinya. Melihat tingkah merajuk perempuan itu, sang laki-laki pun tersenyum senang.

__ADS_1


"Ohh.. Apakah sekarang kau merasa cemburu karena aku memujinya?? Tenanglah baby.. Secantik apapun, semanis apapun itu.. Hanya kau lah wanita paling cantik dan manis bagiku.." rayu laki-laki tersebut.


Perempuan tersebut mengernyitkan dahinya, menatap kedua manik mata laki-laki di hadapannya itu. "Anter gue pulang sekarang!!" ujar perempuan tersebut ketus.


"Nggak mau kencan dulu gitu??" ajak laki-laki berharap.


"Nggak mood gue! Buruan balik!!" ujar perempuan tersebut, memukul punggung laki-laki itu.


Laki-laki itu menghela napas. Ia pun memilih untuk menurut pada perempuan itu. Dengan kecepatan sedang, ia melajukan motor ninja miliknya.


.


.


.


Sementara itu, Acha dan Darren kini telah sampai di depan kediaman Raharja. Acha segera turun dari motor. Saat ia hendak melepas helm nya, tiba-tiba tangan Darren langsung membantunya untuk melepaskan helm tersebut.


Lagi-lagi mata mereka berdua bertemu. Saat keduanya sedang saling tatap, seketika mereka berdua dikejutkan dengan suara klakson.


Tinnn!!!! Sebuah mobil berhenti di depan mereka.


"Astaga!!" seru Acha dan Darren melompat kaget.


"Ekhemm!! Ngapain kalian?!" tanya pengemudi mobil tersebut, yang tak lain adalah Rega.


"Ng-nggak ngapa-ngapain kok!" jawab Acha gugup.


"Ya udah,, masuk! Kalian!" tunjuk Rega pada mereka berdua, kemudian melajukan mobilnya menuju ke garasi.


Setelah memarkirkan motornya, Darren segera mengikuti Acha masuk ke dalam rumah. Tampak di ruang tamu sudah ada Rega yang sedang duduk di sofa. Seolah hendak menginterogasi mereka.


"Duduk!" titah Rega pada keduanya.


Acha dan Darren langsung duduk di sofa, tepat di depan Rega. Saat ini mereka tampak seperti penjahat yang tengah diinterogasi oleh polisi.


Ada rasa takut dalam benak Acha, takut jika kakaknya itu akan marah atau bahkan memukul Darren seperti saat ia memukul Rey waktu itu.


"Ekhemm!! Nama lo??" ucap Rega bertanya pada Darren yang tampak menunduk.


Darren yang merasa ditanya pun langsung menegakkan kepalanya. "Darren, bang!" jawabnya menatap mata Rega.


'Nih bocah berani juga ngeliatin gue!' batin Rega sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Pacarnya Acha??" tanya nya lagi dengan nada dingin.


"Bukan, Kak!!" seru Acha cepat, namun seketika ia kembali bungkam saat Rega menatapnya dengan tajam. Rega kembali menatap Darren, meminta jawaban.


"Belum, bang!" jawab Darren tanpa rasa takut. Acha langsung menoleh pada Darren. Lebih tepatnya melotot pada Darren. 'Darren ngomong apa sih?! Bikin tambah ribet aja deh!!' batin Acha merasa kesal.


Rega menaikkan satu alisnya. "Belum??" gumamnya mengulangi ucapan Darren. Ia memegangi dagunya, memperhatikan Darren dari bawah sampai atas. "Hmm.. Oke." ucapnya singkat dan beranjak berdiri.


'Hah? Udah?? Gitu doang??' pikir Darren cengo. Ia pun saling tatap dengan Acha. Saling lempar pertanyaan. Namun Acha yang tak paham dengan maksud kakaknya tadi pun hanya bisa mengedikkan bahunya.

__ADS_1


Saat Rega hendak melangkahkan kakinya menuju ke kamar, tiba-tiba Darren memanggilnya.


"Bang!" Darren berdiri di belakang Rega. Yang dipanggil sontak menoleh, menatap Darren dengan tanda tanya.


"Emm.. abang nggak marah gitu??" tanya Darren ragu-ragu.


"Marah kenapa?" balas Rega bertanya.


"Ya.. karena saya suka sama adik abang.." jujur Darren dengan bahasa yang sopan.


"Enggak tuh!" jawab Rega singkat. Mendengar itu kedua mata Acha langsung membelalak. Begitupun dengan Darren.


"Jadi dibolehin??" tanya Darren lagi membuat Rega bingung.


"Dibolehin apa??" Rega balik bertanya.


"Ya.. dibolehin pacaran sama Acha, gitu.." jawab Darren tanpa malu. Sungguh Darren nggak ada malunya.


Lagi-lagi Acha melotot mendengar penuturan Darren. Entahlah, lama-lama mata Acha bisa lepas karena keseringan melotot:)


"Pfftt!! Pacaran?? Bwahahahaha!!!" Rega tertawa terpingkal-pingkal hingga perutnya terasa sakit.


Beberapa saat kemudian, ia berhenti tertawa. Wajahnya kembali dingin. "Enggak!" ujarnya dengan wajah dingin.


Darren kembali cengo. Kali ini ia sungguh dibuat cengo plus bingung bertubi-tubi oleh Kakak Acha itu. Darren kembali menatap Rega penuh tanya.


"Gini ya.. Acha itu masih enam belas tahun! Ya kali gue bolehin dia pacaran.. Inget! Kalian itu masih bocil! Jadi nggak usah mikir pacaran mulu!! Belajar dulu sono yang bener!! Baru boleh.." terang Rega panjang lebar.


"Pfftt.. Pacaran konon..!" sambung nya terkekeh. Ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju tangga. Saat di depan tangga, ia tiba-tiba berhenti.


"Oh ya! Lo kenapa manggil gue abang??" tanya Rega tanpa menoleh pada Darren.


Sontak Darren menatap punggung Rega. "Karena abang ngingetin saya sama abang saya.." jawab Darren tiba-tiba sendu.


Mendengar nada bicara Darren, Acha langsung menatap Darren yang tampak menunduk. Begitupun Rega, ia langsung berbalik menatap Darren.


"Kalo gitu, panggil gue Bang Rega," ucapnya tiba-tiba tersenyum ramah pada Darren.


Senyuman langsung terukir di wajah Darren saat mendengar ucapan Rega. Senang rasanya kini ia bisa kembali memiliki sosok abang.


Darren mengangguk paham pada Rega. Setelah itu, Rega pun berjalan menuju ke kamarnya.


"Kalo gitu gue pulang dulu, Cha!" pamit Darren berjalan keluar.


Acha mengikuti langkah Darren sampai di depan pintu. "Hati-hati!" seru Acha pada Darren yang kini telah di atas motornya.


Darren hanya mengacungkan jempolnya dan langsung menge-gas motornya keluar dari kediaman Raharja.


'Yess!! Selangkah lebih maju..' batinnya merasa gembira.


...…***…...


Halo readersss... Apa kabar?? Semoga kalian sehat selalu ya... Makasih buat kalian yang udah selalu dukung author😭 Maaf ya kalo ceritanya masih ada kekurangan ataupun typo🙏 Jangan lupa untuk like, komen dan kasih saran, juga klik fav bila belum🤗🤗

__ADS_1


See you..😘


__ADS_2