Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Acha dan Cio#Part 1


__ADS_3

Sesampainya Acha didalam kelas, ia langsung duduk dibangkunya. Kebetulan saat itu kelas sedang sepi, hanya ada beberapa tas namun tak ada pemiliknya. Entah mereka ke kantin atau kemana, Acha tak peduli.


Ia pun meletakkan kepalanya di atas meja, dan menggunakan kedua tangannya sebagai bantal. Kedua matanya kini mulai berair.


"Cio.. Acha kangen sama Cio..hiks" gumam Acha sangat lirih. Ingatan setahun yang lalu kini kembali hadir menghantuinya.


Flashback On


"Boleh ya, Pa?? Hm?? Pleasee.." Acha menyatukan kedua telapak tangannya, memohon pada Papa Edwin.


"Sekali nggak boleh, tetap nggak boleh!!" larang Papa Edwin tegas.


"Please Pa, kali iniii aja.. yah?? Paa.." Acha memeluk manja lengan Papa nya.


Dengan cepat Papa Edwin langsung melepaskan tangan Acha dan berjalan menuju ke meja makan. Namun Acha tak tinggal diam, ia senantiasa membuntuti langkah Papa nya itu.


"Boleh yah, Pa?? Hm? Hmm??" Acha memeluk leher Papa nya yang sedang duduk di kursi dari belakang.


"Uhuk uhuk uhukk!!" Papa Edwin pura-pura batuk.


"Udahlah Cha, lepasin Papa kasihan tuh, sampai batuk kek gitu,, lagian Papa kan udah larang, nurut aja napa?!" ucap Rega sambil mengunyah roti nya.


"Lagian nanti kalo kenapa-napa gimana? Kan kamu sendiri yang sengsara!" sambung Rega melarang Acha.


"Pokoknya Acha pengen naik motor! Titik! Kalo nggak dibolehin Acha nggak makan! nggak mau ke sekolah!" Acha merajuk menghentak-hentakkan kakinya. Berdiri agak menjauh dari Papa nya.


Habis sudah,, Karna jika Acha sudah merajuk, maka segala keputusan dan permintaannya harus menjadi mutlak! Karna jika tidak, ia pasti akan melakukan hal-hal aneh binti edan.


"Udahlah Pa, bolehin aja. Lagian kan cuma kali ini, ya kan Cha?!" ujar seorang anak laki-laki yang tak lain adalah Cio. Ia menuruni anak tangga bersama dengan kedua adiknya, Alvin dan Vina.


"Huuhhh.. ya udah, tapi cuma kali ini,, ingat! ini yang pertama dan terakhir!" akhirnya Papa Edwin luluh juga, cuma gara-gara bujukan dari Cio yang tidak seberapa dibandingkan dengan usaha Acha dari tadi.


"Yesss,, makasih Papaa!!" teriak Acha langsung memeluk Papa nya erat.


Setelah itu Acha berlari menuju Cio dan langsung melompat memeluk leher Cio erat-erat. Hampir saja Cio jatuh karena kehilangan keseimbangannya.


"Maacih Cio,, Cio itu emang yang terbaek dehh,, jadi cayangg.." seru Acha manja.

__ADS_1


"Hek hek.. beratt.. kecekik Cha!! Lepas!!" ujar Cio berpura-pura tercekik.


"Ihh Cio jahat yaa.. emang Acha seberat itu apa?!" sungut Acha melepaskan pelukannya.


"Enggak enggak.. becanda, Cha.. Acha itu kan ringann bangett,, seringan bulu!" rayu Cio mencubit pipi kiri Acha.


Mendengar pujian Cio, seketika senyuman Acha mengembang di wajahnya. "Ya udah yuk sarapan!!" Acha langsung menarik tangan Cio menuju meja makan.


Sedangkan Papa Edwin, Rega, Alvin dan Vina hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Acha.


Sarapan mereka pun berlangsung dengan tenang.


.


.


"Acha nggak bareng kan sama kita? Kalo gitu Cio sama Kak Rega berangkat dulu," pamit Cio berjalan hendak keluar.


"Eh, Cio, bentar! HP kakak ketinggalan di kamar!" Rega langsung berlari menaiki tangga.


"Buruann!! Cio tunggu di mobil yak?!" teriak Cio. Ia segera melangkahkan kakinya keluar rumah. Baru beberapa detik keluar, tiba-tiba Cio kembali masuk rumah.


"Cha, itu ada yang nungguin kamu di depan gerbang," bisik Cio.


Seketika Acha langsung berlari keluar sambil berteriak, "Acha berangkat!!".


Papa Edwin yang melihatnya, langsung menatap tajam Cio seolah meminta penjelasan.


"Hehe,, cowoknya Acha pake ninja," ucap Cio kikuk, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sontak Papa Edwin langsung berdiri, melangkah keluar untuk melihat temannya Acha. Cio yang takut Papa nya akan marah, langsung membuntuti.


**Di depan gerbang**


"Maaf, Kak! Udah dari tadi ya??" ujar Acha sambil menstabilkan napasnya.


"Enggak kok, baru aja," balas Rey menyodorkan helm untuk Acha.

__ADS_1


Acha pun langsung memakai helm itu dan naik ke motor Rey.


"Uhuk uhukk uhukkk!!" Papa Edwin yang sedang didepan pintu rumah sengaja batuk dengan suara agak keras.


Sontak Acha dan Rey menoleh. Acha segera melambaikan tangannya pada Papa Edwin dan Cio. Sedangkan Rey menganggukkan kepalanya sopan.


Setelah lambaian tangannya dibalas oleh Cio, Acha segera menyuruh Rey untuk melajukan motornya.


.


.


Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di sekolah Acha. "Makasih ya, Kak!" ujar Acha, turun dari motor. Ia pun segera melepas helm, dan mengembalikannya pada Rey.


"Iya, belajar yang rajin yak! Jangan mikirin aku terus!" ucap Rey mengacak rambut Acha. Seketika pipi Acha memerah, ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke samping.


"Ya udah aku ke sekolah dulu," pamit Rey dan diangguki oleh Acha.


Rey segera melajukan motornya, meninggalkan Acha yang masih terpaku memandangnya.


"Cieee!!" sebuah suara berhasil mengagetkan Acha. Dilihatnya Cio yang sudah ada disebelahnya.


"Apaan sih!" pipi Acha kembali merona.


"Cie,, malu nie,, merah lo Cha!!" goda Cio lagi.


"Auk ah!" Acha langsung berlari meninggalkan Cio menuju ke kelas mereka.


"Tungguin, Cha!" Cio segera menyusul Acha. Langkahnya yang lebih lebar dari Acha memudahkannya untuk mengejar Acha. Ia langsung merangkul pundak Acha.


Tawa mereka berdua terdengar sangat ceria. Entah apa yang mereka berdua bicarakan, hanya mereka dan Tuhan yang tahu (author aja nggak tahu mereka ngomongin apa🙄).


...…***…...


(Halo readers,, seperti biasa author ucapkan makasih buat kalian yang masih stay,, dan maaf kalo ada typo,,


Jangan lupa untuk like, komen, saran, n klik favorit bagi yang berminat😃

__ADS_1


Sayonaraa👋)


__ADS_2