
" astaghfirullah kalian ini di sebut nama ustadz barra langsung waek noleh". para wanita langsung tertawa alira geleng-geleng cuma dia yang tak terpukau dengan ustadz barra.
" itu ustadz ada magnet apa ya kenapa semua cewek mimisan saat ngeliat ustadz Barra". kata Reno ia sebagai laki-laki saja kagum dengan sosok ustadz Barra.
" pasang susuk kali ya" pungkas kennu.
" gundulmu itu, udah ganteng dari sononya kali. ustadz Barra ilmunya tinggi siapa sih yang ngga kesem-sem sama ustadz begitu".
" paling juga ada amalan bikin cewek-cewek ngintil". Nita memukul kepala kennu.
" jangan berprasangka buruk gitu tak baik, emang kamu pernah tau ustadz Barra tebar pesona. Cahaya pada wajahnya itu karena air wudhu, lantunan ayat suci yang ia bacakan saja sudah bikin hati kita nyes adem. itu karena memang ustadz Barra ada cahaya dalam dirinya dengan banyaknya ibadah yang ia lakukan ".
" ya Allah siapa istrinya besok ya ". ucap Ratih ia membayangkan dirinya.
" yang pasti bukan kamu". celetuk Alira.
" Hua...haa..." semua tertawa terpingkal-pingkal.
" makasih ya teman-teman sudah bikin tertawa hari ini rasa sakitku setidaknya berkurang dengan tawa kalian". ucap Amel tersenyum meski masih pucat.
" ya udah Mel cepet sembuh ya kita pulang dulu " Nita beranjak dari duduknya mereka sudah cukup lama berada di rumah Amel.
" iya makasih banyak sahabat terbaikku ".
" mana calon bapak mertua aku mau pamit dulu." teman-temannya mendorong kennu.
" sok manis amat, no sama ustadz Barra lagi benerin toa." tunjuk Reno.
" ya udah salam ya Mel sama bapak mertua aku pulang dulu cepat sehat, hari-hari ku sepi tanpamu". Reno menjewer telinga kennu agar cepat keluar.
" sakit Reno kenapa sih".
" baru saja di bilang sama bapaknya Amel ngga boleh pacaran kamu malah lama-lama liat Amel, jaga tu mata kalau tak ingin di colok di neraka ".
" iya ya, astaghfirullah aku khilaf Reno". Reno mencebik kennu tertawa.
" kamu tak pulang lir "
" nanti rumahku dekat, aku udah ijin emak mau nemenin Amel".
__ADS_1
" bukan mau liat ustadz barra ".
" aku ngga kayak kamu Ratih".
" aku jadi curiga sama kamu alira kok kamu ngga suka sama laki-laki sih".
" astaghfirullah, aku normal Ratih". Ratih terkekeh.
" kirain".
" Ratih awas" semua temannya terpingkal-pingkal, bapak Amel dan ustadz barra pun sampai menoleh ke arah murid-muridnya. Ratih melewati jalan becek ia kecebur lumayan masih banyak airnya.
" ya Allah basah". ucap Ratih ia mendelik melihat sepatu dan rok nya basah kena air.
" makanya kalau jalan matanya liat jalan jangan liat ustadz barra". teriak Nita, sumpah Ratih malu rasanya ia ingin tenggelam saja, akhirnya Ratih hanya cengengesan.
bapak dan ustadz barra hanya geleng-geleng kepala.
" dasar anak-anak tau aja yang bening". ucap bapak ikut tertawa melihat Ratih yang lumayan basah kena genangan air.
__
" Aisyah semangat amat kamu".
" iya aku ingin cepat lulus". ucap Aisyah sembari membolak-balikan bukunya.
" Aisyah kamu kenapa". sahabatnya Salma melihat hidung Aisyah yang keluar darah lagi.
" aku tak apa-apa Salma, emang ada apa". Aisyah mengerut kan keningnya melihat wajah Salma yang seperti kaget.
" hidungmu Aisyah ada darahnya."
" astaghfirullah, keluar lagi. aku mimisan Salma tadi pagi juga keluar tapi udah berhenti." Aisyah mengambil tisu yang selalu ia bawa di tasnya ia mengusap untuk membersihkan nya. ia berusaha mendongak agar darah itu berhenti keluar, namun belum juga berhenti.
" ya ampun Aisyah kita ke puskesmas yuk, ini belum berhenti". Salma panik ia menarik tangan Aisyah agar mengikuti nya. Kampus mereka ada di kota dan dekat sebelahnya terdapat puskesmas.
" aku tidak apa-apa Salma bentar lagi juga dia berhenti darahnya." ucap Aisyah ia mencoba menghentikan langkah Salma.
" iya tapi kita ke puskesmas ya jangan kamu biarkan Aisyah meskipun itu hanya mimisan". Salma terus menarik tangan Aisyah. mau tak mau Aisyah mengikuti langkah Salma.
__ADS_1
Kebetulan dokter jaga masih ada dan sudah tidak ada pasien lagi. Salma langsung membawanya masuk, dokter Bilal ia juga merupakan saudara dari Aisyah.
" Aisyah ada apa." tanya langsung dokter Bilal.
" ini dok Aisyah mimisan namun ini belum berhenti". Bilal langsung melihat ke arah Aisyah.
" maaf ya Aisyah sebentar saya lihat." dengan sopan Bilal memeriksa Aisyah dan mencoba menghentikan darahnya yang masih mengalir.
" Sebaiknya kamu periksa lebih dalam Aisyah, sepertinya ini bukan mimisan biasa". Salma melihat ke arah Bilal.
" apa maksud nya dokter ". tanya Salma.
" seperti yang saya katakan coba Aisyah scaning, lebih cepat di lakukan lebih baik. syukur Alhamdulillah jika aman tidak ada apa-apa". ucap Bilal ia masih menekan hidung Aisyah menggunakan tisu yang sudah di beri cairan agar darah itu berhenti.
" Besok temui saya di rumah sakit ya, kalau di sini alat nya tak komplit. Di sana saya ada praktek sore hari di hari Selasa dan Rabu jika ingin ketemu lagi hari Sabtu". ucap Bilal kini ia sudah mengangkat tisu yang menempel di hidung Aisyah dan memberinya tisu yang baru agar bisa Aisyah pegang sendiri. Darahnya sudah berhenti sempurna.
" iya dok besok saya akan antarkan Aisyah". Aisyah hanya diam saja memang akhir-akhir ini Aisyah merasakan sakit pada kepalanya namun tak begitu ia pikirkan.
" apa kamu sering merasakan sakit kepala Aisyah atau mual". Salma mendelik ia kaget.
" dokter jangan ngadi-ngadi, teman saya ini selalu terjaga tak mungkin ia melakukan hal itu " ucap Salma dengan suara tinggi.
" Salma apa maksudmu". ucap Aisyah ia mengentikan ucapan Salma.
" ya itu masa dokter mengira kamu hamil sih, aku tau banget siapa kamu". dokter Bilal tersenyum begitu sempitnya pikiran Salma.
" memang saya mengatakan jika Aisyah hamil, kan tidak saya hanya bertanya apa dia sering sakit kepala atau pusing. gejala itu tak hanya di rasakan oleh orang hamil saja dek tapi bagi penderita kanker juga bisa". Bilal keceplosan hal yang seharusnya tidak di ucapkan sebelum pemeriksaan di lakukan.
" apa kanker dok". tegas Salma.
" hanya perkiraan saja, mungkin bisa saja aisyah mengalami sakit lambung ". ucap Bilal lagi.
" ya emang saya tak begitu nafsu untuk makan akhir-akhir ini ". ucap Aisyah lesu.
" nah dari pada menduga kemungkinan yang belum jelas kamu lebih baik cepat periksa dan bisa lebih awal untuk di tangani. jangan larut ya kesehatan itu penting ". terang dokter Bilal.
" baik dok besok saya akan antar Aisyah ke rumah sakit". bagi Salman, Aisyah adalah sahabat terbaik nya.
Lalu keduanya pamit kembali ke kampus Aisyah tak mau pulang ia ingin menyelesaikan tugasnya dulu.
__ADS_1
___