Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 23


__ADS_3

Barra selesai mandi kemudian ia masuk ke kamar alira, ia ingin mencari pakaian ganti namun ia melihat jika pakaian nya sudah di siapkan oleh alira. Barra tersenyum, alira sedang sibuk merapikan lemari nya, entah itu alibi alira ia hanya pura-pura supaya kelihatan sibuk atau benar adanya.


Alira berubah ia tak berani banyak bicara lagi, takut akan ustadz barra yang kini menjadi suaminya. Alira tak banyak bicara berada di kamar bersama ustadz barra suaminya. Debaran kencang di dalam hatinya begitu cepat, ia gugup apalagi ustadz barra saat mendekat. ustadz Barra hanya ingin mengambil sisir yang alira letakkan di dekat lemari.


" Saya ke masjid dulu ya Ra, kamu shalat di rumah saja".


" iya ustadz". ucap alira tak menoleh sejak tadi ke arah ustadz Barra.


Panggilan ustadz masih ia ucapkan yang seharusnya panggilan itu sudah berganti menjadi panggilan yang manis. tapi mulut alira kelu tak bisa ia mengganti panggilan nya.


Abah dan Barra jalan bersisian ke masjid, biasanya Abah yang mengumandangkan adzan namun kini ada barra. Suara merdu itu terdengar membuat para pendengar senang mendengar lantunan adzan nya ustadz Barra. abah pun bahagia mempunyai menantu seorang ustadz seperti barra.


Setelah shalat ashar alira merebahkan tubuhnya karena lelah. Ustadz Barra datang ia langsung masuk saja ke kamar alira dilihatnya istrinya itu memejamkan mata. Sebenarnya Alira tidak tidur ia hanya takut saja bertatapan muka dengan Barra.


" Ra setelah ashar itu tak boleh tidur Lo". ucap barra ia tau jika Alira tak benar-benar tertidur.


" Memang kenapa ustadz ". tanya alira ingin tau penjelasan barra.


" tidur setelah ashar itu makruh Ra, bisa mengurangi daya akal manusia. Gunakan waktu setelah ashar untuk beribadah mengaji ataupun berdzikir. Setelah ashar itu sebenarnya waktu mustajab untuk berdoa namun banyak sekali mereka yang lalai, justru mereka melakukan aktivitas lain hingga melewatkan waktu mustajab ini". terang ustadz Barra. alira kemudian duduk ia jadi malu denga ustadz Barra.


" alira keluar dulu ya ustadz mau bantu emak ". cepat-cepat alira keluar ia tak ingin bertatapan dengan ustadz Barra, barra yang mengetahui hal itu ia terkekeh.


" MasyaAlloh aku sudah punya istri, aku akan berusaha mencintai mu alira karena kamu di takdirkan untuk ku. Istri kecil yang lucu bikin aku jadi tambah awet muda." gumam Barra yang hanya ia dengar saja.


Barra pun keluar ia juga ikut membantu membersihkan rumah mertuanya setelah di lakukan acara akad tadi tempat masih kotor banyak sampah yang beberapa orang sembarangan membuangnya.


" istirahat saja nak barra biar Abah saja". ucap Abah ia tau jika menantunya pasti lelah.

__ADS_1


" tak apa Abah, barra bantu sebentar". ucap barra sembari menggulung tikar.


" lir kenapa tak istirahat ini cuma sedikit biar emak yang selesai kan temani suamimu." ucap emak mengelap piringnya.


" ngga apa-apa Mak, emakkan pasti capek biar alira saja yang selesai kan".


" kamu sekarang sudah punya suami alira dan prioritas mu itu sekarang suamimu."


" iya Mak alira ngerti ". alira masih tetap membantu emak.


" sapu ada di mana ya Ra". tanya Barra yang berjalan ke belakang.


" eh menantu emak tak boleh melakukan ini biar emak saja nanti kamu dan alira istirahat ya ". ucap emak ia tak enak kepada barra.


" tak apa Mak, jam segini juga tak pantas kalau tidur biar ngga ngantuk barra bantu sedikit saja". alira mengambilkan sapu itu kepada barra ia sengaja supaya tak di paksa untuk masuk ke kamar sama emak.


" ya ampun emak jadi malu kan ".


" Makasih ya Barra emak tak menyangka kamu akan menikahi alira anak emak yang nakal ini".


" itulah misteri jodoh Mak kita tak tau ke mana akan berlabuh, barra juga tak tau kenapa labuhan barra sama alira. apa gara-gara klepon emak nih yang menuntunku untuk jadi suami alira." ucapan barra agar suasana jadi lebih hidup.


" Kamu tuh barra klepon jadi di salahkan". barra terkekeh ia mulai menyerok sampahnya.


***


Setelah makan malam karena lelah emak dan Abah izin untuk ke dalam tidur duluan meninggalkan barra dan alira yang sedang menonton kilas berita. Tapi alira juga mengantuk ia lalu berjalan ke kamar tanpa peduli dengan barra, ia lupa ada barra suaminya di sana.

__ADS_1


Cepat-cepat juga barra menyusul alira ke dalam kamar, pasalnya malam ini adalah malam pengantin bagi mereka yaitu malam pertama.


" astaghfirullah". alira kaget ketika Barra duduk di atas ranjang, ranjang itu memang sempit jika di pakai untuk berdua hanya pas.


" kenapa kamu kaget Ra." tanya barra ia terkekeh melihat wajah alira yang kaget.


" pelan-pelan ustadz ranjangku tak sekuat ranjang di rumahmu". ucap alira kemudian ia merebahkan tubuhnya kembali tidur membelakangi barra.


" Tidur membelakangi suami itu dosa besar Lo Ra, jangan takut aku tak akan melakukan apapun tanpa seizinmu".


" maaf ustadz tapi aku..."


" terima takdir kita ra, ayo kita belajar untuk sama-sama saling mencintai."


" aku tak bisa ustadz, maaf alira tak bisa."


" bisa Ra asal kamu mau terus berlajar". ustadz Barra mulai mencoba memegang jemari alira, keduanya seperti tersetrum ada aliran listrik yang menjalar. Tangan alira begitu dingin, barra merasakan nya ia justru menggenggam tangan alira semakin erat agar alira berbalik badan menghadap Barra.


Pikirannya menolak tapi tubuhnya menginginkan genggaman tangan suaminya itu. Perlahan barra mengecup kening alira dengan lembut alira pun memejamkan mata. tak bisa di pungkiri barra juga manusia biasa gairahnya juga memuncak, mana tahan ia melihat bibir seksi milik istrinya. Yang ada di depannya ini sudah halal baginya, tapi barra menahan agar alira tak marah. barra berjanji ia tak akan menyentuh alira tanpa alira mengizinkannya terlebih dahulu.


" Ra sudah baca doa tidur belum". alira kemudian membuka matanya ia lupa saking gugupnya ada di dekat barra, seperti tak percaya jika suaminya sekarang adalah ustadz Barra.


" belum..."..


" yuk baca dulu lalu tidur ya, karena orang yang tidur itu Allah matikan sementara kita tidak tau besok bisa bangun atau tidak makanya dalam keadaan tidur usahakan kita berwudhu lalu berdoa." terang barra.


" iya ustadz maaaf". alira lalu membaca doa seperti yang di sarankan Barra. barra tersenyum ternyata Alira penurut juga yang ia bayangkan alira akan memberontak, jadi ingat pertemuan pertamanya dengan alira saat alira di tilang oleh pak polisi. Tak lama keduanya terlelap saking lelahnya dengan acara akad mereka tadi siang.

__ADS_1


___


bersambung


__ADS_2