
Emak dan Abah pulang masih terang ngga sampai sore, karena takut juga pulang terlalu sore jalanan juga akan cukup ramai. Mak membawa oleh-oleh lumayan banyak selain pakaian, alira juga tadi beli makanan kecil untuk emak di rumah.
" Nak Abah pulang ya jaga kesehatan kalian " ucap Abah.
" iya Abah insyaallah, Abah juga dan emak jaga kesehatan jangan lelah-lelah."
" emak pulang dulu lir kamu jangan capek-capek ya ".
" iya Mak insyaallah".
" Mak ini sedikit untuk emak ya buat pegangan di rumah."
" ngga nak emak ngga mau jangan terus kamu beri emak dan Abah kemudahan begini pakai saja tabung nanti untuk alira lahiran". ucap emak menolak uang pemberian Barra.
" Untuk persalinan alira sudah Barra siapkan Mak kalau ini memang jatah untuk emak dan Abah, tolong terima ya Mak"
" tapi nak emak jadi gimana tiap bulan Nerima terus uang dari kamu".
" tak apa Mak, mas Barra punya penghasilan lebih Mak simpan nanti bisa Mak kirim untuk Amira jajan di pondok". tangan barra dan alira memaksa emak menerima nya.
" tolong jangan tolak pemberian barra ya Mak Abah, doakan alira dan Barra sehat selalu juga bayi ini". barra memegang perut alira
" makasih banyak nak, emak tak tau mau ngomong apa Mak jujur malu".
" jangan malu Mak itu pemberian dari barra , barra juga anak emak. Jika emak dan Abah tak ke sini kami juga pasti ke sana Mak tapi barra senang emak dan Abah bisa sampai sini itu tandanya emak dan Abah sangat sehat ". semua tersenyum lalu Salim emak dan Abah berlalu.
" emak nih kenapa di terima uang nya." ucap Abah di perjalanan sedikit keras supaya di dengar emak.
" pan Abah tau tadi emak sudah nolak tapi barra dan alira memaksa nanti kalau tak di terima mereka tersinggung".
" haduh Abah jadi malu Mak, "
" kenapa harus malu Abah kita kan tidak minta, ya sudah kita pakai seperlunya saja uangnya kita simpan baik-baik untuk kebutuhan mendesak ". Abah mengangguk.
". makasih ya mas atas perhatian mas ke orang tua alira".
" kok orang tua alira sih, emak Abah orang tua mas juga Ra kamu lupa aku udah nikahin anaknya yang bar-bar ini". barra menoel hidung Alira.
" iya alira belum amnesia mas, ". barra lalu menggandeng alira untuk istirahat.
__ADS_1
__
Butik tutup hingga ashar sedangkan supermarket tutup hingga malam. tapi pekerja di sana pakai kerja sift jadi mereka bisa istirahat ngga full dalam bekerja. Ratih bekerja di supermarket itu sedangkan Amel membantu alira kerja di butik.
Amel menutup butiknya setelah semua aman bagi Amel akan beranjak pulang dengan motor maticnya. Kaget saat seseorang memanggil nya cukup kencang.
" Amel mau pulang." tanya kennu sembari berjalan mendekat.
" iya, kamu dari mana". Amel melirik belanjaan kennu.
" Cari cemilan juga kopi di supermarket." ucap kennu tersenyum manis di depan pujaan hatinya.
" kak kennu tunggu sebentar". suara itu terdengar dari dalam supermarket seseorang menunjukkan kantong belanjaan.
" cewek siapa dia."
" Dia itu anak..." belum selesai kennu menjelaskan tanpa berfikir panjang Amel langsung berjalan cepat, ia cemburu wanita yang memanggil cukup cantik.
" ya Allah bidadari ku marah, Amel tunggu Mel". Amel tak ingin mendengar ia melajukan motornya cukup kencang. kennu tak bisa menyusul sepupu nya nanti tertinggal.
Semenjak toko buah ayah kennu jadi besar dengan usaha perkebunan nya yang cukup luas itu sukses kini kennu sedikit berubah penampilan. ia tak membawa motor lagi tapi mobil untuk berangkat ke kampus. Sebenarnya kennu tak mau tapi ayahnya memaksa karena mobil itu tak jalan kalau tak di bawa kennu.
Mira sekolah di madrasah tempat barra mengajar orang tuanya baru pindah di kota itu belum lama karena di minta ayah kennu untuk mengurus kebunnya. Rumahnya berdampingan dengan rumah kennu otomatis kemana-mana nempel sama kennu.
" kenapa Kak nampak murung" tanya mira sedang meminum cappucino nya.
" ngga apa yuk cepat kamu ku antar pulang kakak ada keperluan." ucap kennu ia tak mau melibatkan Mira memang Mira tak salah. dan Mira pun belum tau apa-apa ia di sini baru sebulan lamanya.
Amel meletakkan motor nya di garasi ia langsung masuk dengan dada yang sesak. mungkin karena ia lelah saat tadi jadi ia sedikit emosi melihat wanita yang memanggil kennu dengan sebutan kakak.
" siapa wanita tadi, dasar laki-laki". Amel memukul bantalnya yang tak bersalah itu.
" katanya setia akan menunggu hingga waktu tiba, tunggu aku lulus biar dia lulus juga nyatanya ada wanita lain ia jalan sama wanita lain." lagi ucap Amel kesal.
" hiks... hiks... aku sebal jatuh cinta. dulu perasaan ini tak ada kini setelah ada kenapa begini ya Allah ". Amel menenggelamkan wajahnya di bantal ia mencoba tidur karena lelah butik hari ini begitu ramai.
" masuk ke dalam Mira kakak mau pergi dulu." kennu melajukan mobilnya cukup kencang ia tak ingin masalah nya berlarut. kennu bukan tipe cowok tak setia ia mencintai Amel sejak lama tak mungkin akan ia siakan.
Mobil berhenti di halaman rumah Amel, kennu berjalan masuk mengetuk pintu mengucapkan salam. sang ibu membukakan pintu untuk nya lalu si persilahkan masuk.
__ADS_1
" sebentar kennu ibu panggilkan Amel". ibu lalu masuk pintu kamar Amel tak di kunci jadi ibu bisa leluasa masuk.
" nak ada kennu di depan." ibu mengguncangkan tubuh Amel.
" Amel capek Mak suruh aja ia pulang." ucap Amel tak membuka bantal nya yang menutupi matanya.
" tak baik nak temui dulu sepertinya penting kalau tak penting tak mungkin ia datang kan." kata ibu.
dengan malas Amel bangun ia berjalan ke depan dengan muka yang cemberut. Amel benar-benar marah.
" tak ada yang perlu d jelaskan." saat kennu mau ngomong mulutnya sudah terbuka.
" Mel kenapa kamu tadi langsung pulang kamu cemburu hemm". Amel diam saja tak menjawab.
" Mel tak mungkin aku menyia-nyiakan kamu karena aku mencintaimu bukan kaleng-kaleng."
" pantes saja cinta di samakan kaleng".
" eh bukan gitu maksud ku, aku suka sama kamu sejak lama tak mungkin aku berkhianat. itu tadi Mira sepupuku ia tinggal di rumah sebelah, baru pindah di sini selama sebulan sekolah di madrasah kita dulu " terang kennu.
Sumpah Amel malu rasanya ia ingin tenggelam saja, dirinya di liputi amarah hingga langsung pergi saja melihat kennu jalan sama wanita lain.
" serius kamu nanti alibi saja kamu bohong, dasar laki-laki".
" demi Allah Amel aku ini setia, apa perlu sekarang juga aku lamar kamu biar aman ". Amel mendongak tak ingin itu terjadi.
" jangan-jangan nanti saja kalau sudah lulus kuliah setidaknya sudah menyusun skripsi".
" tapi kamu jangan marah ya besok aku kenalkan".
"beneran sepupu".
" iya aku bisa jadi walinya jika ia menikah nanti." Amel tersenyum girang.
" jangan gini lagi langsung pergi tanpa pamit aku jadi kalang kabut jika kamu marah Mel, akan aku buktikan jika aku mencintai mu menunggu hingga waktu itu tiba.". Amel mengangguk mereka mengobrol sebentar karena waktu sore kennu lalu pamit.
__.
. bersambung
__ADS_1