Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 54


__ADS_3

Di lihatnya alira yang sedang duduk di teras sembari melihat tanaman bunganya, bunga-bunga itu yang menanam Barra. alira bukan tak suka hanya dia tidak telaten untuk merawatnya.


Terdengar suara motor Barra masuk ke halaman rumah, alira menyambut dengan senyuman khasnya. Barra pun membalas senyuman itu merekah bahagia. Alira berdiri menyambut suaminya yang baru pulang, Salim tak lupa ciuman manis mendarat di kening alira kadang di kepalanya.


" sudah baikan sayang".


" Alhamdulillah mas cuma kecapean mungkin alira agak lemas saja". Barra menggandeng tangan alira untuk masuk ke dalam.


" ada oleh-oleh dari emak makanan kesukaan mu." barra menyodorkan satu bungkusan yang emak berikan tadi.


" masyaallah mas ketemu emak, apa emak ikut kajian nya."


" iya emak ikut dan nitip ini untuk kamu". alira penasaran sebenarnya apa sih yang emak bawakan.


" Alhamdulillah, alira kepingin makan ini kangen klepon manis buatan emak".


" kenapa tak bilang sayang, kita bisa ke desa suruh buatin emak. kalaupun di mall ada pasti tak seenak punya emak kan." kata Barra ia juga ikut mencicipi klepon nya.


" iya mas betul, bikinan emak itu top markotop alira suka banget".


" lain kali kalau kepingin bilang sama mas nanti kita ke desa, desa kan tak begitu jauh dari sini Ra. jadi kamu lemas ngga berselera makan cuma mau makan klepon." sidik barra, tak sadar juga dia sudah masukkan empat klepon ke mulutnya.


" bukan juga mas, alira lelah saja mungkin. emang kepingin klepon tapi pikir alira mas kan capek habis ngajar terus jadwal mas ngisi kajian cukup padat". alira mangap barra menyuapinya.


" ya kan kalau cuma ke rumah emak bisa di jadwalkan sayang, jangan gitu lagi mas merasa bersalah nih".


" ngga apa-apa mas, lain kali kita bisa ke rumah emak tunggu jadwal mas kosong. kalau di rumah emak cuma sebentar alira belum sembuh kangennya ".


" apa kamu mau menginap ke sana sayang, tapi mas tak bisa ikut jadwal mas...".


" tidak mas, tanpa mas alira tak akan bisa tidur nanti jadi meriang".


" jangan dong sayang jangan sakit, "


" meriang mas, merindu siang-siang ". alira terkekeh barra mencubit hidung Alira.


__


Setelah shalat isya alira mengaji di simak oleh Barra rutinitas pasutri itu setiap hari. Alira menyetor hafalannya, sedikit demi sedikit lalu sedikit pemahaman pelajaran yang Barra ajarkan.

__ADS_1


" sudah bagus bacaannya Ra tinggal panjang pendek nya saja kadang kamu terlalu cepat, pelan saja asal benar ". alira mengangguk ia senang jika Barra selalu mengoreksi nya, kembali alira ulang-ulang pada bagian yang salah.


" Besokkan libur kita jalan yuk sayang".


" ke mana mas, alira masih suka di rumah". ucap Alira ia melipat mukenanya.


" ya jalan ke mana aja, siapa tau kamu kepingin jalan-jalan Ra". barra melepas kopiahnya.


" lagi males mas, alira suka di rumah. juga nanti jika dokter Fadil menelepon gimana mas." ucap Alira. Barra mendesah istrinya belum bisa move on dari Aisyah.


" Kamu kenapa terlalu memikirkan Aisyah Ra".


" suara mba Aisyah yang memanggil mas Barra selalu terngiang di kepala Alira mas.".


" sudah jangan di pikirkan ya sayang, Allah pasti punya rencana yang terbaik dan jalan yang terbaik untuk Aisyah. Fokus mas itu kamu dan fokus kamu sekarang mas, kita akan sama-sama mengarungi bahtera rumah tangga ini bersama sayang". barra mengusap kepala alira.


" sudah ngantuk belum tidur yuk ". ajak Barra.


" masih jam berapa mas masih sore ini". barra melihat alira lalu tersenyum.


" jam sembilan sayang."


" besokkan kita ngga kemana-mana mas, mas libur alira juga." ucap Alira manja bergelayut bersandar di bahu Barra.


" mau ngobrol sama mas barra, kangen."


" tiap waktu ketemu bisa kangen ya." kata Barra.


" apa tak boleh ".


" boleh banget lah sayang, memang harusnya kangen sama suami itu sangat perlu." Barra gemas ia mengecup kening alira.


" becanda mas, pengen ngobrol aja "


" iya juga ngga apa-apa kok sayang, ". barra mengusap-usap perut alira.


" Semoga Allah lekas hadirkan bukti cinta kita di sini sayang, "


" aamiin, mas sudah sangat ingin."

__ADS_1


" setiap orang berumah tangga itu pasti mereka menginginkan hadirnya seorang anak. tapi kembali lagi kepada takdir Allah jika memang Allah sudah percaya kepada kita semua nya akan di hadirkan. jika memang belum Allah masih melatih kita untuk terus bersabar. Di balik kesabaran itu ada pahala besar yang menanti kita.". ucap Barra.


__


Fadil berlari saat monitor yang terhubung untuk mengontrol keadaan Zahra berbunyi nyaring melengking. Bilal yang saat itu sedang dinas juga ikut terbirit-birit mendatangi ruangan di mana Aisyah sedang di rawat.


" siapkan defibilator cepat." ucap Fadil makin panik.


" kamu harus kuat Aisyah, kamu tak boleh lemah semangat lah untuk sembuh Aisyah". linangan air mata keluar dari mata Fadil, Bilal yang melihatnya ikut sedih ternyata Fadil benar-benar sangat mencintai Aisyah.


Di hentakannya sekali alat itu pada tubuh Zahra.


Tut.. Tut...Tut...


Hentakan pertama belum ada reaksi jantung Aisyah sempat berhenti.


" lakukan lagi Fadil" teriak Bilal.


Dengan tangan gemetar Fadil menghentakkan defibilator ke dada Aisyah. Fadil menitikkan air mata ia menangis.


" bertahanlah Aisyah ku mohon, akan ku panggil Barra kemari. Berjanjilah padaku kamu harus kuat, lawan sakitmu Aisyah ada Barra yang menanti kesembuhan mu". Dua suster miris mendengar dokter Fadil menangani Aisyah dengan derai air mata.


Tut...Tut...Tut...


Bilal lega kini jantung Aisyah berdetak di hentakan ke empat kembali meskipun lemah. Fadil lemas Bilal langsung menuntunnya untuk duduk, ia mengusap air matanya merasa senang.


" ambil oksigen pasang kembali infusan ganti". teriak Bilal memerintah suster yang berjaga.


" bertahanlah Aisyah akan ku bawa Barra di hadapan mu". ucap Fadil dengan tangisnya. Fadil sudah tak peduli lagi jika ada alira yang kini menjadi istri sah Barra.


" istirahat lah dokter Fadil biar Aisyah aku yang menyelesaikan perawatan nya".


" tolong berikan dia obat-obatan terbaik dok, aku mau Aisyah siuman dan mendapatkan kebahagiaan nya".


ada air mata yang keluar dari mata Aisyah yang terpejam. Namun raga Aisyah belum bisa sadarkan diri namun ia mendengar setiap ucapan siapapun yang ada di samping nya.


" kamu hebat dokter Fadil, sungguh cintamu murni. engkau hanya ingin kebahagiaan nya tanpa peduli kebahagiaan mu sendiri bahkan hatimu teriris sakit setiap melihat Aisyah yang tak bisa bergerak selalu memanggil nama Barra laki-laki yang di cintai nya". ucap Bilal.


" aku tak bisa melihat nya menderita dok hiks...hiks...". tumpah Fadil menangis tanpa peduli jika dia seorang dokter. meskipun setiap kali ia menghadapi pasien tapi mengahdapi orang yang di cintai nya ia tak sanggup, hatinya lemah lembek.

__ADS_1


__


bersambung


__ADS_2