
" saya terima nikah nya...."
" Aisyah, Aisyah tangannya bergerak" teriak umi, ibunya Barra yang sejak tadi berdzikir memohon adanya keajaiban ia tak ingin barra menyakiti istrinya. peduli dengan alira menantu yang ia sayangi, sedangkan alira sudah tidak ada di ruangan itu.
Barra langsung menarik tangan nya dari jabatan ustadz Zaky secara spontan. Fadil yang akan keluar karena hatinya hancur melihat Aisyah menikah ia langsung berbalik arah mendekat. Aisyah mulai membuka matanya perlahan, Aisyah sadar membuat semua orang senang mengucap Alhamdulillah.
" ambil stetoskop ku." teriak Fadil saat mendapati Aisyah bangun. suster pun langsung memberikan stetoskop milik Fadil lalu memeriksa Aisyah.
" mas Barra... ". ucap Aisyah pelan, Aisyah memberi isyarat dengan tangan agar dibuka oksigen yang ada di mulutnya.
" jangan kamu paksa Aisyah jika masih lemah," ucap Fadil masih memeriksa keadaan Aisyah. Aisyah menggeleng ia tetap ingin mengatakan sesuatu.
" mas Barra..." lagi nama barra terlontar di bibir nya.
" iya Aisyah barra ada di sini ia menunggu mu". kata Fadil lagi.
" masa barra, Aisyah minta maaf mas". ucap Aisyah sudah mulai jelas.
" iya Aisyah saya memaafkan mu, kamu tidak bersalah". kata Barra lagi.
" Aisyah tidak mau menikah dengan mas barra, mas Barra milik Alira ".
" jangan banyak bicara dulu Aisyah ". ucap Fadil takut Aisyah dalam keadaan drop lagi. namun Aisya menggeleng ia tetap ingin mengatakan nya.
" Tapi nak kamu koma tapi kamu tetap memanggil nama barra". kata ustadz Zaky.
" Aisyah mau minta maaf, Aisyah membohongi mas Barra tidak jujur dengan penyakit Aisyah. Aisyah menolak khitbah mas barra ". ucapan Aisyah lemah namun di dengar oleh semuanya lalu ia tersenyum dan mengangguk.
" Kamu mengkhitbah ku kan". kata Aisyah matanya ke arah Fadil ".
" Bukankah Barra yang kamu cintai ".
" itu dulu sekarang tidak hanya sayang sebagai teman, lanjutkan khitbahmu dokter Fadil". Fadil kaget ia mendongak ke arah Aisyah, tatapan nya tajam tak percaya.
" Aisyah meski tidur tapi mendengar dokter Fadil mengkhitbah Aisyah".ucap Aisyah terbata.
" apa maksudmu Aisyah, mungkin kamu salah mendengar ".
" sumpah..." ucap Aisyah, Fadil tak berani karena memang dia berkata seperti itu.
" Aisyah menerima khitbah dokter Fadil". Fadil makin tak percaya ia melihat mata Aisyah tak ada kebohongan sedikit pun.
" Alhamdulillah " ucap serentak mereka yang ada di ruangan itu.
" alira...". panggil Aisyah.
namun alira tak ada semua orang memindai penglihatan nya mencari Alira.
__ADS_1
" di mana alira umi". tanya Barra.
" tadi keluar saat kamu akan mengucapkan ijab kabul".
" astaghfirullah di mana dia." kata barra lalu beranjak keluar mencari Alira.
Barra bingung mencari keberadaan alira namun ia belum menemukan nya.
" ya Allah di mana kamu alira". Barra mengusap air matanya yang menetes.
" mba lihat wanita jilbab biru jalan di sekitar sini." barra memperlihatkan wajah alira di handphone nya.
" tidak tuh ustadz". mereka memanggil nama dengan sebutan ustadz karena memang barra di kenalnya.
" Di mana kamu alira". barra menelepon namun nomor alira tidak di angkat meski aktif.
" ayo angkat alira kenapa kamu pergi begitu saja ". Barra resah ia belum menemukan alira.
" Suster liat istri saya ini." bara kembali menyodorkan handphone nya.
" oh iya ini ada di ruangan dokter Almira, ruangannya lurus saja nanti belok kanan ".
" terima kasih sus". tanpa bertanya atau berfikir panjang barra langsung ke ruangan itu .
flashback on
air mata alira jatuh tak bisa terbendung lagi kala mendengar kalimat ijab kabul barra yang belum selesai di ikrarkan. Alira semakin ngenyut kepala nya ia pusing kemudian gelap limbung ia pingsan tak sadarkan diri. kebetulan ada dua suster yang melintas di sana alira langsung di tolong oleh suster dan di bawa ke ruangan dokter Almira.
Tak lama alira pun sadar ia memegang kepalanya, air matanya mengalir lagi saat ingat barra mengucapkan ikrar ijab kabul.
" astaghfirullah". Alira mengusap dadanya yang terasa sesak.
Dokter Almira membiarkan nya sejenak agar alira tenang.
" rileks Bu tenang kan pikiran nya jangan di buat stres kasihan janin yang ada di perut ibu." alira langsung berhenti menangis ia menoleh ke arah dokter Almira.
" apa maksud dokter."
" Ibu hamil umur kandungan ibu sudah berjalan empat Minggu, ibu belum pernah periksa." alira menggeleng.
" di mana suami ibu".
" ada dokter". ucap Alira.
" lebih baik ibu hubungi suami ibu untuk menjemput ibu, keadaan ibu lemah ibu kekurangan darah juga sedikit cairan". ucap dokter Almira.
" kepala saya masih pusing dok saya ingin istirahat sebentar ". antara senang dan sedih Alira hamil, ia bahagia karena apa yang di harapkan mereka dari sebuah hubungan Allah kabulkan sedih karena mengingat Barra yang akan membagi waktunya dengan istrinya yang lain. air mata mengalir lagi dan alira mengusap perut nya yang masih rata.
__ADS_1
flashback off
Barra mengetuk pintu ruangan dokter Almira lalu ia masuk setelah suster membukakan nya.
" maaf dok ada pasien di sini bernama alira". tanya Barra langsung.
" oh ustadz Barra iya itu beliau." Almira langsung menunjuk ranjangnya.
" mas Barra..." ucap Alira.
" sayang kamu kenapa kata suster tadi kamu di sini." barra langsung mengecup puncak kepala alira.
" maaf, ibu alira ini istri ustadz Barra".
" iya suster." ucap Barra.
" selamat ya ustadz barra anda akan menjadi seorang ayah." deg... barra terkejut mendengar ucapan dokter. lalu ia melihat ke arah alira, alira justru menitikkan air mata kesedihan.
" benar sayang,,," ucap barra meyakinkan. Alira lalu mengangguk.
" ya Allah terima kasih, terima kasih sayang." barra mengecup seluruh wajah alira penuh kasih sayang.
" mas mba Aisyah ".
" Aisyah sudah sadar kita ke ruangan nya ya".
" dokter boleh kami keluar sebentar, jenguk teman dulu ".
" silahkan pakai kursi roda ya ustadz, jika sudah nanti kembali ke sini ambil vitamin dan obatnya".
" tapi mas...".
" sudah yuk mas bantu". alira lalu duduk di kursi roda karena memang badannya lemas, alira memegang erat tangan Barra ia menoleh melihat Barra.
" sudah yuk Aisyah mencari mu". alira lalu menurut saja ia sudah menyiapkan hatinya dengan kenyataan yang ada.
__
" dok kenapa diam, Aisyah mau dengar lagi khitbah mu. apa dokter Fadil sungguh-sungguh dengan ucapan dokter saat Aisyah tak sadarkan diri ". Aisyah sengaja mengucapkan nya di depan semuanya. Fadil garuk-garuk kepala ia malu.
" bismillahirrahmanirrahim Aisyah, aku Fadil Mahesa mau mengkhitbah mu menjadikan mu wanita satu-satunya dalam hidupku." ucap Fadil, barra menghentikan langkahnya agar alira juga mendengar ucapan Fadil.
" bismillah Aisyah menerima khitbah dokter Fadil Mahesa". tes,,, air mata Fadil langsung luruh.
__
bersambung
__ADS_1