
Fadil mencoba memeriksa infusan Aisyah, ia tau Aisyah merasakan sesak di dada ketika melihat Barra dengan alira. Terlihat sekali memang jika barra sangat mencintai alira kini. Aisyah terdiam ia mencoba mengalihkan pandangan nya, belum bicara sedikit pun dengan Fadil setelah sekian lama baru kali ini mereka bertemu.
" Jangan di tahan Aisyah jika ingin menangis keluarkan saja, tak baik jika memendam hingga sesak".
" aku tidak apa-apa Fadil, kapan aku bisa pulang."
" apa kamu tak ingin bertanya tentang kabarku dulu, sudah lama kita tak berjumpa".
" bagaimana kabar mu".
" Alhamdulillah aku baik, dan masih menunggu dengan rasa yang sama." Aisyah kikuk ia tak enak mendengarkan ucapan Fadil, Barra orang yang di cintai Aisyah sudah menikah dengan orang lain.
" oh ya kabar om dan Tante bagaimana".
" ayah dan bunda juga sehat, hanya saja sekarang ayah sudah tak bisa ke kantor lagi ia terkena sakit urat kejepit".
" ya Allah sakit, semoga om lekas sehat".
" aamiin makasih doanya, ia masih ingin menggendong cucu dulu ".
" kenapa kamu tak segera menikah Fadil". Aisyah mulai menanggapi Fadil dengan biasa.
" belum saatnya jodohku belum di dekat kan sama Allah, mungkin aku masih di minta untuk berjuang atau seseorang yang ada di lauhul Mahfudz ku sedang terus mendoakan ku. doanya masih menggantung." Fadil tersenyum.
" Semoga jodohmu semakin dekat ".
" aamiin terimakasih Aisyah, gimnaa rasanya masih pusing atau bagaimana ". tanya Fadil .
" aku sudah tidak apa-apa, aku ingin pulang."
" jangan berusaha untuk sok kuat Aisyah, ada batas kemampuan dalam diri karena kita adalah manusia. manusia lemah yang Allah ciptakan.".
" Kamu bekerja di sini."
" iya setelah aku pulang dari LA aku di tugaskan di rumah sakit ini". tak lama dokter Bilal masuk untuk visit.
" Dokter Fadil belum pulang ". tanya dokter Bilal.
" belum dok masih menunggu gadis yang sok kuat ini." Aisyah hanya diam saja, Bilal melirik ke arah Aisyah yang terdiam.
__ADS_1
" Oh memang dia sangat kuat". ucap Bilal tertawa.
" Bagaimana Aisyah apa yang kamu rasakan ". Aisyah tak menjawab ia matanya menuju ke arah Fadil. Fadil tau lalu ia pamit keluar.
" Aku merasa pusing semalam dok, dan tak tau kapan aku pingsan. bangun-bangun sudah ada di rumah sakit ini".
" cepat lah lakukan penyembuhan Aisyah, dengan izin Allah sakitmu ini pasti bisa di sembuhkan ". Aisyah tersenyum entahlah ia kurang percaya dengan yang di katakan dokter. Aisyah membaca sebuah artikel jika kemungkinan besar penyakit nya sulit di sembuh kan.
" aku akan bertahan semampuku dokter."
" tak baik begitu, kamu tau kan Allah tak suka melihat hambanya yang menyerah. ikhtiar Aisyah kita tidak tau batas hidup kita di dunia ini, kamu tak boleh menyerah".
" Lalu apa yang harus Aisyah lakukan om".
" Bismillah, kita lakukan penyembuhan ya berobat semaksimal mungkin tak mungkin akan kamu bisa pendam lama-lama orang tuamu pasti tau". umi dan abinya Aisyah lalu masuk ke dalam.
" iya Aisyah kenapa kamu hadapi sendiri nak, masih ada umi dan Abi yang selalu mendukung mu." uminya mulai menitikkan air mata.
" maafkan Aisyah umi." Abi mengusap kepala Aisyah.
" kita ikhtiar ya, Allah tak suka dengan hambanya yang menyerah begini. ikuti kata dokter Bilal." Aisyah lalu mengangguk luruhlah air matanya. Umi memeluknya, Bilal pun lega orang tua nya kini tau apa yang di derita oleh Aisyah.
" masih di sini Fadil".
" Dok bolehkah aku bicara dengan anda." ucap Fadil memburu Bilal.
" baik selesai saya visit ya tiga puluh menit lagi datanglah ke ruangan ku"
" baik dok". Fadil tak ingin masuk lagi ke ruangan Aisyah, ia memilih ke masjid rumah sakit untuk melaksanakan shalat duha sebelum menemui dokter Bilal.
Tiga puluh menit berlalu sesuai keinginan Fadil ia lalu masuk ke ruangan dokter Bilal. Dokter Bilal sudah ada di ruangan sepuluh menit yang lalu.
" assalamu'alaikum dok".
" wa'alaikumsalam masuklah". Fadil pun masuk di persilahkan nya duduk oleh Bilal.
" seperti nya ada yang penting hingga membawamu ke sini, kalau boleh tau ada hubungan apa dokter Fadil dengan keponakan saya".
" keponakan anda". tanya Fadil menyelidik.
__ADS_1
" iya, Aisyah adalah keponakan saya".
" masyaallah dunia ini memang sempit ya dok, kami teman saat sekolah dulu dok. Kedatangan saya ingin bertanya pada dokter, separah apa penyakit Aisyah dok".
" Seperti yang kamu lihat Aisyah tak punya semangat hidup, semangat nya luntur. Sehingga membuat penyakit nya sulit untuk luruh, sebenarnya sudah beberapa bulan diagnosa ini ketahuan namun Aisyah meminta saya merahasiakan kepada siapapun. aku tak bisa berbuat apa-apa ketika pasien sendiri yang meminta". Ucap Bilal panjang lebar, Fadil pun mendesah ia pun bingung harus berbuat bagaimana.
" Lakukan yang terbaik dok, sekarang semuanya sudah tau termasuk keluarga nya semoga Aisyah punya semangat lagi untuk berjuang melawan penyakit nya".
" ya kita hanya perlu mendukung nya".
" Kamu menyukai Aisyah ". tanya Bilal menyelidik.
" Iya dok sejak masa sekolah tapi ia menyukai sahabat ku."
" sahabat siapa".
" Barra, aku pernah mengkhitbah Aisyah tapi ia menolak dengan alasan menunggu seseorang".
" Lalu Barra tak menyukai Aisyah ".
" Aisyah menolak khitbah Barra juga dok, mungkin karena sadar ia tak bisa membahagiakan Barra. Dengan penyakit nya mungkin ia berfikir justru akan menyusahkan orang-orang terdekat nya".
" nah itulah alasan Aisyah kenapa dia melakukan ini dan berjuang sendirian ". Perbincangan cukup lama kemudian Fadil pamit ia akan pulang dulu sebelum kembali menemani Aisyah di rumah sakit.
Sebelum pulang Fadil mampir dulu ke ruangan Aisyah untuk memastikan keadaan Aisyah tapi yang dilihat nya sudah tidur istirahat. Waktu memang sudah siang saatnya juga Fadil pulang ia belum mandi sejak tadi.
__
Alira sudah tertidur lalu barra turun untuk berganti pakaian. Barra berdiri di balkon melihat cuaca cerah di kotanya, kembali lagi melintas pikirannya tentang Aisyah yang berpenyakitan.
Barra baru tau jika Aisyah benar-benar sakit, tak ada yang bisa Barra lakukan kecuali mendoakan nya supaya Allah beri kesembuhan. Hanya saja dirinya merasa bersalah hingga ia sempat membenci Aisyah karena penolakan nya. istighfar barra ucapkan berkali-kali agar hatinya lebih tenang.
" mas..." terdengar suara alira yang memanggil nya.
" mas jangan tinggalin alira, kepala alira pusing. " barra kemudian masuk ia memijat lagi kepala alira, barra mengerti jika yang ia nikahi jauh lebih muda darinya. Sifat kekanak-kanakan dan manja alira kini mulai muncul tapi itu membuat Barra senang. kasih sayangnya untuk alira semakin hari bertambah.
___
bersambung
__ADS_1