Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 55


__ADS_3

Fadil keluar ruangan ia menghubungi Barra, melihat orang tua Aisyah yang menangis sejak tadi ia tak tega apalagi umi nya Aisyah. Barra dan Alira sedang di belakang mereka masih merawat tanamannya hingga tak terdengar ada telepon karna handphone alira dan barra ada di dalam kamar.


" Cinta dalam rumah tangga ini seperti tanaman ini sayang, kita harus merawatnya setiap hari agar bersemi dan berbunga indah." ucap barra ia membuang dedaunan yang kering, di pindahkan nya di tempatkan lebih enak di pandang mata.


" iya mas kita harus tetap pupuk setiap hari". Mereka selesai lalu masuk ingin bebersih dulu karena badan sudah berkeringat.


" kemana sih barra, ya Allah tolong hamba". Fadil resah ia duduk berdiri lagi menghubungi Barra.


" assalamu'alaikum". ucap ustadz Ilyas yang datang bersama istrinya niat ingin menjenguk Aisyah.


" wa'alaikumsalam". Fadil Salim kepada keduanya.


" Kapan kamu ada di Indonesia Fadil".


" Alhamdulillah Abi sudah cukup lama ".


" kamu tak berkunjung ke rumah Abi, wah melupakan Abi ya".


" maaf Abi belum sempat, Fadil langsung sibuk di rumah sakit". kata Fadil masih menahan ingin segera menghubungi Barra.


" Jadi kamu sekarang jadi dokter, masyaallah sudah lama memang tak dengar kabar kamu."


" Alhamdulillah Abi".


" ya sudah Abi mau ke dalam dulu, mau jenguk anaknya ustadz Zaky ". kata Abi Ilyas.


" silahkan Abi ada di ruangan sini". Fadil menunjuk ruangan yang di pakai untuk merawat Aisyah.


Kembali Fadil menghubungi Barra yang sejak tadi belum bisa.


Alira yang masuk ke kamar lebih dulu mendengar suara dering telepon, dilihat nya atas nama dokter Fadil. barra yang baru masuk langsung memberikan handphone nya kepada Barra. Barra melihat alira dulu sebelum menganggkat telepon isyarat meminta izin.


" angkat mas." ucap Alira.


" assalamu'alaikum Fadil ada apa".


" wa'alaikumsalam barra, cepat ke rumah sakit barra ku mohon. Aisyah tadi mengalami detak jantung nya berhenti, cepat barra". Fadil langsung menutup teleponnya tanpa harus mendengar jawaban Barra.


" dok pasien kejang dok". Fadil langsung berlari ke ruangan Aisyah kembali, dokter Bilal lebih dulu ia sudah menyuntikkan obat untuk Aisyah.


" mas Barra". ucapnya lirih yang di dengar oleh ustadz Ilyas juga.


" tenang Aisyah barra akan segera datang." Abi Ilyas pun hanya diam saja meski bingung. Dua kali di dengar oleh ustadz Ilyas dan umi jika Aisyah menggumamkan nama Barra.


" ya Allah ada apa dengan Aisyah ini bi".


" berdoa saja semoga lekas sadar mi". kata Abi Ilyas.


" tapi ia memanggil nama barra terus." ucap umi gelisah, ustadz Ilyas memandang umi memberi isyarat agar umi diam.


__

__ADS_1


Alira menyuruh barra untuk lekas mandi, dan alira ingin ikut meski badannya berasa tak enak. Pusing menderanya sedikit berasa mual ingin muntah, alira sudah minum obat masuk angin namun masih tetap belum sembuh.


" Beneran kamu mau ikut sayang."


" iya mas." ucap Alira tegas.


" nanti kita periksa ke dokter ya, jangan berlarut sakitnya sayang ngga kasihan sama mas." alira menoleh mengerutkan keningnya.


" mas juga butuh dimanja". alira terkekeh.


" yuk mas berangkat udah siang nih".


Sampai di rumah sakit alira dan barra langsung masuk ke dalam, menuju ruangan Aisyah. mereka melihat di sana ada umi dan Abi Ilyas, alira dan Barra langsung salim.


" Abi dan umi sudah lama di sini." tanya Barra.


" lumayan nak tiga puluh menit yang lalu".


" ambil defibilator kembali ". teriak Bilal.


Semua melihat suster juga tim dokter yang lain berlari di iringi Fadil yang berusaha untuk kuat.


Di kejutkan nya oleh Bilal defibilator itu ke dada Aisyah, makin lemah.


" bertahan Aisyah ku mohon barra sudah kemari ". Fadil mengambil alat kejut jantung dari tangan Bilal.


" sabar Fadil kendalikan emosimu". ucap Bilal.


kembali detak jantung Aisyah berdetak kali ini lebih baik dari tadi.


Di luar semua panik tak hanya orang tua Aisyah namun semuanya. Fadil langsung keluar setelah ia selesai, Aisyah kembali normal.


" masuklah Barra ia pasti menunggu mu ". ucap Fadil.


Barra menarik Alira untuk masuk, alira menahan namun barra berhenti.


" mas tak akan masuk jika kamu tak ikut masuk, tak mungkin aku hanya masuk sendirian Ra." Abi Ilyas mengangguk meminta agar alira ikut masuk.


" mas Barra ". terdengar lagi ucapan itu.


" kamu dengar barra tidak kah kamu ingin memberi kebahagiaan di akhir hidup Aisyah". ucap Fadil.


" apa maksudmu Fadil ".


" Mungkin dengan sentuhan tanganmu memegang tangan Aisyah ia akan sadar."


" kamu gila Fadil, itu tak mungkin kami bukan muhrim aku sudah beristri ".


" mas..." alira mengusap lengan barra agar ia tak emosi di rumah sakit.


" sekeras itukah hatimu barra setega itukah dirimu yang bernotabene sebagai ustadz melihat ia sekarat ".

__ADS_1


" mas Barra ". terdengar lagi ucapan lirih dari mulut Aisyah yang di Pasang oksigen.


" dokter Fadil benar mas, mungkin jika mas Barra merawat nya menyentuh mba Aisyah akan segera sadar".


" kamu tau kan alira itu tak mungkin dia bukan muhrim ku hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa aku sentuh selain umi dan emak." ucap Barra. Barra selalu menjaga dirinya meskipun bersalaman dengan selain mahram ia hanya menangkupkan tangannya di depan dada.


" jadikan mba Aisyah muhrim mu mas." Barra dan Fadil sontak melihat ke arah alira.


" alira apa yang kamu katakan jangan semakin gila." teriak Barra tersulut emosi.


" itu yang terbaik mas, alira ngga mau merasa bersalah seumur hidup dengan membiarkan mba Aisyah tanpa kita berusaha ".


" dokter sudah menangani nya dengan baik Alira tugas kita hanya berdoa serahkan semuanya kepada Allah ".


" demi Allah mas, alira tak akan pergi dari sisi mas Barra. Lakukan mas demi kemanusiaan, lakukan demi alira ". ucap Alira


" kamu gila alira , aku tak akan pernah menduakan mu tak akan ada dalam kamus hidup ku." kata barra keras.


Tut...Tut... Tut...


" semakin melemah detak jantung nya". ucap Fadil kembali memeriksa Aisyah.


Alira Manarik barra keluar ruangan, supaya ucapannya tak di dengar oleh Aisyah. Karena meski koma pasien biasanya masih bisa mendengar meski tak semua begitu.


" jadikan mba Aisyah muhrim mu mas, kamu bisa merawat mba Aisyah dengan baik. berikan sentuhan untuk nya dengan begitu mba Aisyah akan bisa sadar. alira siap di madu mas." ucap Alira tegas.


tes


air mata barra justru luruh ia tak mengira jika istri nya alira bisa ikhlas melakukan nya demi orang lain dengan rasa kemanusiaan meski ia berkorban suaminya harus menikahi wanita lain.


" aku tak akan bisa alira, tak ingin menyakiti mu". derai air mata barra luluh.


" mas dengarkan alira, mba Aisyah lebih butuh mas barra". alira melepas cincin pernikahan nya agar di jadikan maharnya.


umi nya barra yang melihat ia ingin menghampiri tapi di cegah oleh ustadz Ilyas.


" biarkan mereka menyelesaikan masalahnya umi, jika mereka tak minta bantuan kita jangan ganggu, mereka sudah dewasa dan tau mana yang terbaik".


" tapi Abi lihat alira bi".


" iya Abi tau, hatinya seperti bidadari tak salah barra memilihnya menjadi istrinya.". ucap Abi Ilyas menahan tangan umi.


-


Barra sudah siap tangannya menjabat tangan ustadz Zaky, akan mulai ijab kabul di lakukan. Deraian air mata luruh oleh semuanya, hanya alira yang berusaha untuk kuat namun ketahanan tubuh nya semakin melemah. ia perlahan keluar ruangan tak mungkin tahan melihat suaminya akan mengucapkan ijab kabul.


" saya terima nikah nya....


__


bersambung

__ADS_1


__ADS_2