Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Ana Uhubbika Fillah


__ADS_3

Semakin lama Aisyah semakin tak tahan kepalanya sakit ia mencengkeram tangan Salma, Salma pun kaget saat tangan Aisyah kuat memegang nya. Salma lalu mengajak Aisyah untuk keluar dari acara tersebut, ia menarik Aisyah agar masuk ke dalam mobilnya.


Salma lalu memberikan obat untuk Aisyah agar di minumnya, Aisyah menyenderkan kepalanya yang berasa pusing.


" tuhkan Aisyah untung kamu langsung tanggap coba tidak semua nya akan tau, sudah lah Aisyah kamu lebih baik jujur ngga enak tersiksa sendiri kan".


" Aku tak ingin membuat orang sedih Salma, aku ingin memberikan kebahagiaan untuk orang-orang yang aku cintai "


" seharusnya kamu mencari kebahagiaan mu sendiri bukan begini caranya, kamu menanggung sakit sendirian ". Salma sangat sedih melihat Aisyah yang saat itu kambuh karena dia saja yang tau penyakit Aisyah dan dokter Bilal. dokter Bilal pun di minta Aisyah untuk merahasiakan nya dari keluarga nya.


" Gimana masih mau masuk lagi atau pulang, jika kau masuk lagi pasti kamu akan pingsan di sana". ucap Salma sedikit kesal kepada Aisyah.


" antarkan aku pulang saja, nanti aku pesan kepada umi dan Abi jika pulang duluan bersama mu".


" nah itu lebih baik Aisyah " lalu Salma membunyikan mobilnya ia bergegas pergi mengantar Aisyah pulang.


_


Acara begitu meriah sesi foto pun di gelar semua kini boleh berfoto-foto dengan sang pengantin. Wajah alira begitu bahagia pernikahan yang tidak di inginkan nya kini menjadi pernikahan termanis untuk nya apalagi Barra memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Bagaimana tidak Barra tau hukum dan kewajiban dirinya sebagai seorang suami.


" mas ayo foto dulu ". Barra tersenyum ketika kamera membidiknya ia berusaha keras untuk tersenyum bahagia.


Foto di saat mereka berhadapan dengan Barra memegang pinggang alira dan Alira seakan menyentuh dada nya Barra dengan saling pandang. Barra tersenyum sejuk kala wajah istrinya yang ada di depan mata ia pandang.


" Kamu bahagia sayang". ucap Barra dengan mereka saling bertatapan hingga fotografer mendapatkan foto yang alami cantiknya


" iya mas, alira bahagia. terima kasih". tak sadar Barra ingin langsung mencium bibir Alira namun alira hentikan dengan jari telunjuk nya.


" mas ini masih di luar banyak orang yang menatap kita". Barra lalu terkekeh merasa malu dengan dirinya, ia benar-benar lupa saat memandang wajah alira. seakan alira menjadi candu baginya kini setiap waktu.

__ADS_1


" kamu akan ku jadikan ratu di hatiku sepanjang hidupku Ra". alira tersenyum malu hatinya berbunga-bunga mendengar gombalan barra. Barra selalu bisa membuat hal terindah untuk alira setiap kata-kata nya mengandung racun yang membuat alira melayang.


" Abah sini kita foto paling apik yak nanti kita besarkan". emak menarik Abah untuk dekat dengan Alira dan Barra.


" untuk apa gede-gede Mak".


" Untuk nakutin tikus kalau mau lewat". jawab emak sewot, alira dan barra tertawa. Melihat kedua orang tuanya bahagia kini kekhawatiran Alira soal pernikahan nya sudah hilang.


" Senyum Abah senyum jangan gitu waek gayanya".


" bagaimana Abah senyum Abah memang begini Mak". padahal dari tadi Abah sudah senyum tapi masih kurang aja menurut emak.


" yang lebar bah gini senyum Pepsodent". emak menirukan gaya senyum yang memamerkan giginya.


" nah gitu ganteng ayo kita foto". alira dan Barra pun mengikuti emak dengan senyum Pepsodent nya.


" makasih ya mas, emak bahagia". bisik alira di telinga barra.


Waktu seharian menyambut tamu sungguh menguras tenaga Barra dan alira, acara sudah selesai mereka masuk ke kamarnya dengan lelah.


" mandi dulu Ra baru istirahat ya biar kerasa enak badannya ". ucap Barra.


" iya mas". alira lalu bergegas masuk ke kamar mandi.


Tamu-tamu sudah banyak yang pulang, emak juga ikut pulang dengan ustadz Yusuf. Tak bisa menginap karena emak lagi banyak jahitan dan Abah esok akan memanen kangkung nya yang di tanam tempo dulu.


Pikiran Barra masih teringat dengan sosok Aisyah yang kini terlihat berbeda badannya yang semakin kurus. ingin rasanya ia mendekat dan bertanya tapi itu tak mungkin baginya ada hati yang harus di jaga. Apalagi sekarang alira terlihat sudah menerima pernikahan ini dan lambat laun cinta itu tumbuh di hati alira untuk Barra.


" astaghfirullah kenapa pikiran ini memikirkan Aisyah dia tak memiliki hak untuk aku pikirkan". gumam Barra ia mengusap wajahnya, barra sembari menyiapkan baju untuk Alira.

__ADS_1


" kenapa mas." tanya alira yang berdiri di belakangnya ia sudah selesai, terlihat Barra sedikit gelisah.


" tidak apa-apa sayang, pakai bajunya lalu istirahat mas mandi dulu sebentar". alira tersenyum dan mengangguk.


Alira masih menunggu Barra untuk istirahat, ia tak bisa juga memejamkan matanya.


" kenapa belum tidur hmmm..." barra mendekat di tariknya alira ke dalam pelukannya.


" mas alira boleh tanya".


" hmmm"..


" tadi ustadz Fikri itu siapa mas dan dua wanita yang ada di sampingnya..." barra tersenyum kecil banyak mata yang memang memandang ustadz Fikri sahabat dari abinya Ilyas. Ustadz yang dulu terkenal sangat tampan dan berwibawa idola bagi semua kalangan emak-emak juga para gadis.


" kenapa kamu tanya begitu hmmm..." barra menarik pelan hidung Alira.


" Apa istrinya dua ". alira bertanya sembari meringis takut kena marah Barra. Barra lalu mencium puncak kepala alira ia tau setiap yang di takutkan istri dari seorang ustadz. Hal halal tapi tak ingin terjadi.


" iya ustadz Fahri memang memiliki istri dua, baju coklat tadi istri pertamanya dan yang baju putih istri keduanya. mereka terlihat akrab ya bisa menerima satu sama lain, masyaallah ". alira terdiam ia tak menanggapi lagi ucapan Barra, barra lalu mengeratkan pelukannya.


" kamu tau kan pahalanya bagi istri yang merelakan suaminya menikah lagi, tapi itu tidak akan pernah terjadi pada suamimu ini sayang sampai kapanpun aku tak akan pernah menduakan mu." alira lalu tersenyum ia mendekatkam wajahnya lalu mencium pipi Barra, barra pun kaget ini pertama kalinya alira mencium barra.


" wah istriku sudah mulai berani ya". alira merona ia malu di tenggelam kannya wajahnya di dada milik Barra.


" Tak usah malu lagi alira kita ini suami istri yang ada padaku ini milikmu juga sebaliknya, kita saling memiliki satu sama lain. Semuanya halal dan berpahala, Ana Uhubbika Fillah". bisik barra di akhir kalimat. Alira memang tak bisa mengekspresikan dengan kata-kata di peluknya barra semakin erat. Barra tak henti-hentinya menciumi puncak kepala alira dan mereka lalu tertidur karena lelah.


___


bersambung

__ADS_1


terimakasih atas dukungan nya, jangan lupa beri bintang 5 untuk penilaian novel ini.


terima kasih untuk hadiah dan like nya jangan lupa selalu selipkan komentar.


__ADS_2