Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 59


__ADS_3

Tak ada yang tak bahagia hari itu, semua orang begitu bahagia melihat Fadil menikah dengan Aisyah. Pertama kalinya Aisyah menjabat tangan Fadil lalu di ciumnya sebagai seorang suami.


" terima kasih Aisyah". air mata itu jatuh di pipi Fadil tanpa permisi.


rumah sakit sebagai tempat pernikahan sakral dokter Fadil dan sang pasien Aisyah.


___


Acara selesai karena di rumah sakit jadi tak akan lama, orang-orang juga sudah pulang satu persatu karena Aisyah juga harus istirahat. sebentar-sebentar Fadil memeriksa infusan Aisyah yang seharusnya belum boleh lelah.


" Fadil aku pamit ya, sekali lagi saya ucapkan selamat". ucap Barra masuk pamit dengan Fadil.


" cepat sembuh ya mba Aisyah".


" iya alira, terima kasih banyak".


" lebih semangat lagi untuk sembuh ada Fadil ia tak akan pergi lagi dari sisi mu". kata Barra.


" Terima kasih banyak barra". Fadil memeluk Barra sejenak.


" yuk pulang ". barra menggandeng tangan alira erat keluar dari ruangan.


mata Aisyah masih memandang kepergian alira dan Barra, Fadil yang melihatnya pun sudah tak merasa asing mungkin perasaan di hati Aisyah masih ada untuk Barra. dengan tekad Fadil ingin menghilangkan perasaan itu di hati Aisyah apalagi Fadil sekarang adalah suami Aisyah yang dengan mudah sekali ia membuat jatuh hati pada Aisyah.


Fadil mengusap kepala Aisyah, Aisyah tersenyum kala tangan yang sudah halal menyentuhnya terasa ada di kepalanya. Aisyah memegangnya lalu tanpa malu ia mengecup tangan Fadil, keluarga juga sudah pulang semua membiarkan Fadil dan Aisyah berdua di ruangan rumah sakit.


" Barra sudah bahagia bersama istrinya aku harap kamu juga bisa bahagia bersama suamimu". ucap Fadil, Aisyah tersenyum ia tau apa maksud dari ucapan Fadil.


" aku senang melihat mas barra dan alira bahagia, aku juga berharap akan selalu bahagia dengan suamiku di ujung waktuku". kata Aisyah dengan senyuman namun dadanya sesak.


Fadil mengecup kepala Aisyah lalu ia duduk di samping Aisyah dengan menggenggam tangan nya, Fadil berusaha untuk tidak gemetar lagi kala tangan halal itu bisa ia sentuh.


" kamu akan sembuh Aisyah, aku akan merawat mu semampuku. kita besok akan biopsi sumsum tulang belakang setelah itu pasti kamu akan sembuh. aku yakin dan aku harap kamu pun yakin jika kamu akan sembuh." kata Fadil menatap mata Aisyah.


tes...

__ADS_1


namun air mata Aisyah luruh begitu saja, sudah berusaha ia menahan tapi tak bisa.


" maafkan aku mas yang akan selalu merepotkan mu nanti".


" tidak, sebelum aku menjadi suamimu aku sudah merawat mu dan menjagamu. sekarang kamu sudah sah menjadi istri ku pasti aku akan lebih menjagamu, tak ada yang di repotkan karena aku ikhlas kamulah nyawaku Aisyah belahan jiwaku ".


" jangan katakan itu mas, kita tidak tau sampai kapan Aisyah akan bertahan ".


" kamu akan sembuh mas yakin".


"maaf seharusnya Aisyah melaksanakan kewajiban Aisyah sebagai istri, tapi Aisyah tak bisa. maaf mas maaf...hiks...".


" makanya semangat sembuh dong, supaya kita bisa bulan madu." kata Fadil dengan mengedipkan sebelah matanya. Aisyah lalu tersenyum tertawa ia malu.


" sekarang ganti bajunya pasti gerah kan pakai gaun ini, lalu makan siang dan istirahat tak baik kamu lama duduk harus banyak istirahat ". Fadil mengunci pintunya terlebih dahulu agar tak ada yang nyelonong masuk, ia lalu membuka hijab Aisyah perlahan.


tergerai rambut indah Aisyah yang lurus dan hitam itu membuat Fadil sejenak menatap Aisyah.


" mas jangan gitu natapnya Aisyah malu".


" aku bantu ikat rambutnya ya".


" bau mas Aisyah belum keramas semenjak koma."


" tak apa besok mas bantu untuk keramas walaupun baunya kecut buat mas tetap wangi".


Fadil mendekat di bukanya resleting yang ada di belakang punggung.


" bismillah". Fadil berucap mencoba kuat melihat lekuk tubuh sang istri yang begitu indah meski tampak kurus sekarang.


" biar Aisyah sendiri mas".


" jangan biarkan aku yang membantu mu, tak perlu malu aku suamimu sekarang. anggap saja aku perawat yang merawat pasiennya terus kamu pura-pura masih dalam keadaan koma." kata Fadil namun Aisyah malah tertawa.


akhirnya selesai juga gaun itu Fadil gantikan, meski perasaan Fadil yang tak karuan rasanya untuk pertama kalinya melihat aisyah istrinya terlepas dari busana. andai Aisyah tak sakit mungkin Fadil sudah membawanya dalam lautan kenikmatan.

__ADS_1


" makan dulu, minum obat lalu tidur ya." ucap Fadil menyuapi Aisyah.


" Terima kasih mas". tes,,, menetes lagi air mata itu.


" sudah jangan nangis terus mas ngga mau melihat mu terus menjatuhkan air matamu, tersenyum lah terus untuk ku Aisyah. dokter Fadil suamimu". Aisyah tersenyum ia mengusap air matanya lalu tersenyum.


" nah seperti itu kan nampak cantik terus". Aisyah terkekeh, selain seorang dokter yang bisa menyembuhkan penyakit ternyata ia juga bisa menyembuhkan hati yang terluka". Aisyah lalu berbaring di bantu oleh Fadil , Fadil memintanya agar segera tidur. tak baik jika Aisyah akan melek lama-lama mengingat kondisi Aisyah yang masih sangat lemah.


__


Alira bergelayut manja di sisi Barra, terasa lega dirinya sudah tak ada lagi yang alira khawatirkan tentang wanita lain. barra mengusap kepala alira lembut, barra sedang memeriksa laptop nya tentang penghasilan dari kebun sawit pemberian sang kakeknya. dari situlah Barra mengawasi pemasukan dan pengeluaran kebunnya. setiap bulan yang itu terus mengalir ke rekening barra.


" kenapa hmmm... mau jadi pengantin baru juga." tanya barra. alira tertawa menutup mulutnya.


" ngga mas, alira pengen aja nempel mas barra. boleh tak."


" ya boleh banget mau kayak prangko juga boleh tak akan lepas".


" mas sedang apa sih, serius amat ". alira mulai melihat isi laptop Barra.


" lagi memeriksa hasil kebun".


" kebun, punya siapa mas. Abi..." tanya alira penasaran.


" bukan. ini punya mas sendiri, kamu tau. kenapa mas bisa daftarin kamu kuliah bisa beli mobil sekarang. ". alira menggeleng.


" Semua dari sini sayang, kebun ini pemberian kakek untuk Barra. Alhamdulillah dari sini mas bisa pakai untuk berbagi juga. memang jika mengandalkan gaji mas di madrasah tak akan cukup. inilah yang bisa mas pakai untuk kebutuhan mas yang lain, mas berusaha memanfaatkan pemberian kakek dengan sebaik mungkin ". kelas Barra.


" masyaallah mas, Alhamdulillah semoga selalu mengalir pahala untuk kakek dan mas bisa gunakan dengan sebaik mungkin".


" aamiin Alhamdulillah sayang, terima kasih kamu selalu bersikap sederhana bahkan selalu bertanya dari mana mas dapatkan uangnya". barra mengusap kepala alira lalu mengecup nya.


" Kata ustadz Barra guru alira dulu, semua itu akan ada hisab nya dan akan ada pertanggungjawaban nya di akhirat kelak". kata alira sembari terkekeh. Barra tertawa ia meletakkan laptop nya lalu menggelitik alira hingga alira tidak tahan. Berakhir dengan sebuah malam panjangnya merenggut kenikmatan pahala suami istri.


__

__ADS_1


bersambung


__ADS_2