
Barra sendiri yang menunggu Alira di rumah sakit, ia tak ingin kejadian semacam ini di ketahui oleh orang tuanya. Barra memandikan Alira dengan lembut alira di keramasi oleh Barra sendiri ia tak mau perawat yang melakukan nya. barra ingin alira sembuh seperti sedia kala, rasa takutnya hilang.
" kalau mandi gini kan sudah wangi sayang." barra mengeringkan rambut alira, alira begitu manja lebih sering dia memeluk Barra.
Selain dokter Almira sebagai dokter kandungan Barra pun memanggilkan psikologi untuk istrinya, sedih hati barra ketika melihat alira ketakutan apalagi tangannya mencengkeram kuat saat traumanya muncul.
" mas ngga ngajar kok masih di sini."
" mas izin sayang, mas mau kamu sembuh dulu ya". kata Barra mulai menyuapkan sarapan paginya ke mulut alira.
" alira ngga papa mas ini juga sehat, ayo kita pulang mas". kata alira lahap, seakan alira memang hilang kesadarannya tak ingat yang telah terjadi.
" iya kamu sehat nanti kita ketemu dokter ana dulu ya".
" siapa itu mas". alira cemberut, kemudian Barra mengusap kepala alira.
" dokter psikologi yang akan menyembuhkan mu sayang ".
" alira udah sembuh mas, alira sehat ngga apa-apa ".
" iya sekarang habiskan dulu makannya ".
Amel dan Nita datang ia membawakan buah tangan untuk alira, mereka mengetuk pintu lalu Barra mengizinkan untuk masuk.
" gimana keadaan kamu lir". tanya Amel berdiri di samping alira, alira masih di suapi oleh Barra.
" aku sehat kalian dari mana".
" kita ke sini dari rumah, cepet sehat ya". alira mengangguk.
Nita menyenggol lengan Amel melihat adegan so sweet alira dan ustadz barra, di suapi di lap mulut alira pakai tisu membuat Amel degup-degup jadi pengen seperti alira.
ya nikah sama amel sama kennu wkwkwk.
" mas mau cari sarapan dulu ya kami sama Amel dan Nita". ucap Barra memberi minum alira, alira pun mengangguk mengiyakan.
Amel dan Nita langsung duduk di sisi ranjang alira mendekat kala Barra telah pergi keluar.
" ya ampun lir, ustadz Barra so sweet banget sih jadi baper aku". alira tertawa.
__ADS_1
" memang mas Barra selalu memanjakan aku Mel, Alhamdulillah punya suami seperti mas Barra berasa indah duniaku ".
" ya ampun sumpah aku iri lir, seorang guru seperti ustadz Barra bisa seromantis itu." ucap Nita menghibur sebelumnya barra memang meminta kedua sahabat nya itu untuk sering datang menemani alira karena alira yang syok juga trauma dengan kejadian kemarin
" ya kalian nikah biar bisa romantisan kayak aku.".
" siapa yang mau sama aku ya lir." ucap Nita.
" mang Edo". Amel mangap, mang Edo adalah satpam baru di sekolah mereka dulu waktu SMA.
" ngaco kamu lir mang Edo kan lagi ngejar Bu Susi yang gemoy itu." mereka bertiga lalu tertawa lepas.
terdengar suara ketukan pintu, dokter Almira visit terlebih dahulu.
" bagaimana nona alira masih merasakan sakit."
" Alhamdulillah tidak dok saya sehat, kapan saya bisa pulang dok".
" nanti ya setelah janin nya benar-benar kuat". alira memegang perutnya sekilas ia mengingat kejadian itu.
" alira takut dok". alira lalu memegang erat tangan Amel.
" jangan takut jika kamu ingin cepat sembuh dan janin mu sehat kamu harus melawan rasa takutmu ". ucap dokter, Barra melihat nya dari luar ia sengaja tak masuk agar alira bisa beradaptasi tanpa dirinya. perihh hati barra saat melihat jika alira takut.
" sudah kamu jangan banyak pikiran dulu sehatkan badan baru kamu bisa lekas pulang". alira meringis merasakan obat yang masuk ke dalam infusannya.
" tahan sayang tahan itu hanya sebentar". ucap barra lirih di luar melihat alira meringis merasakan sakit.
Dokter Almira pamit untuk keluar ruangan, alira menitikkan air mata lagi saat merasakan sakit karena obat yang di suntikkan.
" lir kamu harus kuat ada banyak orang yang menyayangi mu tak akan kita biarkan Aldo menyakiti mu lagi, kamu harus melawan rasa takutmu kami janji hal ini tak akan terulang untuk ketiga kakinya. Ustadz barra pasti akan melindungi mu selalu.". kata Amel menggenggam erat tangan alira.
" aku takut sekali Amel, hiks..."
" ada kami ya kamu harus kuat, ingat ada janin dalam perut mu yang harus kamu lindungi. Bismillah alira hilangkan rasa takutmu lawan ya". alira terdiam, Karena tak ingin istri nya terlalu tertekan barra lalu masuk ke dalam.
" mas". alira memeluk Barra erat, makin meleleh aja jomblo Nita dan Amel.
" iya sayang kamu harus kuat ya ada anak kita di sini". Barra mengusap perut alira yang masih rata itu, alira mengangguk mengiyakan ucapan barra.
__ADS_1
" mas boleh alira minta sesuatu ".
" iya katakan saja apa sayang ".
" alira tak mau tinggal di rumah itu lagi, takut mas." ucap Alira.
" iya nanti kita akan pindah, kita beli rumah yang lebih dekat dengan madrasah ".
" tak perlu beli mas ngontrak lagi saja, kalau beli banyak uangnya."
" mas masih ada uang sayang, kita beli saja supaya nyaman ". ucap Barra.
" makasih ya mas". barra mengangguk.
Amel dan Nita pun pamit mereka akan ke kampus jam 10 ada mata kuliah. alira senang barra meminta keduanya untuk sering menjenguk Alira.
" alira dapet laki-laki yang tepat ya, ustadz Barra begitu menyayangi nya. aku jadi kepingin seperti alira." ucap Nita saat berjalan ke luar rumah sakit bersama Amel.
" jadi baik dulu supaya pantas berdampingan dengan yang baik juga, ustadz Barra emang the best ".
" Kan kamu juga sama mau suami yang begitu." ucap Nita.
" ya iyalah nit siapa juga yang tak mau di istimewa kan sama suami, di sayang di lindungi".
" ya nanti kennu suruh begitu."
" pastilah nit kalo ngga aku bejek dia." Nita tertawa di ikuti Amel.
" mas maafin alira yang banyak maunya ya." ucap Alira bersandar di ranjang.
" memang maunya apa sayang, ngga kok itu kewajiban mas melindungi mu membuat mu nyaman sayang". ucap Barra.
" alira jadi harus kuat ya mas, tapi alira masih takut".
" ia tak akan kembali sayang mas pastikan itu".
" apa salah alira mas, sehingga alira yang mengalami ini".
" husst... ngga boleh ngomong begitu sayang, Allah sedang menguji kita dengan kesabaran. Berdoa saja ikhtiar semoga tidak akan pernah terjadi Aldo menyadari kesalahannya dan ia bisa bertaubat. yang jahat tak akan pernah menang sayang. sekarang pikirkanlah janin mu anak kita ." alira memeluk Barra lagi, ia cukup bahagia memiliki suami Barra. Kesabaran nya luar biasa hingga detik ini barra belum mencari Aldo, baraa hanya mendoakan jika Aldo terbuka hatinya untuk bertaubat.
__ADS_1
__
bersambung