Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 33


__ADS_3

Seperti yang Barra katakan jika ia akan mengantar alira untuk daftar sekolah. Setelah satu minggu berlalu Barra sudah selesai dalam mengawas ujian anak-anak. Barra sudah berpakaian rapi sedangkan alira baru keluar dari kamar mandi setelah ia memasak. Bau bawang juga tak membuatnya nyaman.


Barra sudah menyiapkan pakaian alira yang mau di pakai untuk ke kampus, padahal ia sudah memakai baju tidur berlengan panjang. Alira tak tau jika hari rencana ke kampus nya ia kira kasih esok-esok lagi.


" Mas Barra sudah rapi mau ke mana, katanya sudah selesai ngawasnya". ucap alira ia mengeringkan rambutnya.


" Memang sudah selesai, hari ini kita ke kampus daftarin sekolah kamu Ra". alira menoleh ke arah barra, ia masih duduk di depan kaca rias.


" mas bukan alira menolak, tapi maaf sekali mas masih guru mengabdi apa uangnya cukup sedangkan kita juga butuh untuk biaya kontrakan dan juga kebutuhan sehari-hari". kata alira ia diam berhenti mengeringkan rambut nya. Barra tau kekhawatiran alira, barra lalu mendekat ia mengambil pengering rambut yang ada di tangan Alira. Alira lalu mengeringkan rambut alira dengan lembut.


" Sayang yakin ya Allah pasti akan memberikan rezeki untuk kita, ketika kita berniat untuk yang baik-baik dan kita terus berusaha. dengan ikhtiar bekerja dan memohon kepada Allah agar kita di luas kan rezekinya. Menikah itu bukan terus rezeki mas jadi habis karena harus membiayai mu Ra, tapi Allah akan meluaskan rezeki kita" Barra mulai membuka piyama yang di pakai oleh Alira.


" Alira baru keramas mas..." dengan ucapan manja alira merengek, bukan mau menolak tapi memang dia baru keramas.


" Suudzon terus sih istriku ini..." Barra menarik hidung Alira dengan gemas sembari terkekeh.


" Mas pagi-pagi sudah buka piyama". alira merajuk, ia mulai manja kepada Barra.


" Mas tuh mau kamu ganti baju sayang bukan mau ngajak ibadah". Barra mulai melepas semua kancing nya di pegang erat oleh alira takut jika barra khilaf. Barra terkekeh justru ia malah menggoda Alira, dengan memasukkan tangannya ke dalam piyama membuat alira geli lalu ia tertawa karena Barra mulai menggelitik.


" Geli mas..." alira terduduk dan menunduk agar barra tak lanjut aksinya.


" Ganti baju yuk keburu siang Ra."


" mas Barra keluar dulu".


" kenapa aku masih mau benerin rambutku". ucap Barra berbohong.


" pokoknya alira mau mas keluar dulu dari kamar". Barra terkekeh lucu saja melihat Alira, kini mereka berdua sudah sangat dekat.

__ADS_1


" iya iya mas keluar tapi jangan lama-lama ya keburu panas kita naik motor nanti kamu kepanasan ". Barra lalu keluar alira langsung mengunci pintunya. Barra geleng-geleng kepala tak di sangkanya menikah dengan alira sungguh membuat hatinya bahagia meskipun setiap hari ia harus mengajari alira tentang semuanya.


Setelah lima belas menit alira selesai dengan pakaian yang di siapkan oleh Barra. Setelah menikah dengan Barra alira tak memakai celananya lagi untuk keluar rumah ia pakai hanya untuk dalaman gamis saja. Barra tak mengizinkan mengingat ia juga sebagai seorang ustadz, ustadz akan menjadi contoh untuk orang di sekitar nya.


Barra memakaikan helm untuk alira, seperti biasa hal kecil tapi romantis. Barra senyum-senyum saja sejak tadi Alira jadi salah tingkah.


" kenapa sih mas udah ayo berangkat keburu panas." alira lalu naik ke motor Barra. Barra menarik tangan alira agar melingkar di pinggang nya.


" Pegangan ya ra jangan di lepasin nanti kamu terbang". Alira mencubit pinggang Barra.


" aduh Ra sakit". Alira terkekeh justru ia lebih erat memeluk Barra bener katanya takut jatuh barra mulai menambah kecepatannya karena kampus ada di kota.


Lega motor sudah berbelok memasuki wilayah kampus, Barra mencari tempat parkiran yang kosong. Di parkir kan nya motor barra di sana. Kampus itu di mana Amel dan temannya mendaftar jadi alira masih tetap punya teman dekat.


" Yuk kita tanya dulu bagian pendaftaran".


" ngga, bisa offline mas sudah hubungi pihak kampusnya". ucap Barra.


Tes... air mata itu tiba-tiba menetes dadanya terasa sesak kala ia menyatakan benar jika Barra sudah menikah. Barra menggandeng tangan alira saat memasuki kampus.


" Kamu kenapa Aisyah." Aisyah lalu mengusap air matanya.


" tidak apa-apa salma." Aisyah kembali makan batagor yang di belinya. namun tatapan Aisyah masih mengarah ke barra dan alira, di telusuri oleh Salma tatapan Aisyah. Salma terkejut melihat Barra menggandeng sosok wanita berjalan menuju kantor.


" Astaghfirullah itu apa benar seperti Barra kan Aisyah".


" iya kabarnya emang ia sudah menikah". ucap Aisyah berusaha kuat padahal dada nya sesak rasanya.


" menikah cepat amat, baru kemarin kamu menggagalkan khitbahnya. katanya dia cinta sama kamu mudah banget berpaling dasar laki-laki". umpat Salma kesal.

__ADS_1


" Sudah ketemu jodohnya Salma, mas Barra tak berjodoh dengan ku."


" ya tapi ngga gitu juga kan Aisyah, ibarat kuburan masih basah ia sudah mencari yang lain".


" kenapa ngomongin makam Salma, ini urusan mas Barra. ".


" aku penasaran sama istrinya bagaimana sih orangnya cantik kamu pastinya kan."


Jika dilihat memang Aisyah lebih cantik, tapi Alira memiliki senyum yang manis wajah yang tidak membosankan. Kalau di banding kan dengan Aisyah memang masih cantik Aisyah.


" jangan gitu Salma, orang bilang cantik kan tinggal bagaimana orang melihatnya".


" yah tapi kamu itu wanita yang paling cantik yang pernah ku kenal Aisyah ".


" jangan begitu Salma, kecantikan itu ngga akan abadi. Bersyukur Allah beri kita kecantikan yang lebih tapi tak boleh mencela orang lain". ucap Aisyah agar Salma tak mengagungkan kecantikan Aisyah terus. Aisyah begitu risih jika ada yang memujinya. Kerena di balik kecantikan Aisyah ia juga memiliki kekurangan, Aisyah sakit ia tak bisa hidup dengan tenang. Setiap detik ia merasa mendekati kematian, entah detik ini nanti atau esok.


" Yuk pulang". ajak Aisyah karena sudah merasa sakit.


" kok pulang kita masih ngobrol".


" aku capek ngantuk Salma, kalau tak mau pulang tak apa biar aku sendirian". akhirnya Salma membuntuti Aisyah untuk pulang.


" tunggu Aisyah". Aisyah berjalan dengan begitu cepat ia merasakan pusing pada kepalanya, akibat stres ia pasti kambuh.


Semenjak sakit mendera Salma selalu mengantar jemput Aisyah, jika tidak Aisyah akan naik angkot saja. ia tak berani naik motor lagi takut jika kambuh di perjalanan. Orang tuanya untung tak curiga karena memang di kampus Aisyah hanya mengurus skripsi akhirnya saja. Aisyah memijat pelipisnya, kepala yang pusing menderanya. Salma tau ia langsung menepikan mobilnya di carinya obat Aisyah dan meminta Aisyah untuk meminumnya dulu.


"""


bersambung

__ADS_1


__ADS_2