Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 75


__ADS_3

Setiap hari makin padat saja jadwal Barra meski ia sudah berusaha untuk mengurangi tapi tetap saja tak bisa ia tolak jika tempat nya dekat dengan rumah. kini barra punya sang asisten yaitu Fauzan ia adalah murid dari abinya merangkap sebagai sopir Barra juga.


" Ustadz hari ini ada jadwal di desa Banyuwangi selepas isya." ucap Fauzan yang juga bertugas mengingatkan Barra.


" baik kamu jangan ambil banyak ya jadwal malam aku harus menemani istri ku kasihan dia sedang hamil besar". kata Barra tak ingin melewatkan hari bersama sang istri.


" iya ustadz akan saya atur jadwalnya".


" jika tempat nya jauh tolong kamu tolak dulu ya sampai kan maaf ku pada mereka, aku tak bisa meninggalkan alira sendirian di rumah".


" kan ada Ratih ustadz yang menemani". ucap Fauzan.


" ya pasti beda Fauzan aku suaminya sedang Ratih hanya menemani, nanti kalau kamu punya istri pasti merasakan hal seperti ini apalagi ini pengalaman ku yang pertama ". Barra sedang menulis materi yang akan ia sampaikan nanti.


" iya ya ustadz." Fauzan garuk-garuk kepala yang tak gatal itu.


Barra sudah menelepon alira jika selepas ashar ia langsung ke tempat tujuan kajian. Kini pondok impian sang kakek berangsur jadi sudah bisa di operasi kan namun belum bisa banyak merekrut murid karena keterbatasan pengasuh juga pengajar. Ustadz Ilyas dan ustadz Zaki saja yang standby di sana.


" mau makan sekarang apa nanti lir." tanya Ratih seperti perintah barra ia harus menyiapkan semua kebutuhan alira.


" aku bisa sendiri Ratih jangan berlebihan gitu".


" ini perintah ustadz Barra kamu harus dilayani sebaik mungkin".


" Kamu cukup menemani aku saja Ratih jangan terlalu kamu pikirkan ucapan mas barra." kata alira ngga enak saja sama sahabat nya ia di perlakukan seperti putri raja.


" sudah menjadi tugasku alira, bukan berlebihan tapi memang ustadz barra hati-hati terhadap istrinya yang bawel ini". alira terkekeh.


" apa aku masih terlihat bawel, aku sudah berusaha menjadi lembut". Ratih terkekeh.


" lembut kalau sama ustadz barra sama aku kamu tetap bawel, tetap alira si absurd ".


" ya ampun Ratih kamu masih mengingat nya saja".


" ya udah makan yuk aku udah laper nih, juga nanti kalau ustadz sampai rumah kamu belum makan bisa berabe aku di pecat lir." rayu Ratih.


" ngga akan ada yang memecat mu aku orang yang paling pertama berdiri di barisan mu." Ratih terkekeh masih saja alira mengutamakan persahabatan.


" terima kasih ya sahabat ku." alira dan Ratih saling peluk.

__ADS_1


" aw..." Ratih mengaduh bayi alira menendang.


" anak saliha baik-baik di dalam perut sebentar lagi kamu akan melihat dunia". Ratih mengusap perut alira.


___


Suasana kajian cukup ramai, ibu-ibu banyak juga yang membawa anak-anak nya. Mereka berlari ke sana ke mari, ada yang menjadi perhatian barra yaitu satu anak laki-laki yang hanya duduk mendengarkan barra berbicara. ia tidak ikut berlarian dengan yang lainnya hanya duduk di samping ibu paruh baya itu.


Ibu-ibu semua mendengarkan isi ceramah Barra dengan seksama, nada bicaranya tidak menggurui namun asyik untuk di dengar. Barra semakin terkenal dengan gaya ceramah yang elegan untuk itu butik alira juga semakin ramai padahal Barra tak pernah mempromosikan saat ceramah tapi yang namanya emak-emak suka gosip dari mulut ke mulut butik itu makin terkenal juga.


Alira galery itu nama butiknya dan barra sendiri yang memberi nama. Seluruh penghasilan akan masuk ke rekening alira, barra tak ambil sedikit pun. Barra mengatakan kepada alira jika bebas alira mau gunakan untuk apapun uang tersebut. kuliah sudah barra bayari, kebutuhan rumah tangga dan uang jajan bulanan alira juga barra penuhi jadi murni uang dari butik utuh.


Anak kecil yang Barra katakan tadi berlari mendekati barra ia meminta tanda tangan. Barra kaget saja kenapa si anak itu benar-benar menginginkan tanda tangan nya.


" untuk apa tanda tangan ini nak." barra mengusap kepala bocah kecil itu.


" sebagai bukti jika Ammar datang ke sini nanti akan aku kasih tau ayah". Bilal tersenyum.


" ayahmu di mana".


" ayah di rumah sakit dan bunda jaga adik di rumah,".


" siapa yang sakit nak".


" kamu ke sini sama siapa."


" sama Oma tuh," Ammar menunjuk ke arah tersebut.


" ya sudah anak Solih ini tanda tangan nya sudah kembali ke Oma nanti di cariin." Ammar mengangguk lalu ia berlari menuju Omanya.


Rasa lelah menyerang Barra dari pagi nampaknya ia belum pulang, setelah di madrasah ia langsung ke pesantren mengurus para santri baru yang mendaftar. karena pesantren itu di nobatkan milik keluarga Barra.


" mampir belikan sate dulu Fauzan untuk istriku". ucap Barra.


" siap ustadz." Fauzan menepikan mobilnya sesuai perintah Barra.


Fauzan yang memesankan sate sedangkan barra ada di dalam mobil. barra kaget ketika melihat anak kecil laki-laki itu ada di sana menunggu sate juga. Barra mengucek matanya benar-benar mirip sekali apa mungkin itu anak tadi cepat sekali ke sini padahal saat Barra meninggal kan tempat itu Ammar masih bersama Omanya.


" apa tak salah liat aku, tapi kenapa mirip sekali". ucap barra semakin pening saja. tak lama sate yang di pesan oleh anak tadi selesai lalu ia pergi. barra memijat pelipisnya ia mengingat wajah Ammar di pengajian tadi. sama sempurna sangat mirip.

__ADS_1


__


Alira belum tidur ia menyambut suaminya pulang Salim di kecupnya dahi alira seperti biasa tak lupa juga barra mengusap perut istrinya itu.


" aku pulang ya lir." kata Ratih karena tau jika barra sudah kembali.


" sendiri berani."


" beranilah cuma di sebelah".


" biar Fauzan antar kamu". Ratih kikuk ia tak ingin jalan bersama laki-laki lain takut baper.


" sendiri saja ustadz cuma Deket".


" tak apa ayo aku antar". kata Fauzan bersemangat.


" ini untuk kalian satu bungkus masing-masing". keduanya mengangguk.


" alira sudah di minta untuk mengurangi makanan mas kok si bawain oleh-oleh terus tiap hari ".


" makannya ngga usah pakai nasi cukup ini saja di makan, temani mas. mas tak akan enak makan kalau cuma sendiri ". ucap Barra.


" lelah mas." barra mengangguk.


" mau mandi ngga biar alira siap kan airnya ".


" nanti saja mas siapakan sendiri kamu istirahat." alira cemberut pasti tak di perbolehkan lagi oleh Barra.


" jangan cemberut sayang, mas bukan tak mau kamu layani tapi mas ingin kamu istirahat saja. layani nya nanti di ranjang kalau itu mas ngga bisa sendiri ". alira lalu tertawa.


" ya sudah cepetan mandi bau asem."


" sabar kenapa sudah ngga tahan ya."


" ih mas." alira merona.


" ngga tahan bau keringat maksudnya ra tuh pikirannya udah kemana-mana ". alira kembali lagi tertawa barra lalu masuk ke kamar mandi.


__.

__ADS_1


bersambung


adakah yang masih ingat Ammar pembaca di sini.


__ADS_2