
Alira mulai merasakan mual pada perutnya, ia ingin muntah namun sekuat diri ingin menahannya. Tak ingin membuat suaminya Barra khawatir, Barra sudah banyak berbuat untuk alira. Mencuci, masak dan bersih-bersih rumah barra lakukan sendir ia tak membiarkan alira melakukan nya. barra takut terjadi sesuatu oleh alira karena masih hamil muda mengingat umur alira juga yang masih muda.
Barra selesai memasak ia lalu akan mandi karena akan ke sekolah juga, alira untuk sementara di rumah dulu ia udah izin satu minggu ini dan pelajaran di kampus ia minta dosen memberikan materinya lewat online. Barra bersiap berangkat, alira menyiapkan sarapannya.
" sayang, nanti kalau ada apa-apa langsung telepon mas ya". ucap barra mulai duduk.
" iya mas insyaallah alira tak apa-apa".
" jangan gitu kemarin aja kamu pingsan mas khawatir". barra menggenggam tangan alira erat.
" iya mas nanti alira langsung telepon mas Barra". barra sedikit tenang.
" ya sudah mas berangkat jaga diri pintu kuncinya jika dari dalam ya, jangan buka pintu jika orang asing atau bukan muhrim ".pesan barra saat akan pergi. lalu alira Salim tak lupa kecupan manis mendarat di kening alira.
' ya Allah mas bagaimana aku tak bahagia memilikimu, kamu selalu lembut memperlakukan aku sebagaimana aku seorang ratu dalam hidupmu. Benar kata mba aisyah jika akulah yang membutuhkan mu. Semoga mba Aisyah dan dokter Fadil selalu bahagia menjadi suami istri, mba Aisyah membutuhkan dokter Fadil untuk merawat dan menjaganya.' monolog alira dalam hati.
alira menatap barra hingga tak terlihat motornya.
Brak...
suara pintu tertahan ketika alira masuk akan menutup pintu, alira kaget luar biasa ia menahan pintu agar tak terbuka. ada Aldo yang memaksa untuk masuk.
" astaghfirullah... kamu mau apa Aldo Suamiku tidak ada di rumah."
" memang itu keinginan ku tanpa suamimu di rumah, rupanya kamu sudah bahagia bersama ustadz Barra mu yang tampan itu hemm..." pintu itupun terbuka karena tenaga alira pun tak kuat menahan nya, Aldo laki-laki ia lebih kuat dari alira.
" apalagi yang kamu inginkan aldo, kamu sudah menghancurkan masa depan ku" ucap alira mundur karena Aldo semakin mendekat.
" kamu masih tanya apa yang aku inginkan, aku menginginkanmu alira sayang ". Aldo mencengkeram wajah alira membuat alira kesakitan.
__ADS_1
" aku sudah bersuami Aldo, ku mohon pergilah carilah wanita yang lebih pantas untuk mu"
" yang ku mau kamu alira, sudah lama momen ini ingin aku lakukan ". Aldo bagaikan psikopat ia justru menarik Alira untuk masuk ke kamar alira.
Pakkkk...
tamparan keras langsung mendarat ke pipi Aldo. alira reflek saja karena Aldo makin mendekat kan wajahnya.
" berani kamu ya alira, kamu melawanku tandanya kamu siap menerima perlakuan dari ku lebih kasar dari ini". alira mulai merasakan sakit perutnya ia memegang rasanya nyeri.
Aldo menarik jilbab alira begitu keras hingga terlepas, alira kesakitan karena rambutnya ikut tertarik. alira berteriak namun tak akan ada yang mendengar di komplek Alira sebagaian besar mereka bekerja.
" ku mohon Aldo lepaskan aku" derai tangis mengalir di pipi Alira ia tak tau lagi harus bagaimana, perutnya semakin nyeri saja.
" lepas kamu bilang sudah lama aku menginginkan mu kamu bilang lepas, setelah kejadian itu yang meloloskan mu karena ustadz barra aku berjanji akan mengulangi lagi. tubuh mu masih ku inginkan alira sayang". alira menggeram ia seperti tak kuat lagi untuk bergerak perutnya sangat sakit terasa. bahkan untuk teriak saja alira tak kuat ia semakin lemah saja Aldo terus mendekat.
__
" mas makasih ya sudah bantu Ais".
" sudah menjadi kewajiban ku Aisyah aku suamimu apa kamu lupa". ucap Fadil, Aisyah pun terkekeh.
" aku memang sakit mas tapi Ais masih ingat apa yang terjadi bahkan ketika koma kemarin ais ingat ucapan mas Fadil".
" apa yang kamu ingat".
" banyak mas bahkan tangismu masih aku ingat saat aku dalam keadaan terlemah ". Fadil mengecup kepala Aisyah.
" aku tak ingin kehilangan mu Aisyah meski waktu itu kamu bukanlah siapa-siapa ku".
__ADS_1
" kenapa, semua orang pergi mas. meninggalkan atau di tinggalkan ". kata Aisyah.
" karena aku mencintaimu, meski aku tak bisa hidup bersama mu setidaknya aku ingin melihat mu bahagia". Aisyah berbalik menghadap Fadil.
" mas maaf kan Aisyah, suatu saat cepat atau lambat Ais akan pergi ".
" jangan melampaui Takdir Aisyah, kita tidak tau siapa yang akan pergi duluan. aku atau kamu manusia punya jatah umur masing-masing meski kamu sakit belum tentu kamu akan pergi dulu."
" tapi mas Ais". Fadil meletakkan tangannya di bibir Aisyah.
" jangan katakan lagi ya, berjuanglah untuk sembuh. apa kamu tak kasihan melihat ku Ais, aku menunggu kesembuhan mu. ku mohon kamu bisa semangat Aisyah".
" mas apa kamu tak akan lelah merawat ku terus hingga ujung waktu ku".
" lelah jika aku hanya mencintai fisikmu Ais, tapi cinta ku ini cinta karena Allah bukan karena apa-apa yang ada dalam dirimu. tapi aku ingin menjalankan pernikahan ini karena syariat ibadah bukan yang lainnya ". ucap Fadil ia mulai menatap Aisyah dengan intens. tatapan itu semakin dalam Bahkan Aisyah memejamkan mata kala Fadil mendekat kan wajahnya, Aisyah tak ingin mengecewakan Fadil ia berjanji akan melayani Fadil dengan baik.
merasa jika Aisyah juga menginginkan nya dengan mengucap bismillah kiss first itu pun mendarat lembut di bibir Aisyah, mereka saling berpagut satu sama lain Aisyah pun membalasnya. Fadil merasa senang karena pertanda Aisyah benar-benar sudah menerima nya. Ciuman itu terlepas kala nafas mereka pun sudah hampir habis, juga Fadil khawatir jika ia menginginkan hal yang lebih karena Aisyah belum bisa melakukan nya mengingat keadaan nya yang masih lemah.
" terima kasih." bisik Fadli di telinga Aisyah. Aisyah merona wajahnya ia malu, tak berani melihat Fadil.
" sarapan minum obat lalu istirahat, siang nanti kita akan lakukan biopsi sayang."
" Aisyah takut mas".
" jangan takut aku akan menemani mu terus sayang, bismillah pasrahkan semuanya kepada Allah dan ikhlas." Aisyah mengangguk lalu ia menurut apapun yang Fadil katakan. Fadil mengusap kepala Aisyah hingga orang tuanya datang untuk mengganti kannnya karena Fadil harus visit ia bekerja hari ini.
__
bersambung
__ADS_1