
Sampai lagi di kontrakan alira kelelahan di ajak belanja oleh Barra, Barra juga meminta agar alira memilih barang-barang yang akan ia beli untuk kebutuhan rumahnya sesuai kesukaan Alira.
alira melemparkan tubuhnya di ranjang setelah semuanya ia bawa masuk. Barra masih menyimpan semua nya pada tempatnya ia tata rapih sayuran kebutuhan pokok dapur di kulkas sedangkan alira sudah kecapean. Barra masuk setelah selesai ia melihat alira yang sudah mendengkur tidur. Barra membenarkan posisi tidur alira, ia lepaskan jilbab yang tadi di pakai oleh alira juga kaos kaki.
Barra memerintahkan alira agar ia memakai sesuai yang Barra inginkan dalam penampilan, syukurlah alira menurut. Di selipkan nya anak rambut yang menutupi mata alira, barra tersenyum melihat istrinya tidur dengan pulas ia kecup keningnya kemudian barra berganti pakaian ia juga ikut tidur siang. Lelah menderanya keadaan di luar juga cukup panas, tak ada AC hanya kipas angin yang siap berputar ke kanan dan ke kiri untuk menyejukkan tubuh keduanya.
Alira menggeliat ia bangun setelah mendengar suara adzan ashar, di lihatnya Barra yang masih ada di sampingnya. Alira memiringkan tubuhnya menghadap Barra, di usapnya wajah barra yang telah di tumbuhi bulu-bulu halus. alira tertawa kecil, ternyata menikah bukanlah hal yang mengerikan seperti apa yang ia bayangkan.
" Kenapa Ra, apa aku terlalu tampan". suara barra memekikkan telinga membuat alira terkejut lalu ia menarik tangan nya namun dengan cepat Barra menarik tangan alira.
" Ustadz sudah bangun". ucap alira sontak panggilan nya kembali lagi menyebut nama ustadz.
" mas Ra,,, sudah bangun sejak kamu membelai wajahku sejak tadi". alira tersipu malu rasanya ia ingin tenggelam saja ketahuan ia mulai mengagumi sosok suaminya.
" maaf mas, alira cuma..."
" tak apa sudah halal kok, mau raba yang lain juga boleh itu pahalanya gede Lo". Barra mengedikkan sebelah matanya lalu ia mencium tangan alira
" terima kasih Ra kamu sudah mulai mau menerima ku, teruslah berusaha untuk mencintai ku agar cinta kita sama. Sama-sama berbahagia mengarungi rumah tangga kita ini." ucap Barra.
" insyaallah mas, jangan bosan untuk terus ajari alira ".
" itu pasti karena itu sudah menjadi kewajiban ku, ya sudah mas ke masjid dulu sebelum Iqamah berkumandang ". alira lalu menarik tangannya yang di pegang barra, ia menyingkir agar Barra bisa lewat. Barra tersenyum sebelum turun dari ranjang ia mengusap kepala alira, sungguh terasa indah meskipun hanya usapan kepala.
Setelah shalat ashar alira bingung saat di dapur, ia mencoba mengingat yang pernah emak ajarkan padanya. Alira memasak nasi terlebih dahulu, lalu di ambilnya dua ikat bayam dan tempe untuk ia goreng. Meski sembari mengingat namun alira bisa melakukan semuanya, sempurna sup bayam dan tempe goreng untuk makan malam mereka. Alira tersenyum ia senang bisa memasak untuk Barra. Barra memang tak langsung pulang ia sebentar ngobrol dengan ustadz Danu imam masjid di daerah tersebut.
__ADS_1
Alira tersenyum melihat Barra pulang, kini ia sudah mandi menyambut Barra. Barra pun tersenyum melihat alira dengan wajahnya yang berseri.
" MasyaAlloh indahnya pulang di sambut istri, sudah wangi lagi". ucap barra alira pun tersenyum menyambut tangan suaminya untuk Salim.
" Sudah shalat juga." alira mengangguk.
" mau makan apa malam ini Ra." Barra masuk ke dapur ia pun kaget aroma yang telah memasak menyeruak, bau khas tempe yang di goreng menggoda hidung Barra. di bukanya tudung saji ia kaget, makanan sudah alira sajikan.
" kamu udah masak Ra."
" iya ustadz."
" satu ucapan ustadz satu ciuman ya Ra, geram aku kamu masih saja panggil aku dengan sebutan ustadz. apa susah untuk panggil aku mas hmmm...".
" Maaf ustadz lidahku masih Kelu belum terbiasa". satu kecupan mendarat di pipi Alira. alira pun kaget ia mendelik.
" ya sudah aku mandi dulu kita jalan-jalan sebentar ya keliling kampung ini, biar hafal jalannya". Barra lalu mandi, alira menyiapkan pakaian Barra. Karena sebagian besar baju Barra adalah kemeja dan Koko mudah sekali bagi alira untuk menyiapkan. Sewaktu di rumah Abah ia memperhatikan suaminya pakaian apa yang di pakai saat sore ataupun pagi hari.
" Makasih ya." Barra senang melihat pakaian nya sudah alira siapkan.
" ganti baju Ra jangan pakai baju itu".
" Kenapa mas ini kan sudah tertutup, alira juga pakai jilbab."
" iya mas tau ini sudah tertutup, tapi mas tak mau Lingkuk tubuhmu di lihat orang. standar muslimah itu memakai pakaian longgar yang tidak ketat juga tidak tipis. Mas saja bergairah kamu memakai pakaian tidur begini meskipun panjang apalagi orang lain". alira lalu masuk ke kamar di gantinya bajunya.
__ADS_1
" Ganti jilbab nya jangan pakai itu yang menutupi dada tidak tipis, jilbabmu yang beginian jangan di pakai lagi " barra lalu melepaskan jilbab alira, pashmina yang tipis dan hanya di lilitkan di leher saja. alira mengerucut bibir nya tampak ia tak suka di atur, untuknya pashmina yang di pakainya sudah cukup bagus senada dengan gamisnya.
" Mas bertanggung atas hidupmu di dunia juga di akhirat kelak Ra, ini tanggung jawab mas selebih kamu istriku. Mas tak mau di surga sendirian tanpa kamu sayang". alira tersipu malu saat Barra memanggilnya dengan sebutan sayang. Barra memakaikan jilbab dalamnya lalu ia kenakan jilbab segi empat yang lebar. Barra pandai sekali memakaikannya untuk alira.
" MasyaAlloh istriku cantik sekali, bidadari saja lewat." ucap barra. alira terkekeh suaminya bisa saja membuat alira tersenyum dengan berbagai cara.
Barra lalu menggandeng tangan alira di ajaknya keluar rumah, berjalan menyapa tetangga barunya. Hanya sekitar kompleknya saja, Barra menangkap bola saat ada anak-anak sedang bermain bola.
" Mereka bahagia tanpa beban." ucap alira.
" apa kamu tak bahagia menjadi istri ku Ra, katakan semuanya supaya aku bisa membahagiakan mu. tugas suami selain memberi nafkah lahir dan batin juga wajib membuat istri bahagia Ra". alira tersenyum ada harapan yang teramat dari mata Barra.
" alira bahagia ustadz." langsung saja Barra mau nyosor untung ia ingat jika masih di jalan. alira tertawa ia merasa menang.
" tunggu ya di rumah, kamu punya hutang padaku". Barra lalu menggenggam tangan alira mereka akhirnya sampai kembali ke rumah.
alira meringis kakinya terasa sakit, barra lalu menarik kaki alira di pijitnya kaki itu. alira menarik ia merasa tak enak dengan Barra, alira merasa tak pantas di perlakukan layaknya ratu mengingat barra adalah ustadz.
" Biarkan aku memijitnya Ra, biarkan aku merengkuh pahala di sini sebelum pahala yang lain aku dapatkan dari pernikahan ini". Barra menarik kembali kaki alira, adegan ringan tapi manis di lakukan untuk pasangan.
" enak Ra." alira mengangguk.
" Nanti malam gantian ya, tapi bukan pijit kaki pijit yang lain." alira mengerutkan keningnya barra tertawa.
___
__ADS_1
bersambung...