
Aldo benar-benar tak punya hati nurani sama sekali, alira tak kuat lagi untuk melawan Aldo tubuhnya lemah ia mencengkeram perutnya di mana terasa keluar cairan dari dalam celana nya. Aldo tertawa ia mendekatkan dirinya kepada Alira. alira hanya bisa berdzikir memohon pertolongan Allah.
" Mel ini pintunya terbuka tapi alira tak ada". ucap Nita, Amel masih menyandarkan motor nya.
" lir, alira di mana kamu". panggil Nita kemudian. namun alira pelan memanggil hingga tak terdengar suara itu hingga ke kamar.
" ayo masuk saja mungkin di dalam aku tadi melihat ustadz Barra ke madrasah". ucap Amel yang memang berpapasan dengan barra di jalan waktu akan ke sini.
" tolong..." suara alira lemah meminta tolong.
" kamu dengar suaranya". ucap Nita.
" astaghfirullah alira". keduanya langsung berlari masuk.
" tak akan ada yang mendengar mu alira sayang, diamlah pasrah kan saja tubuhmu untuk ku Alira sayang kita nikmati bersama ". Aldo semakin mendekat bahkan lebih dekat, alira memejamkan matanya dirinya berusaha menutupi seluruh tubuhnya.
bugh...
Pukulan mendarat di punggung Aldo cukup keras, Amel geram ia membawa alat penggorengan yang terbuat dari besi itu.
" agrh..." teriak Aldo.
" bajingan kamu Aldo, masih beraninya kamu mencari Alira kemari belum puas kamu membuat hidup alira kehilangan masa depannya. masa remajanya hilang gara-gara kamu". ucap Amel geram ia ingin kembali memukul Aldo.
" Mel..." ucap Alira .
" keluar kamu dari sini atau belati ini akan aku hempaskan ke perutmu ". Nita bingung akhirnya ia membawa pisau dapur berusaha berani agar tak terlihat jika sebenarnya ia gemetar.
" sialan kalian..."
" apa, walau alira sendirian ada Allah yang menjaganya ada malaikat yang selalu mengiringi nya dan ada kami yang akan terus menjadi bayangan nya". ucap Amel tegas ia rasanya ingin memukul Aldo lagi.
" ayo keluar atau ..." Nita mengajukan pisau agar Aldo jera.
" cepat keluar saya panggilkan polisi agar kamu di tangkap".
alira kemudian pingsan tak sadarkan diri, darah mengalir di kakinya. melihat itu Aldo langsung berlari keluar rumah.
" lir kamu kenapa kuat alira".
" lihat Mel kakinya mengalir darah".
__ADS_1
" darah, astaghfirullah apa alira hamil".
" ya Allah ayo kita cepat telepon ustadz barra beritahu dia."
Amel mencari keberadaan handphone alira ya ketemu, langsung saja Amel membuka kontak dengan nomor Barra. barra yang baru saja akan masuk ke dalam kelas merogoh kantong nya.
" assalamu'alaikum sayang". Amel mendelik di panggil sayang sama ustadz barra.
" cepet Mel malah bengong".
" wa'alaikumsalam ustadz ini saya Amel, alira pingsan ustadz".
" astaghfirullah kenapa dia, ya saya langsung pulang". kemudian barra meminta teman gurunya untuk menggantikan nya. barra langsung berlari beranjak pulang, karena rumah dan madrasah jaraknya tak jauh barra pun langsung cepat sampai melajukan motornya.
Barra kaget mendapati ruang tamu yang berantakan, alira yang tak sadarkan diri dan melihat ada alat penggorengan serta pisau di kamar itu.
" ada apa ini ya Allah Ra". ustadz barra langsung memeluk alira.
" nanti saya ceritakan ustadz sekarang kita bawa Alira ke rumah sakit dulu". ucap Nita cepat ia ingin alira segera di tangani.
Dengan cepat barra membawanya ke mobil, lalu Nita masuk menemani alira di dalam. sedangkan Amel ia menutup seluruh pintu rumah dan membawa motor nya mengikuti Barra ke rumah sakit.
" Bertahanlah sayang". ucap ustadz barra dengan mimik yang bergetar. melihat darah mengalir di kaki alira barra seakan lemas.
" barra ada apa". tanya Fadil ingin tau.
" alira mengeluarkan darah". ucap Barra santai.
" innalilahi, jaga dengan baik istri mu Barra. " barra hanya terdiam, Fadil langsung pergi karena di panggil suster ada pasien yang urgent.
" ceritakan padaku sebenarnya ada apa".
" Aldo datang ustadz ". kata Amel.
" Aldo, astaghfirullah berani benar anak itu sudah di kuasai oleh syetan ".
" Kami datang di waktu yang tepat ustadz tapi alira sudah tak bisa menahan sakitnya, darah mengalir begitu saja di kaki alira".
" apa yang Aldo lakukan pada alira." Amel dan Nita diam mereka takut untuk bicara.
" itu ustadz, Aldo ingin melecehkan alira. tapi Allah masih melindungi alira kami datang di waktu yang tepat, belum sempat Aldo melakukan nya ustadz ".
__ADS_1
" ya Allah, maafkan mas alira aku tak bisa menjagamu dengan baik".
tak lama ruang UGD terbuka dokter Almira keluar ruangan.
" bagaimana dengan istri saya dokter".
" nona Almira mengalami benturan yang cukup kuat hingga ia mengalami pendarahan, janinnya masih bisa di selamatkan hanya saja..." dokter Almira memotong ucapan nya.
" apa dokter katakan saja".
" nona alira mengalami syok hebat, jiwanya terguncang ia trauma". ucap dokter Almira.
" ya Allah alira, maafkan mas". kata barra meski dia seorang ustadz yang selalu memberi ceramah kepada orang banyak namun ada titik terendah juga dalam jiwanya. Meski sabarnya seluas samudera namun akan luluh jika di hadapkan dengan orang yang di cintai.
" lalu bagaimana dok ".
" hanya kesabaran yang bisa Ustadz lakukan, temani dia setiap waktu jangan sampai sendirian perlahan akan bisa hilang rasa trauma nya. mungkin memang kejadian nya membuat fatal dirinya yang semakin takut." barra lemas tak di sangkanya istrinya akan mengalami hal itu.
" boleh saya masuk dok".
" silahkan namun pasien masih istirahat saya memberikan obat tidur dosis sangat rendah agar pasien istirahat dulu". barra mengangguk ia lalu masuk.
Perih terasa kala melihat alira terbaring dengan pakaian yang sudah berganti dengan pakaian rumah sakit. Wajahnya yang teduh selalu ceria kini harus pucat, barra sedih mengingat alira menghadapi Aldo yang bajingan itu.
" maaf kan mas Ra". ucapan itu lagi yang keluar dari bibir Barra. ia mengusap kepala alira berkali-kali lalu mengecupnya.
Amel dan Nita berada di luar, Fadil melihatnya ia jadi penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan istri sahabatnya.
" boleh aku tau sebenarnya apa yang terjadi, ". Amel dan Nita hanya saling pandang.
" aku dokter Fadil sekaligus teman baik Barra, siapa tau aku bisa membantu dia sahabat terbaikku". lalu Amel menceritakan kronologi kejadian nya dan tak sengaja kejadian pernikahan yang terjadi antara Alira dan Barra pun terungkap. kini Fadil tau jika pernikahan barra dengan alira bukanlah atas ingin menyakiti Aisyah namun murni Allah yang mempersatukan mereka.
" Aldo Mandala". ucap Fadil. Amel dan Nita kembali saling pandang.
" dokter mengenalnya". ucap Nita terkejut juga.
" iya benar dia Aldo Mahesa anak dari pemilik perusahaan Mahesa".
" aku yang akan menyelesaikan Aldo, lebih baik kalian sekarang pulang takut nanti orang tua kalian mencari, sudah ada barra suaminya yang menemani nanti akan aku katakan pada Barra. kembalilah esok lagian alira juga tak bisa ditemui sekarang ia harus istirahat". kata Fadil lalu Amel dan Nita pamit.
__
__ADS_1
bersambung