Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 68


__ADS_3

Alira bangun pagi ia langsung saja membuka jendela, matahari sudah nampak bersinar mereka tidur lagi tadi selepas subuh karena tak kuat matanya untuk terjaga. Di lihat nya sudah jam tujuh pagi, barra mengernyit saat matahari masuk ke kamar sinarnya hingga menyilaukan matanya.


" jam berapa sayang". tanya Barra masih dengan celana boxer nya tanpa baju.


" sudah siang mas ". barra menarik Alira dalam pelukannya.


" males banget mas bangun rasanya lelah."


" ya udah tidur lagi saja mumpung libur." ucap Alira mengusap dada suaminya.


" temani mas ya."


" alira lapar mas". barra merasakan jika bayinya menendang-nendang di perut alira.


" anak Abi protes nampaknya ". alira terkekeh.


Barra lalu ikut bangun mereka mandi terlebih dahulu sebelum turun, dengan adanya yang membantu pekerjaan rumah membuat alira jadi lebih fokus melayani suaminya bahkan ia juga fokus pada butiknya. namun sesekali juga alira masak untuk suaminya tercinta.


" mas, alira kangen sama emak dan Abah".


" iya mas juga berniat untuk ke sana kita terlalu sibuk hingga belum jenguk keduanya". baru saja mereka mengatakan nya tak lama ada suara deru motor. ya kini Abah tak naik sepeda lagi barra membelikan nya motor bebek.


" panjang umur itu sepertinya suara motor Abah." alira tersenyum senang.


" assalamu'alaikum". ucap emak dari luar.


" wa'alaikumsalam". alira dan Barra setelah sarapan langsung ke arah pintu.


" emak Abah." alira langsung memeluk dan Salim.


motor penuh dengan bawaan ada pisang, singkong, sayuran semua Abah bawa. tak lupa juga ayam dari kampung emak bawa satu pasang.


" ya Allah Abah banyak sekali bawaannya". ucap barra membantu Abah memasukkan bawaan nya.


" emak mu katanya buat menantunya yang ganteng tujuh turunan". ucap Abah, alira dan Barra tertawa begitulah emak selalu memuji Barra.


" emak ngga perlu repot-repot begini jadi susah kan emak naik motornya." barra membayang kan bagaimana emak naik.


" kalau dari kampung ya gini oleh-oleh nya nak."


" emak dan Abah sehat saja barra udah seneng Mak".


" emak juga kan pengen bawain buat kalian, lagian ini untuk calon cucu emak." kata emak ia juga mengeluarkan bungkusan yang berisi onde-onde dan klepon.


" apalagi Mak." ucap Alira.


" makanan kesukaan kalian."

__ADS_1


" masyaallah emak, tadi alira dan mas Barra berniat mau ke desa eh panjang umur emak dan Abah malah duluan ke sini." emak langsung mengusap perut alira.


" sudah nampak besar ya."


" Alhamdulillah Mak enam bulan"


" ngga sabar abah mau lihat dia keluar mirip siapa ya."


" mirip Abi nya lah masa mirip Abah, Abah kan udah aki-aki peyot". ucap emak melirik Abah.


" gini-gini Abah dulu juga ganteng, mana mau emak kalau Abah tak ganteng."


alira dan barra tertawa mendengar celotehan keduanya.


" Ayuk Mak Abah ke dalam, sudah sarapan belum Mak".


" Alhamdulillah sudah tadi sebelum ke sini".


" emak dari kemarin rewel mau ke sini kangen katanya ".


" maaf ya Mak Abah kami sibuk alira juga buka toko baju muslim dan barra padat jadwalnya maaf ya Mak Abah." ucap Barra kemudian.


" makanya emak yang ke sini, jaga kesehatan ya lir emak tak mau kamu dan calon anak emak kenapa-napa ".


" iya Mak insyaallah mas barra juga jaga alira dengan baik kok Mak".


" mau ya Mak Abah bentar kita ke butik nya."


" nanti emak pingin lagi lir."


" isshh emak nanti alira ambilin mana gamis yang emak mau." Abah mencebik.


" modus ". ucap Abah


barra dan alira tertawa kedua orang tuanya itu selalu bikin mereka tertawa.


" ya sudah alira sama mas barra siap-siap dulu ya Mak." lalu barra dan alira naik ke atas berganti pakaian lebih layak karena mau keluar rumah.


" emak jangan malu-maluin begitu, Abah masih sanggup buat belikan baju emak ".


" Sudah lama emak tak beli baju baru Abah."


" ya nanti Abah belikan."


" kapan bah".


" ya kalau panen."

__ADS_1


" panen apa bah, padi juga belum di tanam." Abah nyengir.


" ya pokoknya nanti kalau Abah panen".


" janji ya " Abah mengangguk.


" Alhamdulillah dobel dapet dari alira nanti dapet dari Abah kalau Abah panen "


" astaghfirullah emak jangan minta sama alira lah Mak nanti aja kalau Abah panen, Abah malu sama barra menantu kita. tak baik juga punya baju banyak Mak nanti akan di hisab lo."


" ya Abah emak tau kalau mereka mau belikan emak masak emak tolak si bah, pamali." emak terkekeh. Abah hanya geleng-geleng kepala.


" ternyata semua wanita sama maunya ya".


" emang Abah punya wanita lain." ucap emak melirik ke arah Abah.


" ngga Lo Mak cuma emak istri Abah seorang, cuma emak wanita yang Abah kagumi, Abah cintai seumur hidup Abah tak ada yang lain". emak tersenyum tersipu malu hingga hidung nya kembang kempis mendengar gombalan Abah.


" terus kok Abah tadi bilangnya gitu." suara emak mulai lembek.


" sering dengar aja jika wanita itu selalu benar tak pernah salah, wanita itu paling senang belanja tak cukup satu baju di lemari. meskipun lemari sudah penuh masih bilang tak punya baju." ucap Abah.


" namanya wanita Abah ia senang di puji di perhatikan apalagi suami sendiri, di belikan pakaian baru untuk mood booster Abah biar tak stres itu waek baju yang emak pakai. emang Abah ngga seneng kalau istrinya cantik".


" ya seneng emak itu memang cantik sedunia kayak ustadzah Oki Setiana Dewi ". ucap Abah lagi memuji emak. udah ngga tau bentuk hidung emak kayak apa kembang kempis ngga karuan, ada kupu-kupu lebai yang berterbangan dari hati emak.


" makasih Abah, sok Abah emang suami yang paling baik sedunia kayak Teuku Wisnu". Abah cemberut.


" kok Teuku Wisnu sih".


" emak nge-fans nya sama Teuku Wisnu bah cakep ".


" masih melek aja ama yang cakep, kalau emak ustadzah Oki dan Abah Teuku Wisnu berarti artinya kita bukan pasangan harusnya kayak ori Vitrio aja cakep juga kan suami berwibawa."


" terserah Abah lah". alira dan Barra di tangga berhenti sejak tadi mendengar Abah dan emak beradu mulut mereka menahan tawa. barra mengeratkan genggaman tangannya pada alira dan mengangkat nya lalu mengecup tangannya.


" pasangan serasi emak dan Abah itu". bisik barra alira terkekeh lalu mereka turun.


" bah Mak ayo berangkat ". Abah jalan duluan memegang motor nya.


" bah naik mobil mas Barra motor nya biar di situ aja."


" ih Abah jangan norak sih". ucap emak, Abah nyengir. barra dan alira kembali tertawa itulah yang di rindukan dari orang tuanya selalu bahagia pasangan sederhana namun penuh tawa.


__


bersambung

__ADS_1


__ADS_2