
" ya sudah alira menikah saja ya Mak". emak dan Abah justru tertawa. Alira sudah menebak itu jika emak dan Abah akan menganggap alira hanya bercanda.
" Abah izinkan jika lelakinya sudah siap betul, tapi siapa yang mau menikahimu alira. Buang ingus saja kamu baru bersih, temanmu sudah pandai berdandan menjadi gadis sedangkan kamu pakai baju saja asal pakai". kata Abah.
Alira hanya nyengir tak ingin bercerita soal menikah lagi, mereka sarapan dengan hidangan yang sudah emak hidangkan. Sayur daun singkong, ada ikan asin lauknya. alira makan dengan lahap, karena hari ini ia tak sekolah ia akan ikut Abah ke sawah membantu Abah. alira hanya tinggal menunggu ijazah saja, alira lebih senang membantu abahnya di sawah dari pada membantu emaknya. Abah akan menanam kangkung untuk di jual ke pasar.
-
Ustadz Ilyas dan istrinya datang ke rumah ustadz Barra siang setelah shalat Zuhur, ustadz Yusuf kaget melihat kakaknya datang tanpa memberitahu terlebih dahulu. salam pun terucap dan terbalas.
" Kejutan banget nih kak, kenapa tak memberi kabar jika mau ke sini".
Abi dan umi pun saling pandang, yang ia tau Barra sudah menceritakan niat baiknya kepada pamannya.
" Barra tak mengatakan nya kepadamu suf". ucap Abi Ilyas heran.
" mengatakan apa. tidak, sekarang ia sedang ada di madrasah ".
" Barra meminta kita datang ke sini untuk melamar kan wanita pilihannya ". ustadz Yusuf pun terkejut tak ada ucapan Barra sama sekali.
" Barra tidak cerita kak, siapa wanita yang akan ia khitbah. bukannya kemarin Barra pulang untuk membicarakan pernikahan nya dengan wanita yang sudah kakak khitbah kan".
" Tidak jadi suf, pihak wanita menggagalkan khitbahnya. Barra semalam menelepon jika ia akan melamar seorang wanita. Saya pun juga tak begitu percaya dengan apa yang barra katakan tadinya. Namun barra meyakinkan, aku kira kamu sudah barra beritahu ".
Tak berselang lama barra datang, ia meletakkan motornya di garasi. Barra langsung masuk setelah memberi salam, ia lega orang tua nya sudah datang.
" nak kamu tak mengatakan nya dengan pamanmu atas niat baikmu". tanya Abi Ilyas.
" maaf belum Abi, Barra malu". ustadz Yusuf terkekeh.
" malu sama paman, emang kamu anggap apa pamanmu ini Barra. Siapa wanita yang sudah mencuri hatimu, keponakan paman yang tampan rupawan ini. Kamu hebat baru saja khitbahmu gagal langsung dapet ganti nya saja." Ucap ustadz Yusuf menggoda keponakan nya. barra hanya bisa nyengir saja ia malu jika wanita itu anaknya emak Ijah yang suka memberinya makanan. Kejadian nya tak seperti apa yang mereka pikirkan, pernikahan terpaksa itulah yang pantas Barra katakan pada dirinya sendiri.
" alira paman." ustadz Yusuf pun terkejut lalu terkekeh.
__ADS_1
" siapapun itu paman yakin kamu sudah memikirkan nya dengan baik, alira gadis baik meski ia tak seperti Aisyah seperti yang kamu ceritakan. Tapi kamu nanti bisa membimbingnya". ucap ustadz Yusuf lagi, ia tau siapa alira dan keluarganya.
" maaf Abi umi, alira hanya gadis biasa bukan gadis Solehah juga bukan dari keluarga menengah ke atas. Tapi Barra akan membimbingnya dengan baik Abi, ijinkan Barra." barra menunduk tak berani menatap mata Abi dan uminya. Barra takut jika keduanya tak mengizinkan nya.
" Abi tak pernah menuntut dari keluarga mana dia nak, yang penting kalian punya tujuan yang sama. sama-sama berjalan menuju Rabb mu. Tak semua ustadz akan mendapatkan ustadzah, tapi di sini nanti pahalamu nak membimbing istrimu menjadi wanita saliha". ustadz Ilyas mengizinkan anaknya tak mungkin juga ia menolak jika itu sudah menjadi keputusan Barra.
" Terima kasih Abi".
" Kapan kita ke sana umi sudah tak sabar". justru uminya bersemangat.
" MasyaAlloh umi tak sabar punya cucu ya". umi tersenyum semua ikut tertawa.
" makan siang dulu kak baru kita ke sana antar Barra". ucap ustadz Yusuf.
" Apa ke sana kita dengan tangan kosong Barra, bibi ke warung dulu kamu tuh tak cerita sama paman atau bibi mu. jika cerita kan tadi bibi bisa bikinkan kue". kata bibinya berjalan ke belakang menyiapkan makan siang.
" maaf bi, Barra takut jika kalian tak setuju mengingat alira juga murid Barra".
" murid mu". Abi kembali terkejut, Barra garuk-garuk kepala ia meringis malu.
" ternyata anak kita ini suka yang lebih muda umi". semuanya tertawa.
Makan siang berlanjut sebelum mereka datang ke rumah alira, alira dan keluarganya pun tak ada persiapan. sama seperti Barra, alira tak berani mengatakan niat Barra.
Ustadz Ilyas dan istrinya, ustadz Yusuf dan istrinya serta Barra mereka naik dalam satu mobil milik ustadz Ilyas untuk datang ke rumah alira . Mobil berhenti di depan rumah alira, emak yang sedang menjemur singkong kaget melihat ada mobil berhenti di depan rumah nya. selama ini tidak ada yang pernah mendatangi nya membawa mobil.
" assalamu'alaikum". sapa Barra pertama kali turun.
" wa'alaikumsalam". jawab emak yang sudah mencuci tangan nya lalu menyambut Barra dan keluarga nya.
" Mak maaf datang tak bilang dulu sama emak". emak melihat ke arah kedua pasangan yang romantis itu, bingung ada apa sebenarnya.
" oh iya tidak apa-apa nak Barra silahkan masuk, ".
__ADS_1
" oh ya Mak mereka kedua orang tuaku, " emak memeprsilahkan masuk jujur emak malu karena rumah nya yang begitu sempit.
" maaf rumah kami sempit,"
" tak apa Mak, rumah sempit bukan takaran emak tak bahagia kan". ucap istri ustadz Yusuf, emak hanya nyengir saja serasa malu.
" Abah ada Mak". tanya Barra.
" Abah ke sawah sama alira sebentar lagi pulang, sebentar ya".
" Mak tak usah repot-repot Mak". ustadz Yusuf sedikit berteriak, karena ia tau emak bagaimana orangnya.
" Ngga repot ustadz Yusuf, hanya air saja kebetulan emak bikin onde-onde juga tadi".
" nah kalau ini Yusuf mau Mak". istrinya memukul lengan ustadz Yusuf membuat semuanya tertawa.
" silahkan pak Bu di nikmati, begini kue di desa tak ada apa-apa maaf ".
" ini sudah lebih dari cukup Mak". ucap uminya barra, ia langsung senang melihat tanggapan dari emak.
Setelah berbincang kosong beberapa menit tanpa emak tak berani bertanya sebenarnya ada apa kedatangan keluarga Barra. Abah dan alira datang dengan membawa sepeda, Abah pun terkejut melihat mobil terparkir di depan rumahnya.
Umi melihat alira turun dari sepeda di bonceng abahnya langsung tersenyum, memang gadis sederhana. Abah dan alira masuk lewat pintu belakang karena mereka masih kotor tak enak dengan tamu. Abah dan alira mandi dulu bebersih sebelum menemui para tamu.
" lir itu siapa ya tamu emak, gaya tamu emak bawa mobil". Abah terkekeh.
" mungkin mantan emak Abah". Abah langsung mendelik, alira terkekeh.
" mantan dari mana , cuma Abah yang emakmu cinta. ya sudah Abah temui dulu ya, nanti Abah bejek-bejek jika mantan emak". alira tertawa melihat reaksi Abah.
Alira kemudian membersihkan dirinya, ia memakai baju setelan celana dengan berbahan crincle dengan jilbab kaosnya. Tak ada niat juga keluar untuk menemui tamu, alira rebahan saja di belakang tempat yang sejuk di bawah pohon rambutan ada kursi panjang yang Abah buat dari bambu yang di susun.
__
__ADS_1
bersambung