Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 21


__ADS_3

Alira kemudian membersihkan dirinya, ia memakai baju setelan celana dengan berbahan crincle dengan jilbab kaosnya. Tak ada niat juga keluar untuk menemui tamu, alira rebahan saja di belakang tempat yang sejuk di bawah pohon rambutan ada kursi panjang yang Abah buat dari bambu yang di susun.


_


Abah berjalan menemui tamu, cukup kaget ada ustadz Yusuf juga Barra. seperti keluarga besarnya yang datang, dalam hati pun bertanya-tanya ada apakah gerangan.


" maaf saya baru pulang dari sawah." ucap Abah menyalami tamunya.


" mana alira bah". tanya emak.


" Di belakang lagi ngadem".


" Nanem apa di sawah Abah". tanya ustadz Yusuf basa basi dulu.


" kangkung ustadz Yusuf buat di jual ke pasar".


" Seneng ya bisa nanem sendiri, ". ucap umi memecah suasana.


" memang kerjaan saya ustadzah".


" Jangan panggil ustadzah kita kan mau jadi besan".


" besan..." Abah dan emak saling pandang.


" maaf Abah emak, Barra datang ke sini punya maksud khusus. Barra bawa langsung orang tua Barra supaya Abah dan emak tak menganggap jika Barra tak serius. Bismillah Abah emak Barra datang ke sini untuk melamar alira".


" melamar..." ucap emak mangap menutup mulutnya.


" nak apa yang kamu katakan, kamu tak salah alira pasti kriteria kamu." kata Abah kemudian ia tak yakin sungguh, itulah yang barra katakan pasti Abah tak akan percaya.


" Barra sudah pikirkan Abah, Barra mantap untuk melamar alira."


" apa alira tau sebelumnya nak".


" barra sudah mengatakan sebelumnya dengan alira Abah". jelas Barra.


" Mak, alira pernah ngomong ke emak ngga".

__ADS_1


" ngga bah, sama sekali tidak bilang". emak bingung, dalam hati senang tapi tak percaya juga Barra melamar alira.


" Saya Abi nya Barra dan ini uminya Barra, kami khusus datang ke sini untuk melamar nak alira". Abah baru percaya jika barra serius dengan ucapannya.


" jujur kami seperti tak percaya dengan semua ini, maaf kami hanya orang biasa dan alira ..."


" Bah kami ke sini dengan niat baik, jangan bilang orang biasa atau alira seorang gadis biasa. kami juga orang biasa Abah, apakah niat baik ini akan Abah tolak, sepertinya tak akan etis saja. Kakak saya datang jauh-jauh demi melancarkan niat ini".


" Terima kasih sekali sudah berkunjung ke gubuk kami pak Bu, maaf semua terserah dengan keputusan Alira kami tak berhak karena alira yang akan menjalani nya. Mak panggil alira ". emak lalu ke belakang melihat Alira yang masih rebahan menghitung daun rambutan.


Alira keluar bersama emak, alira tak tau juga jika tamu di depan itu barra dan keluarga nya. Emak tak bilang, hanya bilang ada yang mencari.


deg


Alira kaget melihat Barra, ustadz Yusuf dan istrinya serta kedua orang paruh baya yang alira belum tau itu siapa. alira kemudian Salim, netranya bertemu sebentar dengan Barra. cepat-cepat ia menunduk rasanya jantung nya seperti akan anjlok ternyata barra serius dengan ucapan nya.


" Nak kami orang tua dari Barra saya abinya dan ini uminya Barra. Kedatangan kami punya maksud baik mau melamar nak alira ". Alira langsung menoleh ke arah Barra.


" Sesuai dengan yang saya katakan kemarin alira, saya serius membawa kedua orang tua saya datang ke sini". ucap Barra kemudian ia tau jika alira bingung dan panik.


" Nak jawab lah sesuai hati nurani mu, Abah tak bisa memberi keputusan sendiri. Abah akan ikut dengan keputusan mu alira." ucap Abah melihat alira.


" nak Abah takut kamu tak setuju".


" apapun keputusan Abah alira akan setuju". ucap alira menunduk, ia takut mengecewakan abahnya. alira baru saja selesai ujian bahkan ijazah nya belum di bagikan meski sudah pasti ia akan lulus.


" meski Abah menerima nak barra " jelas Abah kepada alira, agar Abah tak salah dengan ucapan Abah.


" iya Abah apapun yang Abah katakan alira akan mengikuti".


Abah menatap emak, ia takut mengambil keputusan. Barra di ujung sana masih harap-harap cemas, ia berdzikir supaya Abah bisa menerima nya.


" Bagaimana ini Mak".


" kalau emak mah setuju Abah, kita akan dapat menantu nak ustadz. apa pantas kita menolak bah."..


" jadi kita terima saja Mak". emak mengangguk.

__ADS_1


" Karena alira sudah menetapkan keputusan nya sesuai dengan keputusan kami, jadi dengan mengucap bismillah kami menerima lamaran dari nak barra ".


" Alhamdulillah, ". ucap semua, barra merasa lega satu masalah sudah teratasi.


" Bagaimana alira kamu mau kan menikah". alira hanya mengangguk saja, Barra melihat ke arah alira sebenarnya ia merasa kasihan seharusnya ia menikmati masa dewasa bukan harus mengurus suami.


" terimakasih Abah sudah menerima Barra anak kami". Abah mengangguk.


" ayo pak Bu di makan, begini kue di desa". ucap emak.


" Ini mah kesukaan Ustadz Yusuf suami saya Mak". ucap istri ustadz Yusuf.


" Alhamdulillah kalau suka". Mereka menikmati kuenya sembari mengobrol santai.


Alira hanya menggesek tangannya ia malu, bingung tapi memang ini yang harus ia terima. alira kasihan dengan orang tua nya juga orang tua ustadz Barra jika harus menanggung malu.


" oh ya kira-kira kapan ya anak kita akan di nikahkan ".


" segera Abi, lebih baik segera kita melakukan akad. barra tak mau jika akan ada maksiat mengingat alira murid saya juga kami satu kampung, barra belum selesai mengabdi di sini."


" ternyata keponakan paman ini sudah tak sabar rupanya." ucap ustadz Yusuf. barra tersenyum.


Sebenarnya bukan itu maksud Barra , ia harus memiliki bukti jika ia dan alira menikah sebelum warga kampung sebelah mengeroyok datang ke desa ini.


" Bagaimana Abah, kapan akan di laksanakan nya". Abah menoleh ke arah emak mencari jawaban.


" Resepsi bisa lain kali yang penting kita sah kan anak kita dulu, supaya tak terjadi fitnah. apalagi barra seorang ustadz dan alira adalah muridnya".


" Baik kalau gitu Minggu depan".


" Lusa saja Abah, Barra akan sibuk Minggu depan anak-anak kelas 10 dan sebelas ulangan akhir semester ".


" Bagaimana Abah juga alira".


" nak alira bagaimana ". alira mengangguk lagi, ia tau maksud ustadz Barra. kekhawatiran akan di datangi oleh orang desa sebelah terlintas lagi.


Setelah berbincang cukup banyak kemudian orang tua barra pulang. mereka pamit, umi memeluk alira calon menantunya itu. Biasanya alira anak yang bar-bar tapi malam ini 180 derajat alira berubah sedikit kalem. hanya sedikit karena tindakannya tak sesuai dengan hati nuraninya, pernikahan yang tak ia inginkan dan impikan dengan ustadz Barra. namun bagaimana lagi alira harus pasrah demi nama baik kedua keluarga ini.

__ADS_1


Sebelum naik mobil sebagai pengemudi Barra melihat ke arah alira yang berwajah sendu, tak ada urat kebahagiaan terpancar dalam dirinya. Justru di situlah Barra sangat kasihan dengan alira, seandainya saat ini bisa ia ingin mendekat dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.


___


__ADS_2