
Alira mendongak melihat wajah barra meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi kenapa di dalam terdengar dokter Fadil mengkhitbah Aisyah. barra tersenyum melihat kebingungan di wajah alira, barra mengecup kepala Alira. alira makin nampak bingung, barra lalu mengajak nya masuk. terdengar pintu ruangan di buka semuanya menoleh ke arah alira yang duduk di kursi.
" alira kenapa nak." ucap umi panik lalu mendekati sang menantu kesayangan nya itu.
" biarkan alira yang mendengarnya langsung umi." umi mundur di dorong nya alira mendekat ke Aisyah.
" alira..." ucap Aisyah dengan tetes air mata.
" maafkan aku..." ucap Aisyah perlahan.
" tidak ada yang perlu di maafkan mba".
" Kamu memang pantas untuk mas barra, hatimu seluas samudera. terima kasih darimu aku belajar arti dari sebuah keikhlasan. aku tak butuh mas Barra karena mas barra membutuhkan mu, aku butuh mas Fadil yang akan menemani di sisa usiaku ia yang akan merawat ku hingga ujung waktuku ". kata Aisyah panjang meski beberapa kali menarik napas.
" alira ikhlas mba demi Allah ".
" ya karena keikhlasan mu aku tau kamulah yang pantas untuk mas Barra ". Aisyah tersenyum ia ingin menggapai tangan alira, alira lalu berusaha berdiri di bantu oleh Barra.
" terima kasih alira."
" sama-sama mba, kita akan tetap terus berteman ".
" itu pasti". ucap Aisyah tersenyum senang.
" ada apa dengan alira Barra ". tanya Fadil, semua orang juga penasaran dengan alira yang berada di atas kursi roda.
" Fisiknya lemah ia kekurangan darah dan cairan tadi sempat pingsan di luar untung ada suster dan dokter Almira mereka menolong Alira." jelas Barra.
" ya Allah alira teriak umi mendekat mengusap bahu Alira".
" sebentar, apa alira hamil". tebak Fadil.
" Alhamdulillah Fadil iya, baru saja dokter Almira yang memberitahu kandungan nya berumur empat Minggu ".
" masyaallah tabarakallah, Alhamdulillah ". ucap orang-orang yang ada di ruangan tersebut. umi langsung memeluk alira, Aisyah yang masih bertaut tangannya dengan alira mengeratkan genggaman nya tanda respon bahagia dari Aisyah.
__ADS_1
" alira aku ikut senang". Aisyah tersenyum meski lemah.
" Cepatlah sembuh nak biar bisa cepat menikah dengan Fadil". ucap istri ustadz Zaky ibunya Aisyah.
" tak perlu menunggu Aisyah sembuh umi, besok saja pernikahan bisa di laksanakan di sini. ." Fadil yang mendengar nya langsung menoleh ke arah Aisyah.
" kamu serius Aisyah".
" apa kamu tak mau menikah dengan keadaan ku yang seperti ini dokter Fadil."
" Aku mau Aisyah dengan begitu aku bebas merawat mu, Alhamdulillah". ucap matanya berembun. Semua yang ada di sana ikut bahagia.
" Aisyah mau di dandani layaknya pengantin umi ". ucap Aisyah lemah.
" iya sayang itu pasti."
" besok kamu harus datang ya alira." alira mengangguk lalu tersenyum.
Suasana hati bahagia di ruangan Aisyah, Fadil tak henti-hentinya untuk tersenyum. Doa nya masih menggantung di langit kini doa itu Allah ijabah.
" kenapa dok."
" kamu harus mempersiapkan diri untuk acara besok."
" tapi dok".
" sudah nurut kalau tidak aku batalkan nih." semua orang tertawa.
" oke baiklah ". sebenarnya Fadil berat meninggalkan Aisyah, meski ada kedua orang tua Aisyah setiap malam ia tak absen untuk menunggu Aisyah.
___
Barra tak henti-hentinya menciumi alira saat sudah sampai di rumahnya, alira jadi merasa geli di buatnya ia tertawa cekikikan. seluruh wajah Alira tak lolos sedikitpun dari ciuman barra, bahagia ia rasakan kini ia kembali merengkuh kebahagiaan bersama alira istrinya tanpa ada orang ketiga.
" mas alira geli." ucap Alira menggeliat bingung.
__ADS_1
"terima kasih sayang, Allah membalas semua kebaikanmu. juga terima kasih untuk janin yang sudah tertanam dalam perutmu". barra lalu menciumi perut Alira, alira makin terkekeh.
" Alhamdulillah mas kuasa Allah, semalam alira tak hentinya untuk berdoa demi kebaikan kita". Barra mengerutkan kening nya ia tidak tau saking lelahnya tertidur pulas, alira ternyata semalem melakukan shalat malam memohon kepada Allah untuk kebaikan semuanya.
" mandi ya lali istirahat ". ucap Barra berjalan menyiapkan air handuk juga pakaian alira.
" mas jangan berlebihan alira bisa lakukan sendiri ".
" Aku mau kamu sehat selalu, kamu dalam pengawasan ku sayang." alira terkekeh. karena tak ingin mengecewakan kebaikan suaminya alira lalu mandi.
Barra berjalan ke dapur ia sedang memasak untuk makan malam, sup bayam dengan tempe dan ayam goreng. Barra tersenyum ketika selesai ia balik lagi ke kamar, alira beranjak untuk keluar.
" mau kemana sayang ngga usah ke belakang mas udah masak kamu istirahat sini". barra menuntun alira agar duduk di ranjang.
" mas kapan masak".
" barusan kan tinggal masukin sayur aja tempe di goreng sebentar ayam juga tinggal menghangatkan". kata barra ia mengangkat kaki alira agar naik ke ranjang.
" ngga usah ke mana-mana mas mau mandi dulu bau asem". alira terkekeh mendengar barra begitu sigap Melayani alira.
" ya Allah terima kasih atas kuasaaMu mengizinkan hamba terus bersama suami hamba, benar ya Allah jika alira sangat membutuhkan mas Barra". tes,,, air mata itu menetes tanda syukur alira lalu mengusap agar tak di ketahui oleh suaminya ia lalu mengusap perutnya yang masih rata itu bahagia.
Sembari menunggu Barra Alira tilawah ia hanya ada di atas ranjang barra tak mengizinkan karena memang alira masih lemah. Bersyukur atas semua yang Allah tetapkan untuk nya.
__
Aisyah malam ini di tunggu oleh Bilal dan orang tuanya, ustadz Ilyas dan istrinya membantu menyiapkan tasyakuran untuk Aisyah dan Fadil. Besok mereka akan menikah, semuanya di selesaikan oleh Ustadz Ilyas. meski mereka tak jadi berbesanan tapi persahabatan mereka tetap lanjut.
Di rumah orang tua nya Fadil gelisah, gelisah berharap hari esok segera tiba. di rumahnya juga ramai karena mempersiapkan pernikahan Fadil besok, meski pernikahan akan di lakukan di rumah sakit tetap di rumah membuat acara tasyakuran.
Ketika Fadil mengatakan kepada orang tua nya untuk menikahi Aisyah orang tuanya langsung setuju bagaimana pun kepada Aisyah. papa dan mama Fadil sudah tau bagaimana Aisyah dan keluarganya karena ustadz zaky salah satu tokoh berpengaruh di masyarakat.
" aku lebih gelisah dari pada menunggu mu saat kamu akan siuman, aku lebih stres daripada mengharapkannya untuk sadar. ya Allah bukakan hati Aisyah untuk mencintai ku apa adanya tanpa menepikan cintaMu, jadikan kami pasangan dunia dan akhirat". Fadil menutup matanya masih belum bisa tidur, ia tutup matanya menggunakan bantal masih saja sulit tidur. akhirnya Fadil mengambil obat tidur dengan dosis rendah agar ia bisa tertidur. kegelisahan untuk menjadi pengantin, mungkin kegelisahan itu tak akan semakin menyeruak jika ia masih menunggu Aisyah di rumah sakit.
__
__ADS_1
bersambung