Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 40


__ADS_3

Tak langsung pulang namun Barra mengajak alira jalan-jalan mereka mampir dulu untuk shalat Zuhur lalu di ajaknya ke pusat perbelanjaan. Barra membeli beberapa celana boxer di mintanya alira untuk memilih apa yang ia butuhkan.


" ayo cepetan pilih mana yang mau kamu beli Ra mumpung kita lagi keluar".


" Alira sudah punya semua mas memang nya apalagi yang mau alira beli "


" setidaknya menambah stok kalau-kalau pas musim hujan ada yang bisa kamu pakai, ini bukan boros alira tapi kebutuhan hidup. ayo dong supaya rezeki mas tambah berkah juga bertambah. ambil yang banyak ya sayang". barra mengusap kepala alira. kemudian alira membeli apa yang ia butuhkan, pakaian dalam tak lupa Barra mengambilkan daster untuk tidur karena saat ke rumah Abi ia tak membawakan alira.


" Haus tak Ra, tunggu di sini ya mas belikan air dulu". alira menurut saja ia duduk sendiri tak berani kemanapun takut nyasar karena alira paling tak pandai mengingat jalan.


Barra mbawakan dua botol air mineral untuk dirinya dan istrinya, alira menyambut nya dengan senyuman. Di teguknya air itu hingga hilang rasa hausnya.


" mas pulang yuk alira lelah". pinta alira ia meringis memang cukup lelah terasa.


" Barra..." panggil seseorang saat barra dan alira akan beranjak dari duduknya.


" Fadil..." mereka lalu saling berpelukan sahabat lama mereka terpisah kerena Barra melanjutkan di pesantren.


" kamu apa kabar". tanya Fadil yang menoleh ke arah alira.


" Alhamdulillah baik, kamu sendiri".


" Alhamdulillah juga baik, siapa". Fadil menoleh ke arah alira.


" dia alira Istriku". Fadil pun terkejut ia sangka alira adalah sepupunya, Fadil mengira jika barra yang akan menikahi Aisyah.


" istri, kapan kamu menikah". tanya Fadil penasaran.


" Alhamdulillah sudah dua bulan yang lalu, emmm... dokter Fadil ". tebal Fadil mereka terakhir kali bertemu saat Fadil akan ke bandara.


" bisa aja kamu, ustadz Barra ". keduanya terkekeh.


" Tukar nomor handphone ya, aku sekarang tak bisa lama mengobrol istriku kelelahan kita akan pulang dulu". ucap barra mengeluarkan handphone nya.


" 082223336988". Nomorku masih sama Barra kamu saja yang tak pernah hubungi ku.


" maaf handphone ku hilang jadi nomor semua teman hilang, oke nanti aku calling ya. aku permisi dulu".

__ADS_1


" oke..." lalu Barra pamit ia tak tega juga melihat alira kelelahan.


" Lalu di mana Aisyah, aku kira dia menikah dengan Aisyah siapa sih yang akan menolak pesona Aisyah ". gumam Fadil ia heran tak di sangkanya saat ia pulang akan melihat barra dan Aisyah bersama namun tidak Barra dengan wanita lain.


" lelah sayang, maaf ya mas tak mengontrol diri mas saking semangatnya ". barra menggenggam tangan alira sejenak lalu mengecupnya.


" tak apa mas kita pulang alira ingin istirahat."


" iya istri ku yang manis semanis madu". alira terkekeh barra selalu bisa saja mengeluarkan ucapan manisnya.


Sesampainya di rumah Barra mengeluarkan barang belanjaannya ia meminta agar alira langsung ke kamar untuk istirahat. Abi dan umi membantu Barra mengeluarkan belanjaan nya.


" mana alira ".


" kecapekan bi langsung barra minta untuk istirahat ". ucap Barra.


" kamu juga katanya hanya ke super market saja kenapa pulang sesiang ini".


" maafi barra keasikan belanja, barra tak bawa baju kemarin ke sini."


" alira kamu belikan apa, ".


" Itu bagus Barra berati alira menekan pengeluaran mu, ia tak mau boros".


" iya sih mi, tapi kadang saat Barra minta dia untuk memilih tak mau". ucap Barra.


" Kalau dia tak mau kamu saja yang sering-sering membelikan nya jangan kamu paksa untuk belanja sendiri". saran umi.


" gitu ya um, jadi Barra yang harus melakukan nya".


" ya iya jadi suami itu harus peka, bagaimana istri kita kita harus ngerti dari pada punya istri yang borosnya nauzubillah. tiap minggu gonta-ganti gamis sampai penuh lemari, kan mubadzir tuh mereka tak ingat jika semua itu akan di hisab "


" iya mi alira memang tak memiliki gamis barra kemarin sudah pilihkan untuk dia pakai".


" Dalam rumah tangga itu perhatian suami sangat di butuhkan bukan hanya cinta dan kasih sayang, dengarkan saat istri bercerita ataupun berkeluh kesah nak itu poin penting. karena seorang istri yang sudah menikah ruang lingkupnya sempit iabtak akan bisa lagi senang-senang dengan temannya seperti dulu. kamu sebagai suami adalah teman paling dekatnya bestie gitu." penjelasan umi.


" iya umi, Barra akan berusaha menjadi suami yang baik".

__ADS_1


" harus dong Barra, jadilah suami yang baik bisa membimbing istrimu ke surga".


" iya umi, terima kasih ".


Setelah selesai lalu Barra menyusul alira ke kamar nya, di lihat nya alira yang sudah berbaring memejamkan mata. di raihnya kaki alira yang mungkin sudah begitu pegal jalan sejak tadi.


" ngga usah mas, alira istirahat saja insyaAlloh udah baikan".


" tidak apa-apa setidaknya sedikit berkurang rasa sakit di kakimu"...


barra memaksa untuk memijat kaki alira, tak lama alira pun tertidur ia begitu lelah hari itu.


Barra melepaskan jilbab alira agar tidurnya nyaman, dibenarkan nya posisi tidurnya kemudian barra masuk ke kamar mandi untuk bebersih.


__


Aisyah merasakan badannya sangat tidak nyaman, mungkin karena pikirannya terpengaruh saat tadi ia bertemu Barra dan alira. Melepaskan tak semudah yang ia bayangkan ketika berhadapan dengan seseorang yang kini mencoba kita lepaskan, rasa itu semakin melekat dan begitu sakit.


" Aisyah nak makan dulu keburu malam". panggil umi namun seseorang yang di panggil tak kunjung menjawab.


" Aisyah nak..." umi mengetuk pintunya berkali-kali namun tetap tak ada jawaban.


Lalu istri dari ustadz Zaky tersebut membuka pintunya, Aisyah tidak mengunci nya karena memang kebiasaan begitu. jika ia mengunci jika memang private selanjutnya akan ia buka agar jika ada yang memanggil bh jsa langsung ia suruh masuk.


" astaghfirullah Aisyah..." umi berteriak ketika ia mendapati Aisyah tergeletak di lantai dengan hidung yang bercucuran darah.


" Abi ...Abi Aisyah bi..."


Abi pun berlari mencari arah suara istrinya.


" ada apa umi".


" Aisyah bi ia tak sadar kan diri dan hidungnya berlumuran darah".


" astaghfirullah Aisyah nak bangun nak, ". Namun Aisyah sudah tak bisa bangun lagi, Abi lalu mengendong Aisyah hingga ke mobil. Di nyalakan nya mobil lalu bergegas untuk ke rumah sakit. Di perjalanan umi nya menangis tiada henti, tak di sangka nya anak sulungnya telah sakit. umi hanya heran saja akhir-akhir ini badan Aisyah semakin kurus, yang umi tau mungkin Aisyah terlalu memforsir dirinya untuk menyelesaikan skripsinya ternyata bukan karena itu, Aisyah sakit. Sakit yang bisa di bilang lumayan, hanya kehendak Allah yang bisa menyembuhkan nya.


__$

__ADS_1


bersambung


__ADS_2