Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
pasangan sebenarnya


__ADS_3

Seperti biasa Barra selalu bangun di pukul jam tiga pagi, ia mengucek matanya yang masih banyak beleknya. Barra menoleh ke arah alira yang masih terlelap, alira tak membuka hijabnya sama sekali ia malu dengan ustadz Barra.


" MasyaAlloh ketika sudah halal semuanya terlihat indah, bahkan liur mu pun terlalu indah untuk ku pandang". barra terkekeh ia melihat alira tidur di sisinya meski alira tidur mepet sekali dengan dinding.


" Ra bangun..." di goyangkan nya tubuh alira yang masih asyik menyelami dunia mimpi.


" Ra bangun yuk shalat" sekali lagi barra menggoyang tubuh alira.


" Nanti Mak masih terlalu pagi, alira libur". alira masih mengira yang membangunkan nya itu emak.


" Ra kita sholat malam ya". alira mengerjapkan matanya ia mendengar suara yang bukan emaknya.


" Aaaa.... ustadz ngapain di sini". alira berteriak ia kaget mendapati bara ada di kamarnya.


" Aku semalam memang tidur di sini". ucap ustadz barra.


" astaghfirullah ustadz apa yang ustadz lakukan padaku".


" aku tak melakukan apapun padamu Ra, sebelum kamu mengizinkan nya aku tak akan menyentuh mu ". terang barra.


Alira memijat pelipisnya ia merasa sedikit pusing, ia baru ingat jika pagi tadi ia sudah sah menjadi istri dari barra guru sekolah nya itu.


" ya Allah alira lupa ustadz, ustadz barra sudah menjadi suami alira".


" nah gitu tau, kamu tau apa tugas istri".


" melayani suami ustadz".


" nah benar sekali istri pintar". alira melongo teringat dengan ucapannya kata melayani, ia lalu turun dari ranjang melewati barra dan langsung beranjak ke kamar mandi. barra terkekeh istrinya terlihat lucu saat malu.


Di bentangkan nya dua sajadah, satu untuk dirinya dan yang satu untuk alira istrinya. Barra menunggu Alira yang sedang memakai mukena sembari ia berdzikir. Alira melihat ke arah ustadz barra yang sedang menunggu nya, ia mengelus dada selalu deg degan jika dekat dengan barra suaminya.

__ADS_1


Ini pertama kalinya barra dan alira shalat berjamaah, shalat malam dengan tiga witir selesai. Barra berbalik untuk menerima Salim dari alira.


" Ra Salim..." alira gelagapan lalu ia Salim, barra mendekat kan dirinya agar ia bisa meraih alira untuk mengecup keningnya.


der...


Sengatan yang tak kasat mata itu sampai kehati masing-masing.


" Ra kita harus membiasakan hal ini, seperti yang dulu saya sampaikan saat kajian. Pacaran ketika halal itu sangat indah, saya tau jika kamu masih belum sepenuhnya menerima pernikahan ini. tapi inilah takdir Allah untuk kita, kita harus belajar untuk membuka hati masing-masing Ra. Saya harap kamu mau bekerja sama untuk jalannya pernikahan ini menjadi pernikahan indah yang kita impikan". Barra seorang ustadz ia sudah terbiasa bicara di depan umum jika bicara dengan alira saja ia pasti akan mudah. alira kemudian mendongak ia menatap ke arah mata barra suaminya, netra mereka terkunci menyelami hati masing-masing yang sudah mulai tumbuh bunga yang bermekaran.


Barra berdoa berdzikir, saat ia menoleh ke belakang untuk mengambil mushafnya di lihatnya alira sudah tidur lagi di atas sajadah nya. barra hanya tersenyum dibiarkan nya alira tidur lagi.


" Harus sabar memang menikah dengan ABG." barra mengusap kepala alira ia lalu melanjutkan untuk bertilawah.


***


Berita pernikahan Barra dan Alira sudah tersebar di berbagai tempat, ada yang senang banyak juga yang mencibir mengingat alira hanya gadis biasa apalagi keluarga nya yang di bilang pas-pasan.


" Sarapan dulu nak barra, tumis kangkung lauknya tempe goreng. maaf ya nak kalau Abah tak mengambil ikan di sungai kami jadi tak masak ikan".


" MasyaAlloh Mak ini sudah enak sekali Mak, Alhamdulillah barra suka semua masakan emak enak. bikin kenyang". kata barra membuat hati mertuanya agar senang.


" alira kenapa belum keluar sejak tadi, kasihan ini barra tungguin kamu". teriak emak yang melihat alira tak kunjung datang.


" iya Mak sebentar, ". ia sungguh malu memakai seragam nya dan harus berjalan ke sekolah bersama ustadz Barra suaminya. Alira sudah membayangkan bagaimana para guru dan teman-teman nya memandang ke arahnya nanti. apalagi para fans barra, pasti banyak selentingan suara yang tak akan enak di dengar.


Alira keluar ia balut bajunya dengan menggunakan jaket sweter agar tertutupi. Alira lalu duduk ia mengambil nasi untuk di makannya sebagai sarapan.


" ambilkan barra makan dulu baru kamu makan alira, jangan lupa tugas istri itu melayani suaminya". alira mendesah sedikit kesal, ia kikuk terasa malu melakukan nya.


" oh iya Mak, Abah, barra mau minta izin untuk membawa alira ke kontrakan. Barra sudah mengambil rumah untuk kami, maaf Abah emak bukannya barra tak suka tinggal di sini tapi barra dan alira ingin mandiri". alira mengerutkan keningnya pasalnya sebelumnya Barra tak mengatakan padanya.

__ADS_1


" Silahkan nak, Abah serahkan padamu alira sudah menjadi tanggung jawabmu sekarang. didiklah ia dengan baik".


" iya Abah terima kasih sebelumnya ".


Barra pamit dengan emak dan Abah, barra menyambut tangan alira mereka berjalan beriringan. Barra tau inilah yang di inginkan Abah dan emak pernikahan nya dengan alira akan manis. alira melepas tangan barra ketika sudah berada di luar rumah ia malu jujur tangannya dingin saat Barra memegang tangannya.


" Ustadz, alira berangkat sama Amel saja ya". pinta alira.


" Ra kamu sekarang Istri ku tak pantas jika kamu berangkat sama Amel. Tak ada yang bisa kita hindari Ra kenyataan nya kita sekarang sudah menjadi suami istri. biarkan orang bilang apa, apapun yang kita lakukan itu sudah halal Ra. Tunjukkan saja pada dunia jika kita adalah pasangan sebenarnya ". ucap Barra.


Alira tak bisa berkata apapun, barra sudah memasangkan pelindung kepala pada kepalanya alira. Alira hanya menurut saja, Barra tersenyum alira memang selalu penurut. Tapi ia juga berjanji tak ingin mengekang kebebasan Alira.


" Pulangnya boleh sama Amel, nanti mas akan pulang agak siang. kamu duluan ngga apa-apa". kata Barra.


" beneran ustadz". wajah alira berbinar ia cukup senang.


" iya boleh".


" kalau nong..." barra mencegah ucapan alira.


" kamu sudah bersuami alira tak baik jika nongkrong, boleh kumpul teman asal di rumah emak jangan di rumah orang lain". ucap Barra ia mulai duduk di motor nya.


" baik ustadz, terima kasih ".


" hmmm,,, ayo naik nanti telat." alira pun naik di bonceng oleh Barra.


" tak perlu jaga jarak alira, pegangan pinggang mas barra ya biar ngga jatuh." ucap barra sedikit berteriak karena motor mereka sudah melaju. Alira meringis ia masih geli jika pegang-pegang suaminya meski sudah halal.


___


bersambung

__ADS_1


__ADS_2