
Entah apa yang sedang di bicarakan oleh alira dan Aisyah keduanya tertawa renyah. alira bisa membuat Aisyah tertawa, sikap absurd alira mungkin keluar lagi. bahkan Aisyah sampai memegang perutnya menahan sakit karena banyak tertawa.
' alira gadis yang baik juga asyik pantas saja mas Barra langsung memilihnya menjadi istri selepas aku menolak khitbah nya'. monolog dalam hati Aisyah.
" Mba harus cepat sehat, nanti kita bisa ngobrol lebih lama lagi dan tertawa puas". alira terkekeh.
" insyaallah doakan mba ya, kamu baik sekali alira".
" mba juga baik juga sangat cantik". Aisyah tersenyum mereka lanjut berbincang.
Di luar barra menatap wajah Fadil seperti nya menyimpan sesuatu. Fadil lalu duduk, ada bangku di mana biasa di pakai oleh penunggu pasien di luar.
" Sebenarnya Aisyah sakit apa Fadil, kamu menyembunyikan sesuatu." tanya Barra menelisik wajah Fadil.
" masih di cek belum keluar hasilnya, siang nanti akan terlihat".
" kamu seorang dokter pasti kamu bisa kan mendiagnosis penyakit Aisyah, Aisyah tampak pucat dan kurus sekali". ucap Barra dengan penglihatan nya.
" Aku tidak tau juga pastinya, ini hanya diagnosa saja. lumayan Aisyah seperti tekena penyakit leukimia gejalanya semua sama". ..
" innalilahi kamu serius Fadil, sejak kapan sakit itu mendera nya".
" itu baru diagnosa semoga saja salah, kita bisa lihat nanti jika sudah keluar hasilnya. ini sudah lama tapi Aisyah tak pernah peduli akan sakitnya" ucap fadil.
" benarkah, keluarga nya tau".
" tidak ada yang tau sekalipun orang tua nya, aku pun mengambil Sempel darah bukan atas izin Aisyah. Aisyah tidak mengetahui nya, aku ingin memastikan kebenarannya ". ucap Fadil.
" ya Allah kenapa dia hanya memendamnya sendiri, aku memang tak pernah dekat jadi sama sekali tak tau ".
" ya karena kamu seorang ustadz tak mungkin dekat dengan wanita yang bukan muhrim begitu juga dengan Aisyah ia juga tak mau dekat dengan lelaki selain muhrimnya ".
" iya betul katamu, setelah penolakan khitbahnya kami tak pernah bertemu karena aku masih mengabdi di madrasah lain". Fadil menepuk pundak barra.
" kemungkinan besar penolakannya atas dasar dirinya sudah tau berpenyakit dan tidak akan lama lagi hidup ".
" apa maksudmu, ia menolak ku karena penyakit nya ini."
" iya Barra. seseorang yang mencintai ia akan berkorban, ia akan membuat cintanya itu bahagia ".
" astaghfirullah... kenapa Aisyah berfikir seperti itu bahkan ia mengubur kebahagiaan nya sendiri ". Fadil tau jika Aisyah memang sangat mencintai barra, saat sebelum Fadil berangkat untuk mengenyam pendidikan nya ia mengkhitbah Aisyah lebih dulu tapi Aisyah menolak dengan alasan masih menunggu seseorang dan itu adalah barra.
__ADS_1
" Pemikiran semua orang berbeda-beda Barra, Aisyah wanita salihah yang sangat baik. sejak dulu aku mengenal nya tapi ia menolak khitbahku". Barra langsung menoleh ke arah Barra.
" apa maksudmu kamu pernah mengkhitbah Aisyah". tekan Barra ia ingin tau apa yang Fadil katakan tadi.
" iya sebelum aku berangkat ke LA tapi ia menolak ku".
" atas dasar apa penolakan itu".
" ia sedang menunggu khitbah mu". barra mengerutkan keningnya.
" tapi ia menolak ku Fadil hingga aku berusaha mengubur hidup-hidup perasaan ku. Alhamdulillah aku sudah bertemu Alira yang kini jadi istri ku."
" Ya itulah penolakan nya pasti karena Aisyah tak ingin kamu juga ikut sedih tentang penyakitnya". Barra mendesah ia tak tau jika itu yang sebenarnya terjadi.
" ya Allah kenapa dia berfikir seperti itu, aku sama sekali tidak tau Fadil". Fadil lalu mengusap bahu barra ia tau saat ini Barra sedang berfikir merasa bersalah.
" Aisyah ingin kamu bahagia, ia berkorban untuk mu demi kebahagiaan mu".
" tapi bukan begini caranya, jika ia harus mengubur kebahagiaan nya sendiri". kata Barra sendu.
" tapi aku lihat kamu bahagia dengan istri mu".
" Alhamdulillah aku memang bahagia, alira bisa membuat ku bahagia bahkan membuatku jatuh cinta padanya setiap hari".
" Istriku sednag tak enak badan aku harus lekas pulang kasihan dia " Fadil tersenyum.
" Sembuhkan Aisyah kamu masih bisa mendapatkan nya". ucap Barra.
" aku tak ingin berharap lebih barra, Aisyah tak mencintai ku".
" Hidup bersama itu tidak harus berawal dari rasa cinta. Cinta itu akan tumbuh dengan seiringnya waktu Fadil, niatkan semuanya karena Allah pasti akan indah di jalani". Barra menepuk bahu Fadil memberinya semangat.
" aku tak yakin".
" jangan menyerah, jika kamu memang benar mencintai nya beri ia semangat dan sembuhkan Aisyah agar bisa mendampingi mu sepanjang usia mu".
" kamu tak apa aku melakukan nya mendekati Aisyah ". tanya Fadil ia merasa tak enak.
" aku sudah punya alira Fadil tak mungkin aku melukainya, dia istriku ". Fadil pun tersenyum.
" aku akan mencobanya barra ". lalu kemudian keduanya masuk ke dalam.
__ADS_1
" Kami pamit ya Aisyah, alira sedang tak enak badan jadi ia harus istirahat. kamu segera sembuh semangat ya." ucap barra.
" maaf ya mba, alira tak bisa lama kepala alira masih terasa pusing". barra mengusap kepala alira ia tau istrinya masih pusing. Aisyah hanya mengangguk.
" Lain kali kita ngobrol lagi ya mba."
" makasih ya alira." ucap Aisyah memberikan senyuman nya untuk alira.
Barra merasa miris melihat keadaan Aisyah yang terlihat pucat, hati nya sedikit tercubit mengingat kabar yang di beritahu kan Fadil bahwa Aisyah sakit. Meskipun ia bilang sudah tidak mempunyai rasa namun yang namanya mantan orang yang di sukai pasti ada sedikit rasa yang tertinggal. Keduanya lalu pamit, Barra menggandeng tangan alira erat.
" mas kok pegangan alira malu ".
" kenapa malu yang gandeng kan suami sendiri". ucap Barra.
" malu di liatin orang".
" mereka itu iri sayang liat kemesraan kita, namanya juga pengantin baru". alira berhenti.
" kenapa sayang". ..
" jadi hanya waktu pengantin baru saja." alira cemberut. barra lalu tertawa melihat istrinya cemberut terlihat lucu.
" ngga sayang selamanya kita akan terus mesra, jadi jangan kamu cegah jika mas bersikap mesra padamu. ini bentuk kasih sayang mas terhadap mu, karena aku tak bisa mengucapkan kata manis untuk mu. Wajahmu yang manis itu sudah membuatku meleleh berkali-kali". alira memukul lengan Barra ia tersipu, mereka menuju parkiran. Padahal barra sering sekali ngegombal.
" masih pusing kepala nya sayang".
" iya mas sedikit".
" Sampai rumah makan minum obat lalu istirahat ya."
" sayang apa ada mau ingin kamu beli, pengen makan apa gitu mumpung belum sampai rumah."
" ngga mas, alira pingin cepet sampai rumah rebahan"
" Oke kita pulang nanti mas pijitin ". alira mengangguk lalu barra menghidupkan mobilnya untuk pulang ke rumah umi dan abinya.
__
bersambung
Hari Senin jangan lupa vote nya ya
__ADS_1
terima kasih 🥰