Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 62


__ADS_3

Di sebutkan nama Aldo Mahesa Fadil kemudian langsung pergi ia menitipkan Aisyah terlebih dahulu kepada orang tua Aisyah. Fadil tak mengatakan mau pergi ke mana yang jelas ia pamit ada urusan penting. Fadil langsung datang ke rumah Aldo ia menyimpan amarah yang luar biasa, Aldo adalah sepupunya ia anak dari om nya adik dari ibunya Fadil.


" Dimana Aldo Tante" ucap Fadil Salim terlebih dahulu.


" baru saja pulang ada di atas". kata ibunya namun orang tua Aldo tak tau kelakuan anaknya.


" Aldo". teriak Fadil kemudian, ibunya Aldo pun kaget mendengar teriakkan Fadil yang sepertinya memang sedang ada masalah dengan Aldo.


Fadil membuka paksa pintu kamar Aldo dengan sangat kasar. Aldo yang sedang berbaring pun kaget mendapati kakak sepupu nya dengan amarah.


" ada apa sih kak". Fadil memang sudah lama tak suka dengan Aldo, bukan apa-apa tapi karena sifat sombong nya.


" apa yang kamu lakukan pada alira heh.." ucap Fadil rasanya tak tahan ia ingin langsung memukul Aldo saat itu juga.


" alira, ". Aldo terbengong mendengar nama alira gadis yang ia hampir lecehkan tadi pagi.


" beraninya kamu berusaha menyentuh alira, bugh..." Fadil meninju pipi Aldo sekali.


" bugh,,, bugh,,," tinjuan melayang ke perut nya, Fadil sangat kesal ia malu sepupu nya bisa melakukan hal seperti itu.


" awh,,, sakit kak."


" kamu tau kan itu sakit, apa kamu tak ingat dengan apa yang kamu lakukan pada alira, ia lebih sakit menerima perlakuan mu tak hanya sakit fisik tapi juga jiwa". Aldo masih memegang pipinya yang sudah memar.


" Aku mencintai alira kak."


" mencintai itu tidak menyakiti Aldo, mencintai itu selalu memberi kebahagiaan untuk orang yang kita cintai. tapi apa yang kamu lakukan untuk alira, kamu seperti psikopat". umpat Fadil geram.


" Aku ingin bahagia bersama alira."


" apa kamu tidak berfikir sejenak saja, cinta itu tak harus memiliki Aldo karena kita punya takdirnya masing-masing. jika ia memang bukan jodohmu lepaskan dia dengan ikhlas, bukti cinta itu membuat orang yang kita cintai bahagia bukan menyakiti". ucap Fadil ingin sekali ia meninju lagi pipi keponakannya itu.


" maafkan Aldo kak".


" Lihat lah sekarang alira mengalami trauma ia syok berat , jiwanya terganggu itu semua karena ulahmu Aldo. hampir saja ia kehilangan janinnya". teriak Fadil hingga mama nya Aldo mendengar teriakkan Fadil lalu mama Aldo datang menemui keduanya.

__ADS_1


" ada apa ini." ucap mama.


" tanyakan saja pada Aldo ini apa yang sudah ia lakukan pada alira." mama memandang Aldo yang menunduk.


" maaf..." hanya kata itu yang keluar dari bibir Aldo. entah dari pukulan Fadil itu ia mulai sadar.


" kamu berbuat ulah apalagi Aldo".


ucap mama ya, ia merasa malu seakan telah gagal mendidik Aldo.


" Jika saja kamu bukan sepupuku sudah aku jebloskan kamu ke penjara Aldo supaya kamu jera. jika kamu mendekati alira lagi kamu berurusan dengan ku." kesal Fadil ia lalu pergi tanpa pamit merasa sangat kesal sekali ingin sekali berkali-kali menampar wajah Aldo tapi ia masih mengingat ada ibunya di sana yang telah melahirkan nya.


Fadil mewanti-wanti Aldo cukup keras, Fadil kasihan melihat sahabatnya Barra. apalagi kini alira mengalami trauma akut, syok atas kejadian yang sudah terjadi. sedikit-sedikit ia penuh curiga dan kadang ia tertawa juga menangis , itulah yang akan di alami oleh penderita trauma dengan kasus pelecehan. Dan kini istri dari sahabatnya yang mengalami trauma tersebut. Fadil dan dokter Almira juga berdiskusi untuk kesembuhan Aira.


" Aldo apa maksud dari Fadil tadi nak, apa yang kamu lakukan nak." tanya mama.


" maaf ma, Aldo mengganggu wanita".


" astaghfirullah Aldo, apa yang kamu lakukan nak".


__


sesampainya di rumah sakit Fadil langsung mencuci tangan ia lalu masuk ruangan Aisyah. Melihat Aisyah sudah terbangun dan duduk masih ngobrol dengan orang tuanya.


" sudah bangun ". tanya Fadil mendekat.


" sudah mas". Aisyah tersenyum.


Melihat senyuman tulus yang di berikan Aisyah, Fadil merasa sangat senang. ia mengusap kepala Aisyah dengan lembut lalau orang tua Aisyah pamit ingin pulang dulu nanti akan ke sini lagi.


" gimana masih pusing sayang." Fadil duduk di samping Aisyah, Aisyah bergeser sedikit agar ranjangnya cukup.


" sedikit cuma Aisyah mual mas". di ciumnya kepala Aisyah yang kini baunya sudah wangi tak seperti kemarin.


" itu efek obat yang kamu minum sayang, supaya lekas sehat. nanti kamu tak akan minum obat lagi berganti dengan mual yang lain". Aisyah mengerutkan keningnya.

__ADS_1


" apa mas, mual yang lain". Fadil mengusap perut Aisyah.


" apa Aisyah masih bisa mas".


" tak ada yang tidak mungkin bagi Allah kita butuh ikhtiar sayang. kamu pasti sembuh percaya sama mas, Alhamdulillah mas sudah dapat pendonor sumsum tulang belakang mu kita cepat biopsi. bertahanlah jika bukan demi mas demi umi dan Abi orang-orang yang kamu sayangi". Fadil memeluk Aisyah, Aisyah mengeratkan pelukannya.


" aku bertahan demi dirimu mas yang menyimpan begitu banyak untuk Aisyah".


" Terima kasih sayang". Aisyah dan Fadil sudah tak canggung lagi untuk saling dekat, sedikit demi sedikit Aisyah memberikan rasa sayang untuk Fadil.


__


Barra sengaja tidak memberi kabar orang tua nya ataupun orang tua alira, tak ingin membuat keduanya khawatir. apalagi melihat alira nanti yang trauma dengan kejadian yang telah terjadi. alira membuka matanya, ada sosok Barra di sampingnya. alira bangun lalu ia mendelik takut langsung alira duduk dan meringkuk di pojok ranjang.


" jangan...." alira menggigit kuku di jari tangan nya.


" Ra ini mas Barra Ra, tenang ya kamu sudah aman tak terjadi apa-apa sama kamu Ra". ucap barra rasanya ia ingin menangis melihat alira seperti itu.


" alira takut...jangan sakiti alira".


" tidak sayang aku mas Barra suamimu". alira melihat Barra lekat, di ingatnya jika itu suaminya alira langsung mendekat memeluk barra.


" alira takut mas, dia nyakitin alira lagi".


" ngga sayang, ada mas kamu tenang ya". alira menangis di pelukan Barra.


" alira takut mas hiks..." barra mengusap kepala alira lalu menciumnya.


dokter Almira datang untuk memeriksa alira pasca sadar. Alira selalu melihat sosok siapapun menakutkan baginya.


" jangan sakiti alira ". lagi alira memeluk Barra kuat.


" sayang ini dokter Almira yang akan menyembuhkan mu. menurut ya supaya cepat sembuh lalu kita pulang ". alira melihat lekat sosok dokter almaira, dokter Almira tersenyum agar alira tidak takut. akhirnya alira mau di periksa olehnya.


" banyak istirahat minum obat, ingat saja saat senang bersama suami ya. lupakan semua kejadian yang mengerikan. kesembuhan ada pada dirimu sendiri, alira harus berusaha kuat ya untuk sembuh." ucap dokter Almira, alira hanya menoleh ke barra saat ini yang alira percaya hanya suaminya. barra mengangguk lalu alira tersenyum, senyuman pertama pasca sadar.

__ADS_1


__


__ADS_2