Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 76


__ADS_3

Fauzan berjalan mengantar Ratih pulang, memang tak jauh cuma bersebelahan namun sudah malam Fauzan hanya memastikan keamanan untuk Ratih saja. Diam seribu bahasa tanpa kata, keduanya kikuk bingung apa yang akan di bicarakan.


" emm,,, sudah lama kerja sama Bu alira." tanya Fauzan menghidupkan suasana.


" iya sebelum nya aku di supermarket karena alira hamil besar ustadz memintaku untuk menemani alira saat ia pergi."


" kayaknya dekat banget sama bu alira".


" alira temanku saat masih SMA, "


" oh, kelulusan tahun berapa emang."


" satu tahun yang lalu". Fauzan cukup kaget ternyata Alira seumuran dengan nya.


" oh benarkah jadi Bu alira masih muda sekali".


" yah begitulah sekarang 19 tahun".


" aku baru tau, dulu aku di pesantren jadi tak tau jika istri ustadz masih muda". Ratih hanya nyengir saja.


" kok kamu juga belum menikah seperti Bu alira".


" jodohnya belum ada". Ratih terkekeh di ikuti Fauzan.


" jika sudah ada mau menikah."


" ya mau, tapi aku mau kuliah dulu". Fauzan manggut-manggut ternyata Ratih ini orang yang gigih.


" baguslah".


" astaghfirullah kita kebablasan mas Fauzan". Fauzan mendelik soalnya ia tidak tau tempat tinggal Ratih.


" kok kebablasan maksudnya".


" kosan Ratih ada di sana ini kebablasan sampe perempatan." Ratih terkekeh saking asyiknya ngobrol ia lupa berhenti.


" ya salam itu tandanya kamu nyaman ngobrol sama aku Ratih." Ratih tersipu ia malu.


" ya udah yuk kita putar balik untung belum jauh sampe ke pelaminan bablasnya".


" apa mas ...".


" eh ngga yuk cepat udah malam, nanti kita di tangkap warga lagi malam-malam keluyuran ".


" Ratih begidik ia cepat kan jalannya."

__ADS_1


" eh Ratih kenapa jadi cepat jalannya".


" ngga ah ustadz nanti ke tangkep Ratih ngga mau ". Fauzan terkekeh padahal ia tadi hanya bercanda.


Setelah memastikan Ratih masuk ke dalam rumah Fauzan langsung balik lagi ke rumah barra mengambil motornya ia akan pulang ke pesantren. Fauzan masih tetap tinggal di pesantren jika tak mengantar barra Fauzan mengajar di pesantren nanti ustadz Ilyas.


___


Malam itu alira merasa resah perutnya terasa mulas dan itu lebih sering dari sebelumnya. alira balik ke kamar mandi berkali-kali serasa ingin di keluarkan tapi tidak bisa hanya terasa nyeri saja pada perutnya. Barra masih tertidur pulas ia tak merasakan ada pergerakan alira turun dari ranjang.


" kenapa mulasnya menjadi lebih sering apa aku mau melahirkan." gumam alira lirih tak ingin suaminya terbangun ia tau jika Barra sangat lelah.


alira terus berjalan kesana kemari sendirian perutnya masih saja terasa mulas. baru saja ujiannya selesai kemarin sesuai dengan doanya semoga melahirkan setelah ujian kuliahnya selesai. alira sudah tidak tahan lagi ia lalu duduk di ranjang di samping suaminya tertidur. melihat Barra yang sedang pulas ia tak tega membangunkannya. tapi apalah daya semakin ke sini alira semakin tak kuat lalu ia menggoyangkan tubuh Barra.


" mas bangun, mas,,, perut alira sakit".


" hemm,,, sayang masih malam ini tidur lagi aja." namun Barra tetap memejamkan mata. karena tak kuat tidak sengaja alira meremas lengan barra semakin kuat ia menahan rasa sakitnya. barra kesakitan ia langsung duduk terbangun.


" kamu kenapa sayang".


" perut ku sakit mas." barra mengucek matanya istri nya meringis.


" kamu melahirkan sayang" ucap Barra ia mengusap perut alira


" sakit mas." barra lalu loncat ia mabuk celana panjang dan baju kokonya.


Keringat sudah bercucuran di dahi alira, karena pengalaman pertama kedua nya sama-sama panik. Barra berlari keluar menyiapkan mobil terlebih dahulu lalu ia kembali ke kamar untuk menggendong alira di bawanya masuk ke mobil.


" sabar ya sayang sebentar lagi sampai ke rumah sakit." ucap Barra masih panik.


" jangan keluar di sini ya saliha." barra mengusap perut alira, karena sewaktu USG jenis kelamin bayi sudah di ketahui yaitu perempuan.


Sesampainya di rumah sakit barra menggendong alira meski tergopoh-gopoh ia berusaha kuat. untung ada suster jaga yang melintas malam itu, segera suster membawa ranjang mendekat agar alira bisa di letakkan di sana.


" tolong istri saya sus."


" iya pak".


" ada apa." tanya dokter yang berjaga malam itu.


" ada pasien yang mau melahirkan dok". dokter Azzam terbelalak ia tak biasa menolong orang melahirkan.


" ya Allah lalu bagaimana".


" masih saya periksa".

__ADS_1


" hubungi dokter Almira aku tak bisa usahakan yang lain jangan saya". ucap dokter azzam.


" bantu saya memasang infus dok suster yang lain sedang visit pasien saya hubungi dulu dokter Almira ". ucap suster Hana.


" sakit mas." barra terus mengusap perut alira sesekali ia mengusap keringat dari wajahnya.


" istighfar sayang berdzikir ya mas tuntun". barra terus melantunkan dzikir do telinga alira, alira pun mengikuti.


" sabar ya pak Bu sebentar lagi dokter Almira akan datang ".


" mas aku tak kuat".


" jangan bilang gitu sayang terus dzikir ya pasti kamu kuat ". tanpa sengaja Barra juga menitikkan air mata, istrinya begitu kesakitan andai saja bisa ia ingin sakitnya di pindahkan ke dirinya saja.


" mas..."


" ya mas di sini sabar ya sayang dzikir terus." alira terus mengikuti ucapan Barra di telinga nya.


Almira berjalan cukup cepat karena suster bilang jika urgen, jika ada yang melahirkan malam Almira tetap mengutamakan karena sesuai keinginan nya ia ingin menolong orang saat menjadi dokter dan itu ia terapkan hingga kini. Almira di antar oleh suami nya Mr Jack yang selalu sigap saat Almira akan pergi.


Azzam lalu keluar menemui Mr Jack, di dalam alira sedang berjuang dan Barra sendiri yang menunggu.


" saya periksa dulu ya Bu". Almira memeriksa sudah bukaan ke delapan.


" sebentar lagi Bu, saya siapkan persalinan nya ibu yang rileks tenang." kata Almira ia meminta dua suster untuk menemani nya.


" jaga malam nih." tanya Jack kepada azzam.


" iya, kamu tak ke LN".


" aku sudah jarang ke LN walaupun pergi tak akan lama ku usahakan juga tak menginap di sana sudah ada partner yang mengurus bisnis ku".


" makin sukses ya."


" Alhamdulillah ". ucap Mr Jack.


" Bagaimana kabar anak-anak ". tanya Mr.


" Alhamdulillah baik, kapan kamu mau nambah".


" satu cukup sih, tapi doakan saja semoga bisa nambah kayak kamu."


" aamiin ".


Di dalam alira belum nambah bukaanya barra tak pergi dari sisi alira sedikit pun, sampai ia tak sempat untuk menghubungi umi dan abinya. sebenarnya kediaman umi dan Abi lebih dekat dari rumah sakit, tapi bara tak sempat ia masih terus membisikkan dzikir untuk Alira. Sekuat apapun seseorang jika ia melihat orang yang di sayangi kesakitan ia juga akan rapuh. Tak terasa bukit air mata mengalir saja di pipi Barra, karena ini pengalaman pertama baginya.

__ADS_1


__


bersambung


__ADS_2