Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 39


__ADS_3

Alira masuk ke kamar terlebih dahulu untuk mengambil tas mempersiapkan diri akan jalan sama Barra. Barra mengikuti alira dan memeluk alira dari belakang sontak membuat alira pun kaget.


" mas bikin alira kaget saja."


" kapan kamu haid sayang perasaan tadi masih shalat subuh". tanya Barra.


" tadi mas sehabis alira selesai masak, maaf ya mas." barra memeluk alira dengan mata yang terpejam menikmati keadaan halal antara mereka.


" tak apa memang kodrat, semoga bulan depan ngga haid lagi ya."


" kok ngga haid berarti artinya alira hamil dong mas."


" itu yang mas mau sayang." ucap barra lalu membalikkan tubuh alira agar menghadap nya.


" kan alira akan masuk kuliah nanti mas."


" di kampus tak ada kok larangan orang hamil belajar". barra merapikan jilbab alira dengan menatap mata alira yang teduh itu.


" tapi apa tak menyusahkan nantinya".


" husssttt... kamu harus bersyukur banyak wanita di luaran sana yang menginginkan hamil. berfikir positif jika kamu bisa menjalani nya, mas akan bantu kuliahmu sayang tak akan mas biarkan begitu saja." barra meletakkan jari telunjuk nya ke bibir alira.


" terima kasih ya mas." Alira lalu memeluk Barra, barra senang kini alira sudah mulai nyaman berada di sisinya.


" yuk katanya mau keluar keburu siang nanti mau beli apa tadi mas lupa."


" ih mas". alira mencubit pinggang Barra.


Barra sengaja mengajak alira dengan naik mobil karena banyak barang yang akan ia beli terutama pesanan umi. Barra membukakan pintu mobil untuk Alira. Abi dan umi yang melihatnya dari dalam senang mereka senyum-senyum.


" jadi pingin jadi pengantin baru lagi umi bi".


" la apa ngga tiap hari kita ini pengantin baru mi, tiap hari umi manja gitu sama Abi." umi tersipu malu dengan singkat Abi mencium pipi umi meronalah wajah umi.


Sampailah di pusat perbelanjaan tak jauh dari tempat tinggal ustadz Ilyas hanya butuh waktu lima belas menit saja. Alira membeli barang-barang yang tadi di catat oleh umi tak lupa kebutuhan dia pun ia beli. barra membantu ia yang mendorong kereta belanjaan nya.

__ADS_1


" mas mau beli cemilan ngga, mau apa". tanya alira sembari ia masih memilih makanan kesukaan nya.


" kentang goreng, kuaci, kacang ya buat nonton bola sama Abi nanti malem".


" ustadz juga suka nonton bola". alira menoleh ke arah barra tak di sangkanya jika suaminya dan mertua nya suka juga nonton bola. Dengan background mereka sebagai seorang ustadz.


" ustadz juga manusia sayang, wajarkan jika suka nonton bola. Kegemaran laki-laki itu, mas juga suka main bola".


" benarkah ".


" iya apalagi golin gawang kamu". barra berbisik di telinga alira, alira langsung mencubit pinggang Barra. alira merona wajahnya ia malu, itulah alira meski gadis absurd ia juga punya sisi pemalu.


brugh...


" maaf...". ada seorang wanita yang menabrak alira ketika alira berjalan untuk mencari barang yang lain. Alira sedikit terjatuh ia oleng, dan seperti nya gadis itu sedikit berlari.


" kamu tak apa sayang". Barra langsung menolong Alira


" iya mas tak apa-apa, ke senggol dikit saja".


" Aisyah...kamu..." Barra pun terkejut.


" mas Barra, Maaf ya sudah menabrak mba nya". ucap Aisyah lalu tersenyum.


" tak apa mba saya baik-baik saja, bagaimana dengan mba nya". langsung alira menanyakan keadaan Aisyah.


" aku tak apa-apa, sedang belanja...". tanya Aisyah tanpa ia memperhatikan Barra beralih berbincang dengan alira.


" iya mba pesanan umi, di rumah sudah banyak yang habis."


" kenalin saya Aisyah teman mas Barra, dan Abi kami juga sahabatan".


" alira mba istri nya mas Barra ".


" senang berkenalan dengan mu maaf di acara kemarin saya buru-buru pulang karena ada urusan. Tak sempat menemui kalian, maaf saya terburu-buru lain waktu kita bisa ngobrol lagi. permisi..." Aisyah langsung pamit ia tak tahan melihat Barra dan alira dada nya semakin sesak, Aisyah masih menyimpan rasa untuk Barra.

__ADS_1


Barra hanya memandang Aisyah tanpa ia berkata-kata lagi, benar Aisyah lebih kurus dari sebelum mereka terakhir kali bertemu.


" mba Aisyah cantik ya mas, orangnya santun sekali masyaallah". ucap alira tak sengaja memang kepribadian Aisyah sangat menarik.


" i iya,,, yuk lanjutkan belanjanya keburu siang". alira dan Barra pun melanjutkan menyelesaikan belanjaan nya.


_


Sampai di rumah Aisyah langsung masuk ke dalam kamar, ia kunci agar tak ada yang tau jika ia merasakan sakit hatinya. Sakit yang ia torehkan sendiri, Aisyah duduk di belakang pintu dengan derai air mata rasanya sakit sekali melihat orang yang ia cintai bersama wanita lain.


" ya Allah ikhlaskan hamba atas takdirMu, hilangkan mas Barra dari pikiran ku. Aisyah tak berhak lagi atas mas Barra, Aisyah yang sudah menolaknya tumbuhkan iman di dalam hatiku agar cinta yang terlarang ini hilang terhapus lebur tanpa tersisa". Doa Aisyah lirih, barra adalah laki-laki yang ia sukai sejak duduk di bangku SMP. Cinta dalam diam yang ia simpan hingga bertahun-tahun, tapi ketika cinta itu bisa dengan mudah ia raih Allah memberikan ujian lain untuk Aisyah. begitu Allah sangat menyayangi Aisyah. Aisyah lalu tersenyum ia beranjak di ambilnya air wudhu agar hatinya lebih tenang.


Tangan Aisyah sudah berlumuran darah saat ia mengusap wajahnya untuk berwudhu, Aisyah terus berusaha menghilangkan darah yang mengucur dari hidungnya. ia tetap menyembunyikan penyakit nya kepada siapapun kecuali Salma sahabat nya.


Akhirnya darah itupun bisa berhenti Aisyah lega di ambilnya obat yang ia simpan dalam tas nya lalu Aisyah meminumnya. Aisyah kemudian merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.


Barra dan alira mampir dulu untuk makan bebek panggang. Barra memaksa alira untuk makan berdua. alira selalu tak enak ia takut jika uang Barra habis apalagi banyak sekali kebutuhan yang akan mereka butuhkan.


" mas tuh pingin makan bebek panggang di sini, apa kamu tak suka bebek panggang Ra." tanya Barra sednag menunggu pesanan nya.


" bukan gitu mas , pengeluaran kita sudah banyak dan ini tanggal tua pasti mas belum gajian dari mengajar". barra terkekeh di usapnya kepala alira.


" hanya karena belum gajian lantas kita tak akan jajan, tenang saja kemarin uang dari teman yang menyumbang saat acara resepsi masih banyak". alira menutup mulutnya tertawa.


" oh iya alira lupa, apa tak sebaiknya mas simpan saja kalau saja nanti kita ada kebutuhan mendesak".


" tenang sayang ATM ku akan mengucur terus tiada henti, insyaallah halal. sudah kalau makan jangan pikirin uangnya habis nikmatin ya sayang biar enak nanti juga di perut". barra sengaja memang tak memberitahu kan sebenarnya aset yang ia punya.


Alira senang sekali ia pun lahap sudah lama sekali ia tak makan bebek panggang, jika adiknya pulang dari pesantren saja Abah menyembelih bebek milik abah. Barra pun senang melihat alira makan dengan begitu lahap ia mengusap kepala alira dengan lembut. Benar kata abinya, doa yang di lantunkan setiap pagi itu manjur, setiap waktu cintanya akan selalu tumbuh.


__


bersambung


ramaikan komentar nya dung biar semangat buat update 😁.

__ADS_1


__ADS_2