
Waktu yang sudah di tentukan oleh kedua belah pihak sudah di sepakati. Hari ini pernikahan akan di laksanakan, Abah mengundang tetangga yang kanan kiri untuk menjadi saksi pernikahan alira. Teman-teman di sekolah nya pun yang mendengar kabar pernikahan alira dan Barra pun terkejut begitu juga dengan para guru.
Hanya Nita, Amel, serta Ratih saja yang tau kejadian sebenarnya mereka berjanji akan tutup rapat-rapat tentang masalah ini. Hari Minggu yang sudah mereka tentukan karena Barra libur tidak mengajar.
Barra dan keluarga nya dari arah rumah ustadz Yusuf sudah berdandan, umi merapikan jas yang di pakai oleh Barra. terlihat tampan sangat tampan, laki-laki yang akan menikahi alira hari ini. Alira pun di rias tipis dengan begitu cantik nya, teman-temannya yang mendampingi pun terpukau dengan kecantikan alira.
" MasyaAlloh lir kamu cantik sekali sih" ucap Amel merapikan jilbab alira.
" iya lir aku benar-benar pangling". ucap Nita Ikut merapikan kebaya alira.
" ya Allah inilah calon istri ustadz Barra aku ngga nyangka lir ternyata kamu, andai saja kemarin aku pasti aku senang lir". Ratih berfose untuk foto dengan pengantin.
" Rahasia jodoh itu tak ada yang tau Ratih, siapa sangka alira akan menjadi jodoh ustadz Barra".
" aku takut ...." ucap alira kemudian tangannya begitu dingin.
" senyum dong lir jangan begitu, kamu cemberut kelihatan banget sedihnya. Orang menikah itu harusnya bahagia nanti make up nya rusak loh".
" Kenapa harus aku sih, aku tak bisa bebas nongkrong dengan kalian lagi. hiks..." mata alira mulai berembun.
" tenang saja alira kita ini sahabat, kita yang akan ke rumahmu aku yakin ustadz Barra suami yang bijak kok". Amel mengusap punggung alira.
Mobil pengantin laki-laki sudah datang, semua menyambut nya meski pernikahan yang sederhana namun begitu khidmat apalagi pernikahan anak pertama dari ustadz Ilyas.
Pak penghulu sudah siap menunggu di depan meja yang akan di pakai untuk akad nikah. Barra cukup tegang tak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Semua orang menatapnya kini ia menjadi pusat perhatian semuanya. acara seserahan calon pengantin selesai, kini akad akan segera di laksanakan.
" Nak Barra sudah siap" tanya bapak penghulu memastikan.
" insyaAlloh siap pak". ucap Barra, pengantin wanita masih ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
" baik kita mulai ya".
Barra begitu gugup apalagi saat tangan Abah mulai menjabat tangan nya, kini tangannya dingin seperti membeku. Abah merasakan hal itu ia tersenyum.
Akad pun dimulai, dengan lantang barra mengucapkan ijab kabul, kini hatinya bergetar hebat setelah akad di ikrarkan. dengan satu tarikan nafas Barra bisa mengucapkan ijab kabul dengan lancar.
" Bagaimana saksi, sah"
" sah.. " Barra tak sengaja menitikkan air mata ia berjanji pada dirinya sendiri, inilah pilihan Allah alira kini sudah sah menjadi istrinya. ia akan berusaha mencintai alira sebisa mungkin, karena istri berhak mendapatkan cintanya.
" Alhamdulillah". doa lalu berkumandang pak penghulu ucapkan.
" Silahkan pengantin wanitanya sudha bisa di pertemukan di hadapan pengantin laki-laki, kalian sudah sah sekarang".
Amel dan Nita membawa alira keluar dari kamar pengantin, hati alira bergetar hebat saat keluar dari kamarnya. Di susul oleh umi juga istri dari ustadz Yusuf, kini alira di sandingkan dengan barra yang kini sudah sah menjadi suaminya.
" cium tangan nak, jangan lupa barra bacakan doa di kepala istri mu". alira pun dengan tangan yang bergetar Salim.
" Bismillahirrahmanirrahim, Allahhumma inni as'aluka mim khoiriha wa Khoiri ma. jabaltaha ' alaihi wa audzubika min syarriha wa syarrima jabaltaha alaihi".
setelah membacakan doa kemudian Barra mencium kening alira, alira memejamkan mata merasakan sentuhan pertama nya dari sang suami. Foto itu Amel ambil dan dikirimkan kepada pamannya yang tinggal di desa di mana menjadi saksi alira dan Barra akan menikah.
" ya Allah alira diam-diam menghanyutkan ia nikah duluan belum dapet ijazah sudah ijabsah duluan." ucap Kennu melihat alira kagum, alira terlihat sangat cantik barra pun pangling dengan sosok yang kini menjadi istrinya itu.
Tak ada acara apapun hanya akad dan makan antara keluarga, karena emak dan Abah tergolong keluarga yang minim jadi emak tak bikin acara. untuk resepsi nanti akan di adakan di rumahnya ustadz Ilyas.
" Barra alira, umi dan Abi pamit ya. umi tunggu kalian datang ke rumah". ucap umi ia memeluk barra bergantian juga memeluk alira.
" iya umi insyaAlloh setelah selesai anak-anak ujian barra akan pulang."
__ADS_1
Barra melepas kepergian orang tua nya, kini ia tinggal di rumah alira. tamu juga sudah banyak yang pulang namun barra masih berbincang dengan ustadz Yusuf juga warga. karena barra banyak mengenal warga di sini.
Alira menangis di pelukan Amel cukup lama saat Amel pamit untuk pulang. Nita dan Ratih pun mengusap punggung alira ia tau kesedihan alira, hal yang tidak di inginkan oleh alira meskipun suaminya adalah ustadz barra laki-laki yang banyak di kagumi kamu hawa.
" sudah lir jangan menangis ya, ". Amel melerai pelukan Alira.
" Kamu wajib bahagia alira, kami akan tetap selalu menemui mu". ucap Nita pilu melihat mata alira yang sejak tadi menangis.
" kok nangis sih alira, harusnya bahagia apalagi suamimu itu ustadz Barra ". kennu yang tak tau sebenarnya ikut bicara melihat alira menangis terus.
" kami pamit ya alira, ayo senyum jangan nangis lagi. kami masih teman-teman ku kita akan masih tetap selalu bersama." ucap Amel sembari tersenyum menguatkan Alira.
Alira masuk ke dalam kamar waktu sudah sore dan tamu juga sudah pulang semua, kini tinggal keluarga alira saja. Alira sudah bebersih berganti pakaian nya sebelum barra masuk ke kamar. tak lama barra pun masuk ke kamar ia begitu hati-hati takut alira kaget.
" Ra kamu sudah mandi ". ucap ustadz barra agar alira tidak tegang.
" sudah ustadz, jika ustadz mau mandi ini handuknya". kemudian alira memberikan handuk baru. Alira tak menoleh ke arah ustadz Barra sedikit pun antara malu dan takut.
" ya sudah saya mandi dulu". alira kemudian menyiapkan pakaian ganti milik barra ada sarung baju Koko dan peci karena sebentar lagi ashar.
Di rumah alira kamar mandi hanya satu dan letaknya ada di belakang. Barra sama sekali tidak keberatan dengan keadaan keluarga alira.
" maaf nak rumah emak kecil kamar mandinya cuma satu." ucap emak malu dengan menantunya.
" tak apa emak, Alhamdulillah bisa mandi ". barra tersenyum kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Abah menyikut tangan emak, setelah barra menjadi menantunya mereka jadi tambah segan malu dengan rumahnya yang kecil semua serba pas-pasan.
__
__ADS_1
bersambung