Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 45


__ADS_3

Ketika membuka mata alira tersenyum melihat Barra suaminya yang masih tertidur pulas, semalaman barra menunggu Alira. Alira sebenarnya sudah baikan namun Barra tak henti-hentinya memijit kepala alira. Alira merasa nyaman dengan setiap sentuhan Barra yang memanjakan nya.


" mas mau shalat malam tidak". bisik alira di telinga Barra. Barra hanya menggeliat saja, alira tertawa seakan suaminya itu terlihat sangat lucu.


" mas sudah jam empat bentar lagi subuh, mau shalat tahajud tidak mas." Barra justru menarik Alira di peluknya alira begitu erat bagaikan guling yang tak bernafas.


" mas..." alira memencet hidung barra sembari terkekeh.


" mas maunya makan kamu". suara Barra dengan mata masih terpejam ia begitu mengantuk.


" boleh mas, makan saja". Barra langsung saja menciumi alira hingga ke jenjang leher milik Alira membuat alira menggeliat tak henti-hentinya Barra melakukan nya.


" mas geli..." bulu-bulu halus yang ada di rahang Barra membuat alira geli.


" Belum sembuh hmmm..."


" sudah alira sudah tak pusing lagi".


" bukan itu tapi yang itu." barra melirik ke bawah, alira tersipu malu.


" insyaallah dua hari lagi mas, biasanya alira hanya lima hari".


" Alhamdulillah, ". ucap Barra bersemangat kemudian ia beranjak bangun.


" mas shalat dulu ya sayang, oh ya hari ini kita pulang ya packing pakaian nya". alira tersenyum dan mengangguk ia lalu keluar kamar ingin membuatkan kopi untuk Barra.


_


" Masak apa umi". tanya alira melihat mertuanya sibuk di dapur.


" sup ayam kampung sayang, sudah sembuh nak".


" Alhamdulillah sudah umi, maaf ya alira merepotkan". alira duduk lalu mulai membantu mertuanya mengupas bawang.


" merepotkan bagaimana, tidak sayang justru umi senang kalian di sini".


" tapi nanti barra izin mi mau pulang". ucap Barra masuk ke dapur.


" Kok cepet alira baru sembuh Lo".


" Kasihan umi anak-anak ngaji Barra tinggal sudha cukup lama, "

__ADS_1


" Kalau libur sering-sering menginap ke sini ya nak"


" insyaallah umi".


" oh ya alira, kamu jangan terlalu forsir banyak istirahat supaya ngga sakit. Sehat-sehat ya nak,"


" iya umi insyaallah, mas barra juga selalu menjaga alira. alira tak akan mudah sakit ".


" jika ada masalah hadapi dengan kepala dingin bicarakan baik-baik ya nak, berumah tangga itu pasti akan ada badai yang menerpa kapal kalian. tapi jika kalian terus menjaganya dengan kuat insyaallah kapal kalian tak akan pernah hancur." bahagianya alira mendapat nasehat dari sang mertua.


" Doakan barra dan alira ya umi".


" selalu sayang umi tak pernah lepas dari mendoakan kalian karena hanya itu yang bisa umi lakukan, bahagia atau tidak tergantung hati kalian untuk selalu bersyukur dengan kehidupan kalian". tak lama Abi datang ikut nimbrung ke dapur.


" ingat tak ada kesulitan yang tak ada jalan keluarnya ".


" iya Abi...".


" sudah matang belum umi, Abi laper sekali ". alira terkekeh melihat mertuanya manja.


" sebentar Abi, masih di buatkan sambalnya".


" cepat sedikit umi" umi geleng-geleng kepala memang Abi suka sekali menggoda umi.


__


" jaga alira ya nak". ucap umi.


" iya umi".


" perlakukan dia layaknya ratu". ucap Abi.


" iya Abi".


Motor sudah siap, barra lalu melajukan motornya dengan kecepatan sedang. alira dengan duduk tangannya melingkar ke pinggang Barra. Keindahan alam pun iri melihat mereka, pacaran setelah menikah yang indah.


" kenapa Barra tak beli mobil saja sih bi, kasihan alira di ajak panas-panasan. barra kan mampu dengan uangnya meskipun untuk beli jet pribadi ".


" umi, barra itu ingin hidup sederhana ia mau alira juga merasakan perjuangan dalam hidup mereka. Kemarin Abi sarankan ia untuk beli rumah tapi ngga mau juga, masih ingin ngontrak ingin berjuang bersama-sama dengan istrinya. bersyukur dong umi anak kita tak menggunakan uangnya semena-mena, nanti jika sudah butuh pasti barra akan beli. Sebagai orang tua kita wajib mendoakan saja umi, semoga anak kita samawa".


" aamiin..." ketika sudah melihat motor Barra tak terlihat keduanya masuk ke dalam. Abi sedang tak ada jadwal sengaja ia mengosongkan beberapa hari untuk bisa bersama barra.

__ADS_1


___


Aisyah meringis ketika obat di suntik kan ke dalam infusan nya, akan terasa ngilu masuk ke dalam tubuhnya. tulangnya berasa seakan patah. Aisyah belum di izinkan pulang oleh Fadil, kini Fadil sudah tau apa yang Aisyah derita.


" sakit, sabar ya Aisyah insyaallah kamu akan segera sembuh". ucap Fadil dengan setia mengurus Aisyah di rumah sakit.


" kapan aku bisa pulang dok".


" aku tetap temanmu jangan panggil aku dokter , rasanya ucapanmu itu tak pantas untuk ku."


" Lalu aku tetap panggil namamu tak pantas juga rasanya". Aisyah tersenyum.


" Tak apa aku suka nama Fadil keluar dari bibirmu, setelah kamu tak lemas lagi tekanan darah normal kamu bisa pulang". Fadil lalu duduk di samping Aisyah, Aisyah lalu mengalihkan pandangan nya takut bertatapan mata dengan fadil.


" Buat aku cepat pulang, aku harus menyelesaikan skripsi ku. aku harus cepat lulus sebelum aku pergi aku ingin melihat orang tua ku bangga".


" jangan terlalu pesimis begitu Aisyah, kamu harus optimis lekas sehat. Orang tuamu orang-orang yang menyayangi mu begitu ingin melihatmu sembuh".


tes... air mata menetes begitu saja tanpa Aisyah sadari, ia mengingat jika ia harus pergi meninggalkan orang-orang yang ia sayangi.


" maaf..." hanya kata itu yang lolos di bibir Aisyah.


" Kamu berjuang ya demi orang-orang yang kamu sayangi, kamu pasti bisa. demi barra saja kamu bisa memberi kebahagiaan untuk nya, masa untuk keluarga mu terutama orang tuamu kamu tak mau melakukan nya. itu namanya tak adil Aisyah". Aisyah mengerutkan keningnya, Fadil tau semua tentang nya meski ia tak cerita ke siapapun.


" maaf Fadil jangan bicarakan Barra lagi, ia sudah bahagia dengan istrinya ".


" kamu masih menyimpan rasa untuk nya, jangan di jawab aku tau jawabannya". Aisyah terdiam ia sungguh tak ingin membahas tentang Barra, rasanya hatinya sakit itu karena dirinya sendiri yang menolak barra.


" Semangat sehat ya Aisyah sore nanti kamu bisa pulang".


" makasih Fadil".


" sama-sama biarkan aku yang akan mengontrol mu terus Aisyah".


" maaf aku sudah bersama dokter Bilal".


" dokter Bilal tak begitu menguasai tentang penyakit mu, aku yang akan mengiringi mu sampai kamu sembuh". Aisyah hanya terdiam lalu Fadil pamit keluar ia akan visit ke pasien lainnya.


Aisyah berfikir dengan ucapan Fadil, apa dia masih mencintai Barra sudah beberapa waktu Aisyah melupakan barra laki-laki yang sejak lama mengisi hatinya. Namun semakin Aisyah melupakan semakin hadir barra dalam pikirannya membuat Aisyah sangat frustasi.


__

__ADS_1


bersambung


__ADS_2