
Makan malam pun tiba alira keluar kamar beserta Barra tadi memang umi melarang mereka keluar menyuruh mereka untuk istirahat, karena di luar masih sangat ramai. umi tak ingin alira lelah apalagi setelah perjalanan pasti capek, bentuk kasih sayang umi karena umi berharap alira bisa cepat memberinya cucu.
Abi sudah duduk di meja makan bersama adiknya Barra, umi masih menyiapkan. Barra menggandeng tangan alira saat keluar ia tau jika alira baru pertama kalinya datang ke rumah itu pasti alira bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Alira baru saja lulus SMA ia belum tau sepenuh nya bagaimana jika berada di rumah mertua. pernikahan nya yang begitu singkat membuat alira juga singkat dalam belajar. Ketika Barra ada di sekolah alira selalu membaca buku tentang adap dengan mertua juga suami dan lingkungan ia benar-benar ingin belajar. apalagi suaminya adalah seorang ustadz alira harus bisa memposisikan dirinya jika ia istri dari sang Ustadz.
Barra dan alira Salim, Abi menyambut nya dengan senyuman. Meskipun Abi belum tau bagaimana bisa Barra begitu cepat beralih dari Aisyah dan langsung menikahi alira dalam waktu secepat itu.
" Jangan sungkan alira, ini juga rumahmu nak makan yang banyak supaya sehat dan bisa cepat hamil". ucap umi tapi tatapan Abi tajam mengarah kepada umi kata-kata nya takut menyinggung perasaan alira. karena sejatinya pernikahan bukanlah soal anak, anak adalah bonus kita tidak tau Allah akan mentakdirkan kita seperti apa punya anak atau tidak.
" iya umi insyaallah, terima kasih".
" Umi tujuan pernikahan bukanlah mutlak untuk keturunan, anak itu bonus umi. Bersyukur kita yang di beri amanah bisa punya anak dan bersabar yang sedang menanti seorang anak. Allah itu tau mana yang terbaik untuk setiap hambanya, menua bersama pastinya beribadah sepanjang masa dengan pasangan halal ". ucap Abi menerangkan ia tak ingin alira tersinggung.
" iya maaf Abi, ". ucap umi.
Alira dan Barra tersenyum, di bawah meja Barra menautkan jemari nya di tangan Alira ia pegang erat semakin kuat. menyatakan jika Barra tak akan pernah berpaling apapun keadaannya.
" ayo di makan nak, begini masakan umi kamu harus sehat besok akan jadi ratu seharian ". Umi menyendokkan satu centong nasi ke piring Alira.
" jangan repot-repot umi, alira nanti bisa sendiri."
" ngga apa-apa, mertua juga boleh melayani menantu". umi terkekeh.
" jadi tak enak umi harusnya alira yang melakukan nya."
" udah ayo di makan jangan ngobrol terus kasihan nasinya lelah menunggu untuk di makan, lanjut ngobrolnya nanti saja". ucap Abi ia sudah mulai sangat lapar.
__ADS_1
Abi sudah mengambil jatah tiga hari libur untuk tidak mengisi kajian. hari ini, besok juga lusa.
" ini makanan kesukaan mu Barra". umi menyodorkan sup iga kesukaan Barra.
Alira baru tau jika makanan kesukaan Barra adalah sup iga. Alira hanya diam saja melihat Barra yang begitu lahap memakannya.
" ini makanan kesukaan mu alira". umi menyodorkan satu mangkuk opor ayam kesukaan Alira.
" umi tau kesukaan makanan alira, bagaimana bisa". tanya alira heran mereka baru saja kenal dan alira baru bicara langsung dengan mertuanya sekarang ini.
" Umi mu itu selangkah lebih depan, ia akan tau jika itu menyangkut keluarga nya. Makanya Abi tak berani umi akan lebih tau lebih dulu sebelum Abi melangkah" ucap Abi.
" Bukan begitu Abi semua itu ada caranya ngga harus sembunyi di belakang, umi tak pernah melarang Abi". kata umi, umi mengizinkan Abi jika mau menikah lagi tapi Abi tak akan bisa semakin hari bahkan cintanya terhadap sang istri selalu bertambah. Umi sangat pintar memberikan rasa nyaman untuk sang suami hingga sedikit pun Abi tak berpaling.
" Ngobrolnya nanti sayang, sekarang makan dulu. mas juga sudah sangat lapar, dari tadi mau keluar tak boleh sama umi sekedar cari makanan kecil saja". alira tersenyum barra akhir-akhir ini memang senang makan.
Sebelum Barra dan alira kemari umi menelepon ustadz Yusuf ia meminta memberi informasi tentang alira menantunya seperti makanan kesukaan nya. Emak dan Abah senang memberitahu hal itu, emak ingin menangis alira mendapat kan barra juga mertua yang begitu perhatian.
" Besok kamu akan di dandani sayang malam ini tidurnya jangan malam-malam ya biar tak pucat besok". ucap umi kepada alira yang membantu umi membereskan meja makan.
" iya umi". alira lalu tersenyum.
Abi dan Barra sedang berbincang di ruang tengah sebenarnya abinya ingin tau kenapa begitu cepat barra mempunyai keputusan menikahi alira sedangkan alira hanyalah gadis biasa. Berbeda dengan seorang Aisyah yang mempunyai kelebihan seperti lebih cantik, pintar juga saliha. Namun Abi urungkan ia harus percaya dengan pilihan Barra anaknya, alira juga tak terlalu buruk untuk jadi istrinya.
" Apa kamu benar sudah pindah ke kontrakan, kata paman mu Yusuf begitu." tanya Abi.
__ADS_1
" iya Abi, tak mungkin Barra tinggal di rumah paman Yusuf bersama alira. juga jika tinggal di rumah emak Abah barra tak akan bebas." barra nyengir.
" Ya memang benar keputusan mu untuk mandiri itu bagus, tapi kenapa hanya ngontrak kamu tak beli rumah saja sekitaran situ uangmu banyak Barra.". ucap Abi Barra mendapat warisan dari kakeknya Abah dari uminya, kebun sawit 50 hektar.
" tidak Abi, alira akan kaget dengan semuanya. Barra ingin kehidupan kami manis perlahan, barra dan alira berjuang demi kehidupan kami dari nol. uang yang kakek berikan biar barra simpan untuk kebutuhan mendesak saja".
" ya terserah kamu saja, alira wanita yang sederhana ".
" maafkan barra ya Bi, istri barra mungkin tak sesuai yang Abi harapkan".
" siapa bilang nak, Abi sayang dengan alira. Dia hanya butuh bimbingan dari mu Barra, jadikan ia istri saliha ajari dia pelan-pelan ". ucap Abi.
" makasih ya Abi ".
" seorang ustadz tak harus punya istri ustadzah, Allah sudah mengatur semuanya tentang pertemuan mu dengan alira. Terima dengan ikhlas ia terbaik menurut Allah, Abi juga menyayangi nya dan umi mu lihat tadi sangat sayang juga dengan alira".
" Abi dan umi memang orang tua barra yang terbaik".
" Abi lihat kamu sudah mencintai alira". tatap abinya tajam.
" Dengan perlahan cinta itu tumbuh Abi, barra mencintai alira dengan tulus".
" Bagus memang sebaiknya begitu, memberikan cinta sepenuhnya kepada yang sudah halal bagimu. Rindu juga kasih sayang untuk yang halal."
Abi berbincang dengan barra sedangkan alira juga berbincang dengan umi sembari mencuci piring. pelajaran berumah tangga sendiri membuat alira sedikit bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang biasanya ia sangat jarang lakukan ketika di rumah emak.
__ADS_1
__
bersambung...