
Salma sedih melihat Aisyah yang selalu kesakitan saat ia kambuh sakit leukimia yang menderanya kini semakin hari semakin tak baik. Berharap jika Aisyah mendapatkan kebahagiaan di akhir hidupnya. Aisyah pun belum mau kemoterapi entah apa yang ada di pikiran Aisyah.
Barra dan Alira selesai dalam urusan kampus nya, cepat karena ada beberapa temen Barra yang bekerja di sana hingga alira sangat mudah untuk mendaftar. Alira pun cukup kaget ketika besarnya biaya pendaftaran barra bayarkan.
" Mas dapet dari mana uang sebanyak itu mas, itu terlalu banyak lebih baik alira tidak perlu kuliah". ucap alira sebelum mereka sampai ke parkiran Barra mengajak alira duduk di bawah pohon sejenak.
" Itu tabungan ku sayang".
" Ini banyak sekali mas, alira jadi..." Barra lalu menggenggam tangan alira dengan lembut di kecupnya tangan itu, barra tau jika alira tak enak kepadanya.
" Sayang uang itu halal bukan uang dari umi dan Abi juga, kamu jangan khawatir ya sayang dan jangan merasa tak enak begitu ". genggaman Barra semakin erat.
" terima kasih ya mas".
" hmmm... nanti malam jangan lupa ya".
" ngga mas, malam Jum'at kan nanti malam."
" iya, sunah Rasul". alira mencubit pinggang Barra, barra pun terkekeh lalu barra mengajak alira untuk pulang.
__
Urusan di sekolah sudah selesai Barra dan alira akan pulang ke rumah Abi dan umi nya karena resepsi pernikahan akan di gelar. Semua persiapan di rumah itu sudah di urus oleh abinya. Rumah orang tua Barra sudah sangat ramai, di penuhi oleh sanak saudara dua hari lagi resepsi di gelar.
" Mas Barra Alira takut."
" takut kenapa sayang, umi dan Abi ku bukan orang jahat. Jangan takut ya, kita harus pulang ke sana bagaimana pun juga mereka orang tua ku dan mas Barra anaknya. mas tak ingin mengecewakan mereka sayang, dengan resepsi pernikahan kita akan di ketahui oleh banyak orang. ". Barra memeluk alira.
" iya mas, terima kasih "
" mas yang berterima kasih, meski pernikahan kita berawal dari sebuah insiden tapi mungkin inilah rencana Allah untuk mempersatukan kita. Dengan kamu yang tak mencintai ku..." alira lalu menutup mulut Barra ia menggeleng.
" Coba katakan jika kamu mencintai ku Ra, semenjak menikah mas belum pernah mendengar hal itu dari bibirmu. Kamu masih terlihat seperti terpaksa saja menikah denganku hingga kini." alira bersender di dada milik Barra.
__ADS_1
" Maaf ya mas, alira malu".
" kenapa harus malu kita ini suami istri harus saling terbuka ucapan cinta itu meskipun bagi semua orang terdengar sepele namun itu penting Ra. Tak hanya terbuka dalam hal itu saja." alira memukul lengan barra, barra pun terkekeh. Barra menatap mata alira erat ia ingin melihat tatapan di mata alira untuk mengetahui bagaimana perasaan alira terhadap nya.
" coba katakan untuk mas".
" alira mencinta mas barra." dengan sedikit terbata akhirnya pernyataan cinta itu keluar dari bibir alira juga. Barra tersenyum di usapnya kepala alira.
" Tak ada yang lebih indah selain dari lantunan suara merdu yang keluar dari bibirmu Ra, cinta ini tumbuh perlahan. ia tepat untuk sebuah hubungan yang halal. teruslah bersama ku hingga maut memisahkan kita Ra." Barra lalu tenggelam dalam rasa nikmat me***at bi**r alira yang begitu manis, alira pun memejamkan mata menikmati debaran jantung nya.
" Sudah yuk kita berangkat nanti keburu sore juga hujan, akhir-akhir ini kan hujan jika sore."
" iya mas" sebelum beranjak barra mengusap kepala alira lalu mengecupnya. Alira nampak bahagia barra memperlakukan nya dengan sangat baik.
Allah tidak menciptakan cinta untuk membuatmu pergi dariNya.
Maka temukan lah seseorang yang dapat membimbing mu untuk taat kepadaNya.
Mereka sudah sampai di halaman rumah milik orang tua barra, rumah yang lumayan besar tertata sangat rapi terdapat bunga di depan rumah. Ustadz Ilyas sangat mengagumi bunga-bunga nya, ia merawatnya dengan sangat baik. Alira mendongak menyusuri rumah barra yang menurutnya terlihat mewah.
Barra menggandeng alira agar ikut masuk ke rumahnya, alira dengan perasaan begitu takut. namun genggaman Barra seolah berkata jika semuanya akan baik-baik saja. Sungguh alira takut mengingat siapa dia hingga bisa menikah dengan Barra.
" assalamu'alaikum". ucap Barra..
" wa'alaikumsalam". jawab seseorang yang ada di dalam.
" MasyaAlloh barra sudah sampai nak." umi menyambut nya, barra langsung Salim begitu juga dengan alira. umi justru menarik Alira ke dalam pelukannya sejenak.
" Alhamdulillah mi jalanan tak macet kami bisa langsung kemari ".
" mau minum apa".
" tak usah mi barra mau istirahat dulu di kamar, tadi dari sekolah langsung kemari setelah menjemput alira di rumah "
__ADS_1
" Ya sudah bawa Alira istirahat dulu, bawa jusnya ke kamar alira juga pasti sudah sangat lelah". ucap umi kemudian...
Barra tau abinya tak di rumah pasti masih ada kajian, ustadz Ilyas memang sangat padat jadwalnya. Barra lalu membawa alira ke kamar nya setelah alira pamit dengan umi.
" istirahat dulu Ra, kamu lelahkan." alira mengangguk saja ia masih menyusuri kamar milik suaminya.
" kenapa hmmm... ayo istirahat nanti lagi saja melihat kamar mas barra."
" kamarnya rapi mas, "
" iya, umi selalu membersihkan nya meski aku tak ada di sini jadi jika mas pulang kamarnya langsung bisa di pakai. Di sini juga akan menjadi saksi bisu cinta kita berdua sayang, mas mencintai mu." wajah alira merona kini bara sangat sering mengatakan cinta untuk Alira.
" terima kasih mas". Barra menarik Alira ke dalam pelukannya mereka istirahat dulu.
Barra dan alira masih terus mengobrol karena hari sore mereka tidak tidur, canda tawa karena barra tak henti-hentinya membuat candaan. Tak sengeri yang alira bayangkan menikah dengan seorang ustadz, Barra bisa memposisikan dirinya sebagai seorang suami. Meskipun istrinya itu sangatlah muda tapi barra bisa bagaimana bersikap hingga membuat alira kini menjadi nyaman.
" mas Barra bagaimana jika nanti alira hamil saat kuliah". barra menoleh ke arah alira di telusuri nya wajah alira.
" kok malah liatnya gitu si mas, alira serius ". barra terkekeh.
" memang kenapa kalau kamu hamil, mas malah sangat senang sayang memang itu yang di harapkan pasangan ".
" tapi alira masih kuliah mas".
" tak apa kuliah tak ada larangan mahasiswi nya hamil, memang siapa yang buat kamu hamil". goda Barra.
" ih mas Barra..." alira malu ia lalu menenggelamkan tubuhnya dalam selimut. Barra tertawa melihat tingkah alira yang begitu malu, pikiran alira sudah mulai dewasa. Barra lalu menarik alira ke dalam pelukannya, cinta itu bahkan tumbuh bersemi setiap hari nya tanpa jeda.
__
bersambung
Kasih vote ya pembaca...
__ADS_1