
Tak ada yang tau takdir yang Allah tetapkan untuk diri kita, tak ada yang tau siapa yang tertulis di lauhul Mahfudz Nya. Bahkan sampai kapan kita akan menjalani kehidupan di dunia ini, semua sudah Allah gariskan. Jika tidak di takdir kan untuk mu tidak akan pernah akan menjadi milikmu.
Mobil Abi Zaky sudah sampai di depan rumah sakit, langsung saja Abi gendong sendiri membawa masuk ke dalam. para suster berlari membawakan ranjang agar bisa menopang tubuh Aisyah yang terkulai lemas. Umi masih saja menangis melihat Aisyah yang sama sekali tak berdayan apalagi ada darah yang berlumuran di lubang hidung nya.
" tolong anak saya sus".
" iya pak Bu tolong tunggu di luar ya akan kami periksa dengan baik.". ucap suster lalu menutup pintu di UGD tersebut.
" ada apa sus". dokter mengambil snelinya lalu ia periksa pasien.
" belum tau penyebab nya dok, pasien mengalami perdarahan pada hidung nya."
" siapkan obat suntikan untuk mengehentikan perdarahan nya ".
" baik dok".
" Aisyah,,,," Fadil terkejut melihat yang ada di depan matanya adalah Aisyah, merupakan teman nya saat di sekolah.
" Cepat sus kita lakukan penanganan ". ucap Fadil segera ketika ia tau jika yang ada di depan matanya adalah Aisyah.
" baik dok". suster pun sedikit berlari ketika dokter Fadil memerintah dengan begitu tergesa-gesa.
" apa yang terjadi padamu Aisyah ". ucap Fadil perlahan memeriksa keadaan Aisyah.
Malam itu kebetulan Fadil sedang menjadi dokter jaga di rumah sakit Azizah di mana itu letak praktek nya sekarang. Fadil langsung pulang ke Indonesia setelah ia selesai dengan pendidikan nya dan rumah sakit Azizah adalah rumah sakit Pertama yang memintaku bertugas. Dari diagnosa Fadil sudah tau jika Aisyah kemungkinan besar mengidap leukimia.
" ya Allah Aisyah." ucapnya sendu.
" kamu harus sembuh Aisyah tak boleh sakit." ucapnya sembari mengusap air mata yang berembun.
Sekitar tiga puluh menit Fadil sudah memberi suntikan pada infus Aisyah. Darah yang mengalir pada hidungnya sudah berhenti, Fadil pun lega. ia menatap Aisyah lekat tak di sangkanya jika Aisyah sakit separah ini. Fadil lalu keluar untuk mengabarkan pada keluarga nya, jika Aisyah harus di rawat terlebih dahulu.
" Nak Fadil". Abi terkejut ia menoleh kepada umi tak di sangka nya dokter malem ini adalah Fadil.
" assalamu'alaikum umi, Abi." Fadil kemungkinan Salim.
" wa'alaikumsalam nak, kamu dokter yang jaga malam ini." tanya umi terkejut.
__ADS_1
" iya umi, Fadil baru di tugaskan di sini dua Minggu yang lalu".
" bagaimana keadaan Aisyah nak". tanya Abi yang penasaran tak ingin membicarakan hal lain dulu.
" semenjak kapan Aisyah mengalami sakit ini Abi." Abi menoleh kepada umi mereka benar-benar tidak tau.
" Sakit, Aisyah sakit apa kami tak tau nak selama ini ia baik-baik saja." ucap Abi bingung dengan pertanyaan Fadil yang memburu.
" iya umi besok akan keluar hasilnya, umi tenang ya Aisyah untuk sementara supaya di rawat dulu di sini. apa Aisyah tak pernah mengeluh apapun tentang keadaan nya, pusing atau gimana umi". tanya Fadil pasal nya sakit Aisyah ini sudah tergolong lumayan lama.
" tidak nak sama sekali tidak aisyah selalu menunjukkan sikap energik ". ucap umi .
" hanya saja Abi akhir-akhir ini curiga dia yang semakin kurus ". kata Abi sendu, seperti uminya praduganya.
" astaghfirullah Abi, apakah ini alasan Aisyah mengembalikan khitbah nya Barra ". umi langsung mengingat nya.
" apa umi maksud nya, khitbah Barra. barra sudah menikah kan."
" iya nak sebelum menikah Barra mengkhitbah Aisyah, dan Aisyah sudah menerima nya namun setelah pernikahan itu akan dekat untuk menentukan hari Aisyah menolak ia mengembalikan khitbah."
" lalu Aisyah memberi alasan apa umi".
" astaghfirullah bisa jadi itu alasan kuat Aisyah menolak menikah dengan barra, sejak dulu padahal Aisyah sangat mengagumi Barra. Aisyah mencintai barra sepenuhnya, Fadil tadi bertemu barra terkejut saja melihat bukan Aisyah yang ia gandeng." jelas Fadil mengingat pertemuan nya tadi siang dengan Barra.
" iya nak setelah Aisyah menolak kemudian Barra menikah dengan salah satu murid nya". kata Abi agar jelas Fadil tak menyalahkan siapapun.
" pantas saja istri barra masih sangat muda."
" Tolong sembuhkan Aisyah nak". pinta umi sedih.
" insyaallah Fadil akan melakukan yang terbaik umi, sebaiknya umi juga istirahat supaya besok lebih segar. Aisyah sudah saya kasih obat tidur dosis rendah supaya ia bisa beristirahat besok pagi ia akan siuman."
Umi dan Abi Zaky malam ini akan menginap di rumah sakit hingga menunggu hasil tes yang sengaja Fadil lakukan.
'jadi tak ada yang tau tentang penyakit Aisyah termasuk barra juga orang tuanya, sekuat itukah kamu Aisyah '. batin Barra.
___
__ADS_1
Alira mengigau saat tidur malam, ia memanggil nama Barra terus namun matanya masih terpejam. Barra terbangun ketika ia mendengar suara alira yang mengigau memanggil namanya terus.
" Ra kenapa, bangun Ra". barra menggoyang kan tubuh alira tapi alira tetap mengigau.
" astaghfirullah badanmu panas Ra". Barra langsung beranjak bangun di carinya umi yang masih tidur di kamarnya.
" ada apa Barra kamu kok panik".
" alira badannya panas umi". Umi dan Abi Ilyas langsung terbangun juga ikut panik.
" innalilahi umi siapkan kompres dan obat kamu kembali ke kamar jaga alira." barra pun mengangguk ia lalu kembali ke kamar untuk membangun kan alira.
" Bangun sayang, Ra minum obat dulu". alira pun terbangun ia mengerjapkan matanya berasa pusing kepalanya.
" mas kepala alira sakit."
" iya bangun minum obat dulu ya sayang nanti istirahat lagi". Barra membantu alira duduk agar meminum obat, tak lama umi datang membawa obat juga kompres untuk menurunkan panas alira.
" Makan rotinya sedikit dulu nak lalu minum obat ya, sepertinya kamu kelelahan ". umi memegang dahi alira memeriksa, alira mengangguk kepalanya berasa ngenyut.
" Kamu mengigau tadi Ra, badanmu panas banget nanti ke dokter ya." alira menggeleng.
" kenapa biar lekas sehat". pinta barra istrinya tetap saja menggeleng.
" alira ngga mau di suntik mas". alira memang sejak dulu takut dengan jarum suntik, saat imunisasi di sekolah saja butuh emak dan abahnya datang ke sekolah.
" Ke dokter itu ngga harus di suntik sayang, periksa saja biar demamnya lekas turun". alira tetap menggeleng ia tak mau.
" ya sudah nak habis minum obat langsung istirahat, biar barra yang mengompres jika demam nya besok pagi turun kamu tak perlu ke rumah sakit". alira mengangguk umi keluar kamar, barra membantu alira untuk berbaring lagi.
" maafin mas ya, pastinya mas yang bikin kamu lelah. setelah acara resepsi malah mas ajak jalan-jalan"
" tapi alira suka mas bisa jalan-jalan".
" iya besok lagi kalau sudah sehat kita jalan-jalan. istirahat gih, biar besok tak di suntik". Alira cemberut ia mengerucut kan bibirnya, membuat barra terkekeh tak tau istrinya yang dulu ia kenal absurd ternyata takut sama jarum suntik.
_____
__ADS_1
bersambung