Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 52


__ADS_3

Alira tak sengaja meneteskan air mata lalu ia pergi menjauh namun naas handphone yang alira pegang terjatuh dan itu terdengar oleh barra dan Fadil. Barra menoleh ia melihat alira yang akan keluar ruangan, dengan air mata yang menetes tanpa sengaja


" Alira, sayang..." panggil barra, alira tetap berjalan menjauh dari ruangan itu. Barra berlari mengejar alira yang berjalan sedikit cepat. alira mengusap air mata nya yang jatuh ia membodohi dirinya kenapa air mata itu harus jatuh. alira lalu duduk di taman rumah sakit ia tak kuat untuk berjalan lagi kepalanya pusing ingin pingsan rasanya.


Barra mendekati ia duduk di samping alira di pegang nya tangan alira yang dingin. alira masih berusaha mengontrol dirinya tak ingin menangis di depan Barra. Di peluknya alira ke dalam pelukan Barra ia tau istrinya sedang menangis.


" maafkan mas , mas tak bilang padamu jika ke sini. maaf". ucap Barra sembari masih dalam pelukan Alira.


" tidak apa-apa mas, alira yang salah. alira masuk dalam kehidupan mas barra tanpa permisi, maafkan alira mas".


" tidak sayang, kamu tidak bersalah semua takdir. mas ikhlas sangat ikhlas karena mas sangat mencintaimu." barra tak ingin melepas pelukannya kepada alira ia tak peduli meski ada mata yang memandang ke arah mereka.


" Mba Aisyah butuh mas Barra, ia lebih membutuhkan mas Barra dari pada alira".


" Jika kamu mencintai ku kamu pasti membutuhkan ku Ra, katakan padaku jika kamu memang tak membutuhkan ku." ucap Barra membalik keadaan.


" alira sehat mas berbeda dengan mba Aisyah, mba Aisyah sangat membutuhkan mas barra. mas lihat tadi mendengar ucapan mu mba Aisyah langsung merespon". ucap Alira melerai pelukan Barra.


" mas tau itu sayang tapi untuk hati ini tidak aku sudah mengganti nya penuh dengan dirimu". kata barra memegang dadanya.


Alira memegang tangan Barra di kecupnya tangan itu hingga beberapa kali namun perasaan barra merasa sangat tak enak. Barra lalu mengecup kepala alira dalam.


" mas kamu mencintai ku".


" Sangat aku mencintaimu Ra".


" mas tau yang di lakukan mba Aisyah, ia menolak khitbah mu karena ia tak mau mas barra merasakan kehilangan dirinya. mba Aisyah ingin mas barra bahagia karena mba Aisyah mencintai mas Barra". alira terdiam begitupun Barra ia tak tau apa maksud alira mengatakan seperti itu.


" Mas jika mas barra mencintai alira, biarkan alira bahagia melihat mas Barra bahagia". ucap Alira kemudian.

__ADS_1


" aku bahagia Ra karena ada di samping mu aku tak butuh orang lain lagi, Aisyah hanya masa lalu dalam hidupku". Dada Barra pun merasa sesak.


" mas, alira tak ingin di bilang egois tak berperikemanusiaan, mba Aisyah sekarat mas dan ia membutuhkan mas Barra ". suara alira meninggi lalu ia mengontrol lagi emosinya.


" ada dokter yang bisa menyembuhkan nya Ra , aku hanya membantu nya agar ia sadar".


" mas tak akan bisa maksimal jika tak menjadi muhrimnya ".


" apa maksudmu Ra."


" Nikahi mba Aisyah mas, mas Barra bisa merawat mba Aisyah tanpa ada penghalang tanpa takut akan dosa. mba Aisyah butuh mas Barra ".


" ya Allah Ra kenapa kamu berpikiran seperti itu, aku sungguh tak siap. tak pernah ada di pikiran ku untuk menikah lagi aku sudah punya kamu wanita yang aku cintai. Aku lebih tak akan sanggup kehilangan mu Ra." ucap barra memegang erat jemari alira.


" tapi mas apa kita terlalu egois membiarkan orang yang sekarat ada di depan mata dan kita biarkan begitu saja, itu terlalu jahat mas". Barra mengehal nafas pelan, ia tau istrinya punya hati yang lemah selalu kasihan melihat seseorang yang memang butuh bantuan.


" Ra aku tak mau kehilangan mu Ra, menikahi Aisyah bukan jalan yang terbaik untuk kita."


" Dalam Islam memang boleh menikah lebih dari satu istri Ra bahkan hingga empat, tapi aku tak mau itu terjadi padaku. aku tak akan bisa berlaku adil Ra aku tak sanggup Ra, bagiku cukup satu saja. Satu saja aku belum bisa membahagiakan mu Ra. Bagiku apa yang aku ingin kan semua sudah ada pada dirimu Ra aku tak butuh orang lain lagi. Cukup kamu Alira Zahir orang yang aku cintai". Barra mengusap kepala alira lembut. Alira pun terisak ia meletakkan kepalanya di dada milik suaminya kemudian barra merangkulnya.


" Lalu bagaimana dengan mba Aisyah mas".


" Aisyah sudah ada yang mengurus nya, ada dokter yang terus mengawasi nya bahkan dokter Fadil 24 jam setiap hari mengawasi Aisyah". Alira memang tak tau siapa itu Fadil, hubungan nya dengan Aisyah.


" maaf mas tadi tak bilang padamu jika ke sini, mas di minta Fadil untuk membantu Aisyah hanya itu saja. mas hanya tak ingin mengganggu kebersamaan mu dengan temanmu ternyata Allah menggerakkan hatimu untuk melihat ku ada di sini."


" sudah makan hmmm ... " barra mengalihkan pembicaraan tak ingin ia berlarut.


" sudah tadi di kafe."

__ADS_1


" pulang yuk". barra berdiri di sodorkan nya tangan agar mereka saling berpegangan. alira kemudian ia meraih tangan barra suaminya.


___


Fadil kembali memeriksa Aisyah, sudah ada perubahan tapi ia tak bisa di paksa untuk langsung sadar begitu saja. esok di mintanya barra kembali untuk ke sini lagi, berharap keadaan Aisyah esok sudah stabil.


" Bagaimana tadi barra sudah ke sini." tanya dokter Bilal yang baru datang untuk visit.


" iya, ia ke sini langsung ada respon Aisyah mengeluarkan air matanya"


" Alhamdulillah, bagus kalau begitu besok kita coba lagi."


" Tunggu lebih stabil baru kita bisa coba lagi memanggil Barra ".


" baiklah terima kasih ya meski ia wanita yang pernah menolak mu tapi kamu merawat nya dengan baik, dokter profesional ".


" ah dokter Bilal bisa saja, cinta tak harus memiliki dok. yang ku lakukan murni karena kemanusiaan dan memang kalau di tanya soal cinta hingga detik ini cinta itu masih ada.".


" semoga kalian berjodoh belum terlambat ".


" aamiin, namun sayang Barra yang masih ada di hatinya ".


" Jangan mundur dong dokter, ngga ada yang tau skenario Allah selanjutnya ". Fadil mengangguk ada dorongan semangat dalam hatinya terlebih untuk membuat Aisyah bisa sembuh.


Kembali lagi Aisyah mengucapkan nama Barra lagi, Abi dan uminya meneteskan air mata sedih.


" nak bangunlah katakan kenapa kamu selalu menyebut nama barra, Barra sudah punya istri nak". ucap Abi Zaky sedih.


" sudah abi jangan di paksa dulu, insyaallah Aisyah akan segera sadar". kata Fadil lalu ia pamit keluar sebentar untuk ke ruangannya, hatinya terasa perih saat Aisyah selalu menyebut nama Barra.

__ADS_1


___


bersambung...


__ADS_2