Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 50


__ADS_3

Malam itu alira tak ingin mengingat lagi ucapan Salma karena Barra membawanya dalam puncak kenikmatan. tak mungkin alira akan menolaknya karena alira begitu telah mencintai Barra teramat sangat. Sebenarnya Barra tau kegelisahan alira, takut jika ia akan di tinggalkan mengingat aisyah wanita yang lebih dari segalanya dari nya.


Barra memeluk alira mencium puncak kepalanya berkali-kali, barra memperlakukan nya dengan sangat lembut. Malam itu ia jadikan malam yang indah untuk kesekian kalinya.


" Langsung tidur jika lelah". ucap Barra ia mengeratkan pelukannya.


" iya mas." alira pun memposisikan tubuhnya dalam pelukan Barra.


Setelah alira terlihat begitu pulas tertidur Barra bangun, di letakkan nya guling di samping alira agar kehangatan alira tetap terjaga. Barra bangun seperti alira ia pun gelisah, meski cinta itu sudah mulai hilang namun ketika melihat Aisyah rasa tak tega itu ada. Barra mandi lalu ia berwudhu dan memakai pakaian terbaik mengahadapNya. Di bentangkan nya sajadah yang akan menemaninya malam ini.


" ya Allah skenario Mu begitu indah hingga aku tak bisa menebaknya, antara Aisyah dan alira aku jelas memilih istriku karena dia seseorang yang halal bagiku dan Engkau sendiri yang langsung memilihkan nya untukku. Berilah kemantapan hati untukku dan alira untuk terus mengarungi rumah tangga ini dengan kebahagiaan. Hamba tau ya Allah ini adalah ujian dalam rumah tangga kami, kuatkan kami dan berikan jalan keluar terbaik menurut Mu". doa Barra dalam shalat malamnya. Di ambilnya mushaf yang bisa membuat hatinya kembali tenang ia membaca hingga satu juz.


Karena sudah begitu mengantuk kemudian Barra menutupnya lalu ikut bergabung kembali memeluk istrinya dalam tidur. Di ciumnya puncak kepala alira kembali, di sisirnya rambut alira dengan jemarinya.


" Mas mencintai mu Ra, cinta ini tulus dari hati mas". Kemudian kembali barra memeluk erat alira dan ia terlelap dalam kehangatan di bawah selimut yang sama.


__


Alira mengerjap saat suara adzan terdengar, di lihatnya Barra yang masih terlelap. Alira pun heran tak biasanya Barra akan bangun terlambat meskipun mereka melewati malamnya Barra akan bangun untuk shalat malam.


" mas bangun sudah adzan". dengan pelan alira membangunkan Barra.


" hmmm...." barra justru menarik Alira ke dalam pelukannya.


" Subuh mas bangun nanti ketinggalan ". barra mengernyitkan dahinya perlahan ia membuka mata, di sungging kan senyum manisnya menyambut istri tercintanya itu.


" jam berapa sayang."


" Adzan subuh mas sudah pagi, ". Barra lalu duduk.


" Mandi sayang pakai air hangat". tanya Barra.


" Iya " alira mengangguk malam itu memang begitu dingin.


Barra menyiapkan air hangat untuk alira terlebih dahulu sebelum ia ambil air wudhu untuk ke masjid.


" mas ngga mandi." tanya alira melihat suaminya langsung wudhu dan berpakaian yang biasa ia kenakan ke masjid.


" semalam mas udah mandi". ucap Barra tersenyum.

__ADS_1


" kok ngga bangunkan Alira sih mas". alira cemberut.


" Maaf kamu tidur kelihatan lelah sekali sayang jadi mas langsung mandi sendiri".


" mas ngga adil".


" maaf, maaf sayang ... lain kali insyaAlloh ngga. Mandi gi mas ke masjid dulu ya". alira hanya mengangguk saja.


___


Fadil menggelengkan kepala saat memeriksa Aisyah yang makin hari semakin turun saja kesehatan nya. Aisyah tak sadarkan diri semenjak itu, sudah sampai pengobatan termahal Fadil berikan namun Aisyah tetap belum siuman. Tubuhnya makin kurus dan melemah, miris sekali hanya nama Barra yang keluar dari mulut Aisyah.


" Semakin hari semakin menurun saja keadaan nya". ucap Fadil saat Bilal masuk ikut memeriksa Aisyah.


" astaghfirullah lalu apa yang akan kita lakukan Fadil".


" entahlah aku bingung, Aisyah seperti tak punya semangat untuk sembuh." Fadil mengusap wajahnya dengan kasar.


" apa dia masih terus memanggil nama Barra".


" iya, saat sedikit sadar hanya nama Barra yang keluar dari mulutnya, matanya pun masih terpejam".


" Dari kemarin sebenarnya aku ingin tapi aku tak tega dengan istrinya melihat suaminya di butuhkan wanita lain." kata Fadil ia masih memeriksa infusan Aisyah.


" Kita bicara secara diam temui dia saat barra masih di madrasah, istrinya tak akan tau semoga semuanya bisa aman". terang Bilal.


" apa dokter yakin".


" Aku juga tak tau dokter fadil, hanya itu yang mungkin bisa kita lakukan. Dari kemarin obat terbaik sudah kita berikan namun Aisyah masih saja tetap tak ada perubahan." Bilal pun ikut resah dia sebagai seorang dokter juga saudara dari Aisyah jika tak bisa menyelamatkan keponakan nya itu akan sangat merasa bersalah.


" Baiklah saya akan coba temui Barra di madrasah nya". Fadil pun bergegas siap-siap untuk menemui barra.


" Semoga saja Barra ada di madrasah saat ini". gumam Fadil ia mulai melajukan kendaraannya. Hari itu jam jaganya Bilal hingga Fadil bisa leluasa keluar. Keluarga Aisyah hanya bisa meratapi kesedihan melihat Aisyah belum sadarkan diri.


__


Barra bersiap untuk mengajar juga alira pergi ke kampus. Pagi itu mereka sarapan bersama seperti biasa namun sarapan roti tawar dan segelas susu saja. alira merasa malas masak begitu juga dengan Barra, alira tak semangat jika melihat nasi.


" Sayang nanti hubungi mas ya saat pulang". ucap Barra.

__ADS_1


" mas boleh tidak alira pergi sama Amel, mau ke kafe ". alira lirih takut Barra tak mengizinkan ia di ajak oleh Amel Nita dan yang lainnya teman semasa SMA nya.


" emmm... ya sudah tak apa tapi jangan sampai sore pulangnya dan jangan lupa makan siang nanti." ucap Barra alira senang langsung reflek mencium kilat pipi Barra. Barra pun kaget langsung mendelik.


" makasih ya mas." alira senang, barra juga senang melihat alira tertawa girang.


" sama-sama, lagi dong masa dikit amat. mood booster mas pagi ini". Barra cemberut, kemudian alira melakukan nya lagi. alira terkekeh di ikuti Barra.


Mereka berangkat bersama seperti biasa alira di antar barra terlebih dahulu, jika Barra bisa tak akan di biarkan istrinya sendiri berangkat ke kampus juga pulang. Alira pamit Salim lalu masuk ke kampus.


Di lihatnya oleh Fadil barra masuk ke madrasah, dengan sedikit berlari Fadil menyusul Barra. Sampai di parkiran Barra meletakkan motornya terlebih dahulu.


" Barra,,,." Fadil menoleh ketika suara Fadil memanggil.


" Fadil kamu ke sini ada perlu dengan siapa." tanya Barra heran.


" Sama kamu, bisa kita bicara sebentar". barra melihat jam tangannya, masih ada waktu sepuluh menit.


" maaf aku tak bisa lama sepuluh menit ya."


" tak apa hanya sebentar, Aisyah masih belum siuman barra dan dia selalu memanggil namamu." Barra terkejut rupanya Aisyah belum sadar.


" lalu apa". tanya Barra.


" Ku mohon datanglah beri ia semangat untuk sembuh, suara mu akan di dengarnya".


" tapi aku...".


" datanglah sekali saja ku mohon...". pinta Fadil. Barra berfikir tak mungkin ia datang ke sana takut jika istri nya salah sangka. Lalu barra ingat jika alira akan pergi bersama temannya.


" baiklah aku akan datang setelah aku mengajar."


" terima kasih barra, terima kasih banyak aku tunggu semoga dengan mendengar suaramu Aisyah bisa sadar." Barra mendesah kali ini ia tak memberitahu alira jika ia menemui Aisyah. Takut saja jika alira semakin merasa bersalah atas pernikahan yang begitu terjadi. Fadil lalu pamit dan barra masuk ke sekolah.


__


bersambung


jangan lupa beri hadiah dan komentar terbaik beri othor semangat nulissss...

__ADS_1


__ADS_2