
Alira sudah di nyatakan stabil keadaan nya, meski memang masih bagi alira untuk melupakan semua kejadian yang telah terjadi. selama satu minggu ini barra sengaja mengambil izin untuk menemani alira saja.
Barra sudah mengemas semua barang untuk pulang, sengaja kedua orang tua mereka tak di beri kabar agar tak khawatir. barra mendorong kursi roda alira hingga ke mobil, di gendongnya alira ke dalam mobil.
" mas alira bisa jalan sendiri". alira malu semua mata memandang nya, kenapa tidak ustadz Barra memang sudah cukup terkenal di kalangan masyarakat.
" tidak apa-apa aku tak mau kamu jalan dalam keadaan sakit". alira tersenyum perhatian sekali suaminya. tak pernah terbersit sekalipun dalam pikirannya akan punya suami seperti ustadz Barra.
" mas kita pulang ke mana."
" ya pulang ke rumah kita dong sayang, emang mau ke mana. ke rumah Abah atau Abi". tanya Barra.
" tidak mas, alira tak mau mereka tau dengan kejadian alira yang sebenarnya. tapi alira juga tak mau pulang ke kontrakan lagi mas, alira masih takut". barra mengusap kepala alira sembari fokus menyetir.
" Aldo sudha minta maaf sayang, ia sudah bertaubat doakan saja. Hilangkan rasa khawatir mu jangan terlalu berlebihan kita lawan bersama ya". ucap Barra.
" makasih ya mas sudah mau merawat alira".
" sudah menjadi tugas mas Sebagai suamimu ". kata Barra.
Mobil sampai di depan rumah dengan dua lantai cukup besar di komplek dekat sekali dengan madrasah. saat barra mencari kebetulan orangnya menjual karena akan pindah ke rumah orang tua nya. langsung saja barra bayar tanpa berfikir panjang, dari situ Barra juga lebih mudah untuk pulang karena dekat sekali.
" mas rumah siapa ini".
" rumah kita sayang, kita pulang ke rumah". alira mengerutkan keningnya.
" mas alira ngga mau jika ini dibeli dengan cara berhutang".
" kan sudah mas katakan jika kita tak akan pernah berhutang sayang ini mas beli cash dengan uang yang halal". jelas Barra.
" tapi mas...".
" kan mas sudah cerita jika mas punya kebun sawit pemberian kakek, luasnya 50 hektar". alira mangap ia seperti tak percaya dengan luasnya yang barra miliki.
" mas jangan ngadi-ngadi ya, itu luas banget hilang nol nya mungkin itu".
" mas ngga bercanda sayang ini benar, kakek mewariskan nya hanya untuk ku saja".
" lalu cucu yang lain".
" sudah di bagikan sesuai porsinya kakek memberi ku bukan tanpa alasan, tapi karena uangnya mas kelola untuk berzakat dan yang lainnya. kakek sejak dulu bercita-cita punya pesantren namun kakek telah tiada sebelum hal itu terwujud maka sebelum kakek meninggal tanah yang luas itu kakek wariskan pada mas. doakan ya keinginan kakek segera terwujud."
" aamiin ya rabbal alamin, kenapa belum mas wujudkan segera".
__ADS_1
" mas baru saja pulang dari pesantren dan hal ini masih Abi musyawarah kan dengan teman-teman nya".
" masyaallah semoga menjadi amal jariah kakek ya mas".
" aamiin". barra menuntun alira untuk masuk ke dalam rumah.
Saat pintu di buka bertaburan kertas kecil berwarna kejutan untuk alira.
" surprise..." ucap teman-teman nya menyambut alira.
" kalian..." alira terkejut ia langsung memeluk barra.
" lir jangan mesra di Depan kami dong". ucap Ratih yang selalu baper.
" maaf". alira melerai pelukan nya ia reflek langsung memeluk suaminya.
" kapan kalian semua ke sini,"
" sejak tadi pegel tungguin kamu lir lama amat". gerutu kennu lalu ia di pukul sama Amel.
" sakit sayang". Amel melotot ke arah kennu karena memanggil sayang.
Alira langsung memeluk ketiga sahabat nya itu Amel, Nita dan Ratih. Alira menitikkan air mata, namun air mata kebahagiaan.
" jangan sedih lagi ya kamu harus bahagia, ada kamu yang selalu mendampingi mu lir. dan kamu lihat ustadz barra sangat menyayangi mu semua ini ustadz Barra yang menghubungi kami". alira mengusap air matanya senang ia melihat ke arah barra yang bersama kennu dan teman laki-laki lainnya sudah beranjak ke meja makan.
" aku tak menyangka pernikahan ku sama mas barra akan indah begini, kalian benar mas barra sangat menyayangi ku". alira mengusap air matanya.
" nah kan apa ku bilang dulu kalian benar-benar berjodoh ".
" tapi aku tetap merasa bersalah, ustadz Barra terpaksa menikahi ku". ..
" tapi cintaku untukmu tak terpaksa sayang". celetuk barra saat mendengar ucapan alira.
" cie...cie... ustadz bucin". ucap teman-teman nya semuanya pun tertawa.
" ayo makan dulu aku lapar" teriak kennu.
" astaghfirullah kennu..." Amel gemas dengan calon suami nya itu.
Barra melayani Alira ia mengambilkan nasi dan lauknya, yang lainnya jadi mesam mesem melihat ustadz barra yang begitu tak kaku memperlakukan alira dengan baik.
" Ratih kamu bisa libur". tanya alira.
__ADS_1
" Alhamdulillah aku udah pindah kerja, dan aku di beri izin libur hari ini sama bos besar demi menyenangkan istrinya".
" baik sekali bos mu itu ya, semoga ia bahagia selalu ".
" aamiin " ucap semua sembari terkekeh.
" tak hanya itu, aku bisa kerja sip dan tahun depan aku bisa mendaftar kuliah."
" masyaallah baik sekali sih bos mu Ratih, kamu bisa kenal dia dari mana. jadi penasaran siapa orangnya ". ucap Alira ia sembari makan.
" mau tau apa mau tau banget".
" mau tau aja sih, di jaman sekarang jarang ada orang yang seperti itu".
" Namanya ustadz Barra Al Rasyid "
" kok sama namanya kayak mas Barra " kata alira.
" ya emang ustadz Barra orangnya suami mu". celetuk kennu tak tahan dari tadi Ratih hanya basa basi saja.
" mas". alira menoleh ke arah barra yang sedang makan.
" hemmm..." hanya itu ucapan bara.
" kamu yang serius Ratih memang nya mas barra punya usaha apa, yang aku tau sejak dulu mas barra itu guru madrasah dan seorang ustadz ".
" hadeh nyai satu ini suaminya kaya ngga tau dia, supermarket berokah yang ada di kota dekat kampus kita itu punya ustadz barra kok kamu belum tau sih,"
" bener mas". alira menoleh ke Barra lagi meminta penjelasan.
" sebenarnya bukan punya mas tapi punya Abi, mas pegang alih setelah mas menikah sama kamu". kata barra.
" apalagi sih yang aku ngga tau tentang mu mas." alira penasaran.
" ngga ada yang lain sayang, aku tetap barra suamimu".
" guru kami". ucap Amel semua terkekeh.
" lanjutkan ngobrolnya nanti makan dulu tak baik banyak bicara di meja makan". kata Barra kemudian.
Hanya terdengar suara adu sendok dan piring serja terkadang air yang di tuangkan ke gelas. tapi alira masih berfikir apalagi yang suaminya simpan yang sama sekali ia tidak tau.
__
__ADS_1
bersambung