Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 28


__ADS_3

Akhirnya mereka sampai ke rumah kontrakan yang di sewa oleh Barra. Barra memarkirkan motornya ada sedikit celah untuk menyimpan motor. Barra membukakan pintu alira pun ikut masuk, rumah minimalis. Barra sudah melengkapi dengan berbagai peralatan rumah tangga. Barra berusaha membuat rumah itu menjadi nyaman, Alira melihat lihat semua ruangan.


" ini kamar kita Ra, saksi di mana kita nanti akan membuahkan hasil". Barra tersenyum alira memukul lengan barra. Wajah alira pun merona merah seperti kepiting rebus.


" mau istirahat dulu atau mau langsung..." ucap ustadz Barra ia menggoda alira.


" langsung kenapa ustadz" alira mengerutkan keningnya tak maksud dengan apa yang barra ucapkan.


" ya itu langsung itu ..." barra garuk-garuk kepala. alira pun terkekeh suaminya lucu saat seperti itu.


Alira membuka jendela di mana di bawah jendela ada sela sedikit di antara pagar ada bunga-bunga yang menambah kenikmatan mata untuk di pandang. Barra mendekat ia memeluk alira dari belakang, alira kaget. Namun barra masih mempertahankan pertahanan nya.


" Ra kita harus terbiasa dengan semuanya, dengan sentuhan-sentuhan karena cinta berawal juga dari sentuhan. ini halal Ra semua yang kita lakukan adalah ibadah tak perlu takut lagi dengan dosa-dosa". alira hanya diam saja ia memejamkan mata menikmati pelukan Barra tangannya mengusap tangan barra yang melingkar di pinggang nya kini respon sudah alira berikan.


" Bolehkah aku memiliki mu seutuhnya Ra." ucap Barra namun lagi alira tetap diam. ia bingung menjawab dan juga malu.


Barra terus memberikan sentuhan-sentuhan lembut, alira memejamkan matanya merasakan sentuhan yang barra berikan. menarik sisi dewasa alira, darahnya pun berdesir merasakan ciuman barra di bahunya dan kepalanya.


" Ra aku mencintaimu". alira tetap diam, Barra pun akhirnya frustasi alira tak membalas setiap sentuhan juga tak menjawab semua ucapannya. Barra lalu menarik dirinya untuk mundur di lepaskan nya tangan yang memeluk alira, namun alira menahannya ia tau jika Barra frustasi. alira menahan tangan Barra yang merengkuh pinggangnya.


" biarkan sejenak ustadz." ucap alira, barra pun tersenyum ia senang alira akhirnya bersuara.


" Ra bolehkan aku...."


" krukh...." suara perut cukup keras, alira nyengir ia lapar.


" kamu lapar Ra". alira mengangguk.


Barra lalu menggandeng tangan alira, belum ada apapun di dapur kulkas juga belum ada apa-apa.


" kita makan di luar yuk sekalian belanja, di rumah belum ada apa-apa". ucap barra ia memakaikan helm di kepala alira.


" iya ustadz..."


" Ra bisakah panggilan itu kamu rubah, jangan panggil ustadz lagi kamu bukan murid ku sekarang kamu istriku Ra. aku mau kamu memanggil ku dengan sebutan mas biar lebih lembut di dengar." kata barra.


" masih kaku ustadz belum terbiasa ". ucap alira ia mulai duduk di boncengan motor barra, Barra lalu menoleh.


" Maka dari itu coba di biasakan Ra, coba kamu panggil mas".


" mas Barra ". kata alira.


" Nah terdengar manis kan, aku tak begitu terlihat tua jika kamu panggil mas." alira mencubit pinggang Barra.

__ADS_1


" aduh istriku ini suka bener cubit-cubit". Barra kemudian melajukan motornya hingga ke tempat makan pinggir jalan, gado-gado kesukaan barra.


" kamu suka tak makan gado-gado, ini makanan kesukaan saat di pesantren".


" suka" ucap alira meskipun alira tak begitu suka.


" Bu pesen dua porsi ya jangan terlalu pedas." Barra memesankan dulu alira memilih tempat duduk yang dekat dengan kipas angin siang itu cuaca cukup panas.


" loh inikan ustadz barra keponakan ustadz Yusuf kan" ada salah satu pelanggan yang mengenal barra namun barra tidak mengenalnya.


" iya Bu betul, ibu tau saya."


" tau ustadz barra kan pernah ngisi kajian gantiin ustadz Yusuf di masjid Al iman." jelas ibu-ibu itu.


" oh iya Bu saya ingat ".


" Sama adiknya ya ustadz ". Barra meringis, alira menahan tawa terlihat tua sekali barra suaminya.


" bukan Bu itu istri saya." ucap Barra mengenalkan alira, alira menangkupkan tangannya karena jauh ia tak ingin berdiri lagi.


" istri, kapan ustadz menikah". tanya ibu itu penasaran.


" satu minggu yang lalu Bu".


" Alhamdulillah iya Bu, barra permisi ya Bu pesanan saya sudah selesai."


" oh iya silahkan ustadz, saya masih menunggu sebentar lagi". barra mengangguk kemudian ia menyusul alira duduk menunggu pesanan.


" kenapa kamu tertawa ra, seneng aku terlihat tua ". ucap Barra. alira menahan tawanya, ia menutup mulutnya.


" ngga ustadz bukan itu".


" Ra..." barra mendelik.


" iya mas Barra maaf ". panggilan mas untuk Barra sedikit mulai alira ucapkan.


" biasakan ya, ". alira mengangguk.


Pesanan mereka telah sampai, mereka langsung melahapnya karena memang sudah terlalu lapar. dengan es jeruk manis sebagai minuman yang dipesan barra.


Barra mengusap dagu alira ada sedikit makanan yang menempel, adegan itu cukup mesra. Barra tersenyum lalu di balas senyuman oleh alira. Hampir satu jam mereka ada di sana, lalu setelahnya mampir ke galeri di mana tempat itu menjual baju-baju muslim.


" kenapa ke sini mas, mau cari apa".

__ADS_1


" cari baju Ra, bukan gado-gado". alira meringis barra menjawab dengan seenaknya.


" ada yang bisa saya bantu pak". ucap penjaga toko.


" Carikan gamis yang cocok untuk istri saya, tertutup longgar tidak tipis sekalian jilbabnya ya". ucap Barra.


" Baik pak, mari silahkan mba." penjaga toko itu melihat alira dari atas sampai bawah.


" alira masih punya baju mas, kenapa beli lagi".


" udah ngga papa." barra menarik Alira ia menggandeng tangan alira masuk mengikuti penjaga toko.


Di pilihnya oleh barra lima gamis lengkap dengan jilbabnya yang lebar menutupi dada.


" kenapa beli banyak mas". ucap alira ia merasa tak enak mengingat suaminya hanya guru yang masih mengabdi di madrasah.


" ngga apa-apa, aku ingin membelikan mu hadiah. terima ya."


" mba harusnya seneng dong di belikan gini sama suami kalau saya sudah jingkrak-jingkrak mba". ucap penjaga toko alira hanya tersenyum.


Pakaian itu kemudian di bungkus, Barra kemudian lanjut melajukan motornya ke supermarket ia akan membeli kebutuhan dapur. Di ambilnya semuanya, karena alira tak cukup mengerti Barra yang memimpin belanja saat itu.


" Ra ambil yang kamu mau, cemilan atau minuman untuk mengisi kulkas Ra."


" ini cukup mas".


" kenapa.." barra meraih pinggang alira.


" ngga apa-apa sudah cukup kebutuhan dapur mas".


" jangan takut aku tak kuat bayar Ra, ambil semua yang kamu mau". ucap barra.


" uang yang aku miliki halal Ra, jangan takut jika kita tak makan besok Allah sudah menjamin rezeki kita Ra."


" bukan itu maksud alira mas, kita harus hemat mas barra kan masih guru mengabdi di madrasah." Barra tersenyum, pasti itu kekhawatiran alira.


" Aku masih punya tabungan jangan takut ya aku akan berusaha memenuhi kebutuhan mu maksimal. sudah ayo belanja lagi, kita harus punya banyak nutrisi untuk proses produksi". alira kembali mencubit pinggang Barra.


" Sakit Ra...awas ya nanti di rumah aku balas." alira nyengir mereka lanjut berbelanja.


___


bersambung

__ADS_1


__ADS_2