Ajari Aku Ustadz

Ajari Aku Ustadz
Part 73


__ADS_3

Keindahan yang ingin selalu di rasakan setiap pasangan, duduk bersila berhadapan menyimak bacaan lalu mengoreksinya. Hal yang alira rindukan setiap hari, belajar bersama suami tercinta. barra begitu sabar mengajari alira, terhadap fasih nya bacaan dan hukum tajwidnya. kini juga alira sudah hafal tiga juz Alquran alira sangat senang.


" tambah panjangnya sayang, jangan di perpendek hanya untuk mempercepat bacaan. enam harakat ya pelan saja asal benar, agar bacaan kita merasuk ke dalam qalbu meski tidak tau artinya." kata barra.


" iya mas ". alira lalu mengikuti arahan Barra.


Setelahnya barra akan menyimak hafalan alira tak lupa setelahnya untuk murajaah atau mengulang hafalan. Jika selesai tak lupa barra mencium istrinya itu dan di peluk tak lupa mengucapkan pujian supaya alira semangat.


" Alhamdulillah bacaannya sudah bagus sayang, kamu memang pintar. dulu sejak sekolah sebenarnya kamu pintar tapi kenapa malas belajar hmmm..." barra menarik hidung Alira.


" malas saja mas aku lebih senang bermain ".


" jangan gitu kasihan Abah sama emak udah cari biaya untuk sekolah kamu malas untuk belajar ". ucap barra ia melepaskan mukena alira.


" sekarang alira sadar mas, dulu memang alira malas sekali belajar lebih suka nongkrong sama temen-temen ".


" mumpung kita masih di beri kesempatan untuk belajar pergunakan waktu dengan sebaik mungkin, nyatanya ketika kamu belajar kamu bisa pintar gini. baru berapa bulan kita menikah kamu sudha hafal tiga juz". ucap barra.


" itu karena mas barra telaten ngajarin alira, ustadz pribadi alira."


" ustad plus-plus ". ucap barra, alira tertawa.


" kenapa pakai plus mas".


"aku juga ngajarin kamu semuanya dari nol murni hingga di ranja** pun harus di ajarin." alira tersipu malu.


" mas jangan bicara soal ini di sini kasihan pembaca nanti jengah".


" eh iya lupa maaf ya pembaca kebablasan ".


" mas butik sekarang ramai banyak yang minta desain baru dari alira." ucap Alira mereka bergerak naik ke ranjang.


" ingat mas ngga mau kamu lelah, kamu bekerja bukan untuk memenuhi kebutuhan karena mas yang akan penuhi kebutuhan mu. fokus sama kehamilan mu ini, boleh buat desain tapi jangan terlalu terforsir sayang nanti kamu bisa stres mas ngga mau." barra merajuk di letakkan nya kepalanya di paha alira yang sedang duduk.


" iya mas, alira akan pelan-pelan saja selesaikan desainnya ".


" kamu sukses usaha kamu maju, tapi jika kamu tak bisa mengurus keluarga dengan baik untuk apa. mas butuh kasih sayang mu, mas tak mau berkurang sedikitpun sayang ". ucap Barra.


" kenapa mas barra sekarang bucin." kata alira.


" mas lagi sayang-sayange, sama istri gini perlu sayang biar bertambah erat hubungan kita."


" iya mas maafin alira yang belum bisa seperti yang mas mau."

__ADS_1


" bukan itu mas menyukai mu segalanya, cewek yang dulu bar-bar gini bisa bikin mas jatuh cinta sampai klepek-klepek ". alira tertawa.


" jangan bohong mas dosa Lo".


" kenapa ngga percaya belahlah dadaku sayang." alira tertawa. Bilal kaget saat merasakan perut alira bergoyang.


" anak Abi mau ikut nimbrung juga ya nak, Abi bacakan shalawat ya bobo yang anteng." alira mengusap kepala suaminya barra mulai membacakan shalawat untuk perut alira yang tampak buncit.


___


Nita berjalan menapaki kampus yang cukup besar, si cewek satu ini yang baru saja bisa mengendarai motor memang belum pernah dekat dengan siapapun. hampir sebelas dua belas dengan alira tapi ia masih bucin jika lihat cowok tampan, namun jika ada yang mendekati Nita melempem seperti kerupuk.


Sembari menunggu kelasnya masuk Nita duduk dulu di bawah pohon, mereka satu geng namun saat kuliah mereka mengambil jurusan yang berbeda sesuai yang mereka inginkan. Nita masih membuka bukunya sejenak ia memang paling suka belajar di antara teman satu gengnya.


" Boleh aku pinjam bolpoin nya sebentar ". ucap lelaki yang kemudian duduk di samping nya. Nita tak menjawab ia langsung saja memberikan nya, tak tau juga itu siapa.


" terima kasih ya." Nita mengerut kan keningnya seperti nya ia mengenal siapa laki-laki itu.


" kak Marvin ." teriak Nita, Marvin tertawa.


" aku kira kamu lupa sama aku dek". ucap Marvin kembali ia duduk.


" bagaimana aku bisa lupa sama kakak meski udah lama kakak tak pernah hubungi Nita." ucap Nita senang.


" lalu kakak di sini." tanya Nita kemudian.


" kakak mengajar di sini dosen baru, ".


" masyaallah kakak jadi dosen, kok bisa." ucap Nita terkejut.


" ya bisa dong, kakak suka mengajar dari dulu." ya Nita tau, saat mereka kecil mereka selalu bermain sekolah-sekolahan.


" kakak sekarang tinggal di mana." tanya Nita penasaran pasalnya rumah Marvin dulu sudah di jual.


" kakak tinggal tak jauh dari tempat mu, komplek sebelah ". Nita tersenyum.


" ternyata kamu cantik juga besarnya dulu kakak tinggal masih ingusan." Nita memukul lengan Marvin.


" Nita sudah besar kak sudah bisa buang ingus sendiri." Marvin pun tertawa ia mengusap kepala Nita yang terbalut jilbab itu sudah menjadi kebiasaan saat dulu Nita masih kecil.


" sudah berapa lama pulang kak ke sini kok ngga main ke rumah Nita , ayah dan ibu pasti seneng".


" kakak, papa sama mama sudah main ke rumah mu tapi kamu pas ngga ada".

__ADS_1


" kok ibu ngga bilang ya." Marvin tersenyum.


" Maaf kakak sengaja bilang ibu agar ngga ngasih tau kamu ". Nita mengerutkan keningnya.


" kenapa kak issshhh....".


" mau kasih kejutan buat kamu ." Nita cemberut.


" kok cemberut".


" kakak ngga adil sama Nita, males ah."


" jangan marah dong iya kakak minta maaf, senyum biar cantik ". Nita akhirnya pun tersenyum.


" nah gitu cantik kan, itu yang bikin kakak kangen."


" maksudnya".


" gigi gingsulmu itu Lo dek bikin kakak ngga bisa move on."


" kakak lebay." Nita memukul lengan Marvin.


" serius buktinya kakak cari kamu lagi ke sini". Nita tersenyum lagi-lagi hatinya berbunga-bunga cinta masa kecilnya hadir kembali, tapi Nita ngga tau apakah cinta itu akan bertepuk sebelah tangan karena Nita juga tak bisa move on dari Marvin.


" ya udah kak Nita masuk dulu ya sebentar lagi kelas mau mulai."


" oke cantik, nanti pulang bareng kakak ya."


" Nita bawa motor kak".


" kamu emang bisa naik motor."


" bisa dong, Nita ngga langsung pulang mau ke butik. kalau pas ngga kuliah Nita bantu temen Nita di butik.".


" oh ya sudah hati-hati ya dek, itu nomor kakak yang mengirim mu pesan semalam."


" astaghfirullah jadi itu kakak, isshhh...." Nita memang semalam tak membalas pesan Marvin


" kamu masih sama dari dulu ya". kembali Marvin mengusap kepala Nita lalu Nita masuk ke kelas.


__


bersambung

__ADS_1


__ADS_2